Sorcery Of Raindrops

64 14 5
                                        


Disclaimer : 

cerita ini hanya meminjam nama tokoh idola. Alur cerita murni berasal dari kehaluan penulis. Plus, ini cerita udah lamaaa banget hahaha. Enjoy!

⬇️⬇️⬇️

"Menyebalkan! Kenapa harus turun hujan di jam seperti ini?"

Rengekan bak anak kecil terdengar jelas di depan pintu keluar ruang kuliah. Maklum, jarak setiap gedung setidaknya harus melewati sepuluh hingga lima belas langkah—tergantung panjang kaki. Sebenarnya terbilang pendek, 'kan?

Namun, begitulah. Wanita ... kebanyakan lebih mengkhawatirkan polesan bedak dan lipstik yang melekat di bibir masing-masing. Setitik hujan diperlakukan bak noda. Sungguh tidak adil. Padahal untuk beberapa orang di luar sana, betapa bersyukurnya mereka disapa hujan yang kerap dinanti kehadirannya.

Membuka tali yang mengunci kain berpola bundar tersebut, ada gadis lain yang tak ragu menerobos hujan di tengah gerutuan yang tak berhenti mengusik rungu. Ketika banyak mahasiswi melengkapi bawaan mereka dengan jenis bedak, lipstik dan parfum berbeda merek, dia tidak. Setidaknya ia merasa tidak perlu membawa kebutuhan tersebut selayaknya dia butuh sebuah payung.

Payung, barang wajib yang tersimpan apik dalam tasnya. Cukup sebuah payung lipat kecil dengan motif polos bewarna ungu, mampu mengembalikan kepercayaan dirinya. Tak mengharuskan musim hujan, benda kecil itu tidak pernah luput dibawa. Seperti bentuk kesiapan menghadapi bentuk cuaca yang kadang sulit ditebak. Lagi pula, ia bukan peramal cuaca. 

Kendati demikian, tidak semua orang menilai sama. Tidak sepertinya. Ditambah sikap pendiam yang kerap diartikan pemurung oleh orang lain, perangai sosok berwajah mungil tersebuh malah dinilai ganjil. Bagaimana tidak, bahkan pada saat tidak ada hujan sekali pun, ia selalu mengenakan payung ketika berada di luar ruangan.

Pengecualian malam hari.

Seperti kata pepatah, tidak ada asap bila tidak ada api. Perilaku wanita bermarga Kim itu juga bukan muncul tanpa alasan. Bermula dari daya tubuhnya yang ringkih, sengatan mentari menjadi salah satu kelemahannya. Paparan panas yang tidak disanjung layaknya sahabat. Hanya mampu membuatnya berbaring lemah dalam hitungan hari.

Doktrin yang terus tumbuh dan mengakar kuat seiring dirinya beranjak dewasa. Akibatnya, tida ada alasan baginya melepaskan kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dipandang aneh, itu menjadi efek lain yang harus disesap.

Buk!

Benturan yang tidak disengaja. Sang pria begitu antusias menghindari hujan. Begitu pula dengan gadis berponi samping dengan kesan sederhana yang larut dalam kemesraannya bersama hujan, sama sekali tak menyangka akan bertubrukan di tengah rintik hujan yang mempertemukan keduanya secara kebetulan.

"Maafkan aku."

Tangan ramping itu terulur seturut payung yang terhempas kini dikembalikan padanya.

Pertemuan pertama dan ganjil, menjadi awal keduanya saling mengenal.

                                          ***

"Sendirian lagi?"

Suara lembut dan tak asing menyadarkannya pada kehadiran sosok ramah yang intens dan terus mengikuti.

Kim Taehyung namanya. Pemuda yang memiliki timbre nada agak berat itu sama sekali tidak merasa canggung mengisi kekosongan dan duduk di sebelah gadis yang asik berkutat dengan tugas.

"Masih belum selesai juga?" ulangnya lagi, tapi dengan pertanyaan yang berbeda.

Gadis bernama Sohyun mengangguk dan memerlihatkan seutas senyum tipis.

LOVE LETTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang