Entah kenapa saat melihat kamu tertawa bahagia bersamanya, hati ini merasa tidak ihklas. Apa mungkin aku mulai mencintaimu?
-Adinda-
Sinta langsung membawa Adinda ke kelas. Ia mengambil kursi dan menatap Adinda dengan serius.
"Din, kamu jangan semena-mena sama Hans," ujar Sinta, suaranya tegas. "Dia terkenal sebagai preman di kampus ini. Orang-orang di sini takut padanya. Aku khawatir dia akan menyakitimu."
"Oh, jadi nama pria menyebalkan itu Hans? Nama bagus, tetapi kelakuannya, astagfirullah," cibir Adinda, tampak meremehkan.
"Din," Sinta melanjutkan, "aku sangat menghargai keberanianmu, tetapi kamu harus berhati-hati. Tidak ada yang ingin melihat kamu terluka, termasuk aku. Mungkin kamu merasa kuat, tapi dia bukan tipe yang bisa dianggap enteng."
Adinda menghela napas, tetapi tetap berpegang pada pendiriannya. "Sinta, ngapain takut? Orang seperti dia harus diberi pelajaran. Biar kapok!"
Sinta menggelengkan kepala, merasa khawatir. Anak ini keras banget, pikirnya. "Kalau aku tahu dia preman, sudah aku bejek-bejek," lanjut Adinda, menatap penuh semangat.
"Bar-bar banget si kamu, Din. Aku kira kamu itu polos," ucap Sinta, masih mencoba meyakinkan Adinda.
"Oh, namanya Adinda," ucap seorang pria berkulit putih, yaitu Hans.
Adinda membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Hans. "Apa lo!?" tanyanya, nada suaranya menantang.
"Ck... Cantik, kamu tidak boleh ketus sama pria tampan. Oh ya, nama kamu indah, tetapi orangnya lebih indah," ujar Hans, hampir menyentuh dagu Adinda.
"Ga mempan!" seru Adinda sambil membuang wajah.
"Asal kamu tahu, baby, kamu adalah wanita yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Hans dengan senyum yang menyeramkan, membuat Adinda menatapnya bingung.
"Kamu menyukaiku?" tanya Adinda, masih terkejut.
"Iya, aku menyukaimu," jawab Hans.
"Terima kasih atas informasinya. Dan maaf, kamu bukan tipe saya," ucap Adinda, lalu pergi diikuti oleh Sinta.
"Kau membuat saya penasaran, dan saya akan mengejarmu serta mendapatkanmu," ucap Hans dengan nada sinis.
Adinda pergi bersama Sinta, Dan
Adinda menghentikan langkahnya dan menatap Sinta. "Kantin di mana?" tanyanya.
"Kamu lapar?" tanya Sinta kembali.
Adinda mengangguk. Sinta langsung menarik tangan Adinda dan membawanya ke taman belakang kampus.
"Kamu tunggu di sini, oke?"
Adinda mengangguk lagi.
"Nunggu apa si? Sin?" tanya Adinda, sedikit bingung.
"Bentar. 8 detik lagi," jawab Sinta sambil melihat arloji di tangannya. "1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8..."
"Dek, maaf ya, aku telat sedikit," ucap seorang pria yang mengenakan tuxedo gold yang baru saja datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Ficción General🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
