"Kalian disini bukan manusia," ujar pria itu pelan. "Kalian gak lebih dari objek percobaan."
"Lepas!"
"Hyung!" Jisung memanggil Jaemin dengan panik ketika mendengar suaranya. Dengan segenap kekuatannya, Haechan memeluk Jisung.
"Ketika kalian masuk k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Renjun memeluk erat tubuhnya, mengeratkan jaket yang tadi ia sempat ia pakai sebelum pergi meninggalkan rumah. Jeno pasti akan marah besar begitu tahu dia nekat pergi menemui papanya. Ralat, bukan hanya Jeno yang akan marah, yang lain juga pasti ngamuk besar.
Renjun tak tahu apa yang membuatnya setuju untuk bertemu papanya. Sendirian, di jam seperti ini. Orang itu sangat berbahaya. Mungkin, mungkin saja, jauh dalam lubuk hatinya, ia percaya masih ada papanya di dalam pria itu. Bahwa mungkin papanya masih sayang dan peduli dengan dirinya.
Ia percaya papanya takkan menyakiti dirinya.
Ia harap rasa percayanya ini tidak salah.
Merogoh kantung jaketnya, Renjun berusaha mencari ponselnya, namun tak kunjung menemukan benda kecil itu. Ia mengerang kecil. Ia tidak bisa menghubungi Jeno kalau tiba-tiba terjadi sesuatu pada dirinya. Renjun memukul kepalanya sendiri, menyadari kebodohannya.
Kedua kakinya berhenti di depan gerbang sekolah. Seorang pria, seperti yang dijanjikannya, berdiri di depannya. Renjun melihat sekelilingnya. Ia masih tidak sepenuhnya percaya pada papanya.
"Renjun," panggil pria itu, menyita perhatian Renjun.
"Kenapa? Ada apa?" balas Renjun dingin.
Pria itu menundukkan kepalanya. Matanya nampak tak berani menatap putra semata wayangnya itu. Renjun dapat melihat tangannya bergetar hebat.
"Kamu udah makan?" tanya pria itu akhirnya.
Renjun hanya mengangguk sebagai balasan.
"Makan apa?"
"Papa kesini ngajak ketemuan bukan untuk nyari tau aku makan apa tadi kan?" potong Renjun dingin. "Langsung aja ke intinya."
Raut pria itu nampak terluka mendengar balasan putranya. Namun Renjun tak peduli.
"Kamu harus segera pergi," ujar papanya. "Mereka akan segera menemukan tempat kalian."
Kening Renjun menyerngit bingung. Pria itu kemudian maju mendekati Renjun, membuat Renjun panik dan buru-buru mundur selangkah. Pria itu menatapnya dengan sedih. Ia kemudian berhenti beberapa meter di depan Renjun dan meletakkan sebuah tas punggung.
"Di dalemnya ada uang, cukup untuk kalian semua 3 bulan," ujarnya lagi.
Pria itu kembali berjalan mundur.
"Jangan lupa makan. Istirahat yang cukup."
Renjun menatap tas itu dengan dingin.
"Kenapa?"
Ia kembali menatap papanya dengan geram.
"Kenapa papa sok peduli sama aku? Kenapa papa repot-repot kesini cuma untuk bawain aku uang dan nanyain keadaan aku?! Kenapa papa sok baik sama aku?!" Renjun berteriak, tanpa sadar air matanya menetes.