(END-Compeleted)
Tentang Victor yang kekasihnya di kabarkan meninggal satu tahun lalu, namun kematian nya masihlah menjadi misteri yang tidak bisa di ungkap, dan juga tentang kemunculan Alio sebagai murid baru yang wajahnya sangat mirip dengan kekas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sayangnya, tidak akan ada rahasia yang bertahan selamanya."
****
Kini semua sudah kembali ke Jakarta pukul 06:10 pagi, berangkat dari Bogor pukul 05:00, begitu sampai di rumah masing-masing, semuanya langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah, karena ini hari Senin jadi seperti biasa sekolah akan melaksanakan kegiatan upacara pagi.
Alio masih berada di kelasnya, ia memeriksa tasnya beberapa kali tetapi ia tidak bisa menemukan topinya, peraturan di SMA Perjuangan sangat ketat, bila tidak membawa salah satu atribut upacara maka akan dihukum, Alio berdecak kesal memikirkannya.
Tok tok
Pintu kelas diketuk oleh seseorang, berhubung hanya ada Alio di kelas, jadilah Alio mendongkak untuk melihat ada siapa di pintu. "Victor?" beo Alio begitu melihat Victor yang berdiri di ambang pintu.
Victor tersenyum dan menghampiri Alio. "Kenapa belum ke lapangan?"
Alio menghela napasnya. "Gue lupa bawa topi," kata Alio dengan lesu.
Victor mengusap puncak kepala Alio, lalu memakaikan topi yang dipakainya untuk Alio. "Pake topi gue aja," katanya.
"Terus, lo gimana?"
"Dihukum itu makanan sehari-hari gue, tapi gue nggak mau kalau cewek gue yang dihukum," ucap Victor menatap lekat wajah Alio.
Alio menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, ia begitu senang saat mendengar ucapan Victor, tapi gue nggak mau kalau cewek gue yang di hukum, perkataan itu seperti terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
Victor menarik dagu Alio agar menatapnya. "Nggak usah ditutupin, seoalnya gue suka liat lo merona karena gue, gemesin."
Lagi-lagi ucapan Victor membuat rona di wajah Alio semakin pekat, Alio segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia kesal sekaligus senang diperlakukan seperti itu oleh Victor.
Melihat tingkah manis Alio. Victor tidak bisa menahan rasa gemasnya kepada gadis di depannya, dengan segera Victor mengecup pipi Alio lalu berlari ke lapangan meninggalkan Alio yang berdiri mematung di kelasnya. Alio memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, rona merah di pipinya kembali muncul. "Sialan, dasar Victor!" gerutunya, tetapi bibirnya menampilkan senyuman.