Rafka berdiri di depan Adinda, wajahnya memancarkan kemarahan yang terpendam. "Dari mana saja kamu?! Hah!?" tanyanya, suara penuh emosi.
"Maaf....tadi a... aku..." Adinda mencoba meraih kata-katanya.
Di dalam hati, Rafka berjuang melawan kekesalan yang membara.
"Gak, Raf. Lo jangan emosi, pikir dengan positif," batinnya.
"Maaf, tadi Ridho kemari. Dan aku tidak enak jika harus menyuruhnya pulang," jawab Adinda dengan jujur, matanya menatap Rafka penuh harap.
"Ridho lagi? Kenapa harus dia? Asal kamu tahu, Din, aku cemburu," ucap Rafka dalam hati, sementara senyum di wajahnya mulai memudar.
Rafka menghembuskan nafas berat, mencoba mengendalikan perasaannya sebelum menatap Adinda. "Kamu sudah makan?" tanyanya.
Adinda menggeleng.
"Yasudah, ikut saya," ajak Rafka, menggandeng tangan Adinda menuju meja makan.
Saat Adinda melihat makanan kesukaannya terpajang di depan matanya, ia langsung duduk dan memandang Rafka dengan penuh rasa syukur. "Kamu yang buat? Kok tahu kesukaanku?" tanya Adinda, terkesima.
Rafka duduk di sebelah Adinda, senyum manis menyapanya. "Karena saya suamimu. Masa nggak tahu sih kesukaan istri sendiri?" jawab Rafka, membuat Adinda tersipu malu.
"Andai kamu tahu, Mas, aku sangat bahagia saat kamu mengatakan aku adalah isterimu,"batin Adinda.
"Aku coba ya," ucap Adinda seraya mulai mencicipi ayam surundengnya.
"Bagaimana? Enak?" tanya Rafka, memperhatikan raut wajah Adinda yang begitu mengagumkan.
Adinda mengangguk penuh semangat, menikmati semua makanan yang Rafka buat. Rafka membulatkan matanya melihat Adinda makan dengan lahap tanpa menyisakan untuknya. Ia sangat mengharapkan perhatian itu, menginginkan agar Adinda mengajaknya makan bersama.
Adinda menyandarkan tubuhnya di kursi, mengusap perutnya yang kenyang. "Duh, kenyang banget," ujarnya, merasa puas.
"Yasudah, Mas. Dinda mau ke kamar dulu m—" ucapan Adinda terhenti saat Rafka memegang tangannya dengan lembut.
"Kamu menghabiskan semuanya tanpa menawariku. Saya yang masak, kamu yang habiskan!" ucap Rafka dengan nada bercanda, meskipun di dalam hatinya tersimpan rasa kecewa.
"Y... Yakan itu punyaku. Dan itu makanan kesukaanmu," jawab Adinda, sangat malu mengatakannya.
Kriuk.. Kriukk kriukk.
Adinda mendengar suara perutnya keroncongan, dan ternyata itu adalah suara perut Rafka.
"Saya belum makan. Karena saya menunggumu," ucap Rafka, menatap Adinda dengan tatapan penuh pengertian, membuat Adinda merasa bersalah.
"Maaf. Yasudah, sebagai gantinya, bagaimana kalau aku buat bakso bakar dan kuah untukmu?" tawar Adinda, berusaha menebus culpanya.
"Emang kamu bisa?" tanya Rafka, dengan nada setengah serius, sedikit meremehkan.
"Kau meremehkanku? Hah?" tantang Adinda, mendekati wajah Rafka, dan jantung Rafka berdenyut kencang.
"T... Tidak, aku hanya b... bertanya," jawab Rafka gugup, terpesona oleh kedekatan mereka.
"Ok. Sekarang kamu duduk, aku buatkan sekitar tujuh puluh menit," ujar Adinda dengan semangat.
"Oke. Saya tunggu," jawab Rafka, melihat Adinda beraksi dengan perhatian penuh. Meskipun harus menunggu sangat lama, baginya.
Adinda mulai mengolah bakso dari awal, tidak sekadar membeli yang sudah jadi. Ia mengambil bawang kering untuk topping kuahnya, bersyukur karena selalu menyimpan bahan-bahan yang diperlukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Tak Pernah Selesai
Fiksi Umum🚫DiLARANG PLAGIAT! 🚫 JIKA ADA KESAMAAN TOKOH. MOHON MAAF BUKAN DI SENGAJA. Adinda dan Ridho. Dua sahabat yang saling mengerti dalam diam, saling menyimpan rasa tanpa pernah benar-benar berani mengucap. Tapi takdir memaksa mereka mengambil jalan b...
