(END-Compeleted)
Tentang Victor yang kekasihnya di kabarkan meninggal satu tahun lalu, namun kematian nya masihlah menjadi misteri yang tidak bisa di ungkap, dan juga tentang kemunculan Alio sebagai murid baru yang wajahnya sangat mirip dengan kekas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Untuk cinta, yang tidak mungkin dilakukan bisa menjadi mungkin."-Adrian.
****
Saat ini Alio tengah menunggu bus di halte, ia sesekali mengusap keringat di pelipisnya karena cahaya matahari yang begitu terik, wajar karena hari sudah menunjukkan pukul 02:10 siang, motor Alio masih disita oleh Ayahnya, entah kapan pria setengah paruh baya itu akan mengembalikan motor merah kesayangannya.
Alio mengeluarkan earphone dan ponselnya, lalu ia memakaikan earphone-nya di telinga dan menyetel lagu Shwan Mendes yang berjudul There's Nothing Holding Me Back.
Tiba-tiba seseorang menarik salah satu kabel earphone di telinga kirinya, Alio menoleh dan mendapati Victor yang memasangkan earphone miliknya di telinga kanan laki-laki itu.
"Apaan sih," kata Alio jutek sambil menarik kabel earphone miliknya dari telinga kanan Victor.
"Lagian lo, asik sendiri sampai nggak nyadar kalo gue manggil," ucapnya sambil mencopot earphone dari telinga kanan Alio.
"Buat apa manggil?" tanya Alio ketus.
"Mau ajak pulang bareng, kasihan gue sama lo panas-panasan gini." Victor mengibaskan tangannya di depan wajah Alio, menjadikan tangannya sebagai kipas untuk Alio.
Alio menepis lengan Victor. "Biasa aja kali, lebay banget baru juga panas segini."
Victor menarik pelan lengan Alio, dan membawanya ke mobilnya. Victor membuka pintu mobilnya dan mendorong Alio untuk masuk ke dalamnya.
Alio heran sendiri, begitu Victor sudah duduk di kursi kemudi, Alio segera bertanya. "Kok tumben bawa mobil?" tanyanya.
"Kalau gue bawa motor, nggak mungkin gue ajak lo pulang bareng, lagian gue juga jemput Adek gue," ucap Victor sambil menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang membelah kota Jakarta. Alio melirik sinis Victor. "Gue nggak minta lo buat anterin gue pulang."
Kini Victor memutar bola matanya jengah. "Bodo amat, yang penting gue yang pengen anter lo pulang." Tidak ada balasan dari Alio, Alio membuka ponselnya dan sibuk dengan ponselnya, ia menoleh ke depan begitu Victor menghentikan mobilnya di depan sekolah SMP Angkasa. "Tunggu sini atau ikut keluar?" Tanpa menjawab Alio sudah membuka pintu mobil dan berdiri di depan pintu mobil. Victor terkekeh kecil dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Alio. "Dasar, jutek banget jadi cewek, tapi gemesin sih."