42

4.8K 181 0
                                        

Adinda membuka matanya dengan cepat dan langsung duduk di tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dan melihat banyak notifikasi dari orang tuanya dan Rafka. Namun, bukannya membalas pesan-pesan tersebut, ia malah memutuskan untuk memblokir nomor Rafka.

"Loh, Tan. Ridho mana?" tanya Adinda, melihat Ayu, ibunda Alfa, duduk seorang diri di meja makan.

"Ah, tadi Ridho sudah pulang. Katanya tidak tega membangunkanmu. Dinda terlihat lelah sekali," jawab Ayu, menatap Adinda penuh pengertian.

"Tapi katanya dia mau jemput setelah selesai wisuda," balas Adinda, wajahnya sedikit berkerut.

"Oh ya, baiklah," kata Ayu, berusaha mengalihkan perhatian Adinda dari kesedihannya.

"Oh ya, kata Ridho kemarin kamu nangis. Kenapa, Nak? Mungkin Dinda belum bisa cerita sama Ridho. Tapi sama Tante, mungkin bisa," ucap Ayu lembut, memberikan tawaran pengertian.

Adinda tersenyum tipis, tapi jelas terlihat ada beban di hatinya. "Dinda mau cerai sama suami Dinda, Tante," jawabnya dengan nada bergetar.

"Kamu sudah menikah? Dan kamu akan bercerai?" tanya Ayu tak percaya.

"Iya, Tan. Cerita panjang. Dan saat ini, Dinda mau cerai," jawab Adinda, nadanya penuh keputusasaan.

Ayu membimbing Adinda ke pelukannya. "Sabar, Nak. Kamu bisa melewati masalah ini. Kamu wanita kuat. Tapi menurut Tante, jangan mengambil keputusan yang dibenci Allah. Kamu tahu, perceraian memang dihalalkan, tapi sangat dibenci Allah. Apakah dengan kamu bercerai, semua akan kembali seperti dulu? Belajarlah memaafkan dan menerima kesalahannya. Dengan itu, insya Allah ada jalan keluar. Allah Maha Pem-haf yang selalu memaafkan hamba-Nya. Tante yakin kamu bisa," jelas Ayu, menatap penuh kasih.

"Dinda bingung, Tan. Dinda sudah mencintai suami Dinda. Tapi dia malah mengkhianati aku. Dia menikah di belakangku. Wanita mana yang bisa menerima suaminya menikah lagi di belakangnya?" tanya Adinda, suaranya bergetar penuh emosi.

"Dia tidak baik untukmu! Dia bukan pria baik. Pria baik tidak akan menghianati wanitanya," lanjut Adinda dengan semangat.

"Tante tahu, sayang. Tapi mungkin suamimu melakukan itu karena tidak mau berpisah darimu. Apapun yang dia lakukan, mungkin dia ingin tetap bersamamu," jelas Ayu, mencoba menenangkan.

"Pernyataan Tante ada benarnya juga. Jika Mas Rafka benar-benar ingin berpisah denganku, dia bisa saja dengan mudah mengatakan bahwa dia sudah menikah lagi," batin Adinda.

"Sekarang kamu makan. Tante akan ajak kamu ke kebun teh," ujar Ayu, berusaha mengalihkan perhatian Adinda.

"Tidak, Tante. Terima kasih. Dinda harus bertemu Ridho. Dinda janji pada Ridho akan datang ke kampusnya, harus jadi pendamping Ridho saat dia lulus," jawab Adinda tegas.

"Tante tahu, Nak. Tapi kamu harus makan dulu. Lagian, perjalanan dari Bogor ke Jakarta tidak lama," balas Ayu.

Adinda mengangguk, tetapi dalam hatinya terasa berat.

"Ya sudah, Dinda bawakan makanan buat Tante," kata Adinda, bergegas membawa nasi goreng, sosis, telur, dan sayur ke meja.

"Kamu tahu, dulu Alfa sering sekali membicarakanmu," ucap Ayu, membuat Adinda terdiam sejenak.

"Bahkan saat pertama kali pindah ke Jakarta, Alfa sangat senang sekali," lanjutnya.

"Alfa sahabat Dinda dari sekolah dasar. Maafkan Dinda, Tan. Gara-gara Dinda, Alfa pergi," isak Adinda, tak bisa menahan rasa penyesalan.

Ayu tersenyum lembut. "Itu bukan salahmu, Nak. Itu sudah takdir."

Adinda mengangguk, merasakan kehangatan dalam pelukan Ayu saat ia menyentuh tangan wanita itu.

Cinta Yang Tak Pernah SelesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang