Perlahan cahaya itu memudar, hal indah mulai lenyap. Tidak ada yang bisa dibawa untuk rasa bahagia. Bagai seutas tali, Akasa hanya bisa ber-cycle di sana. Terjebak dan sangat sulit merangkak keluar.
Secercah cahaya mulai bersinar. Deepa, seoran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Ra, lagi apa?” tanya Randy yang tiba-tiba ada di belakang Hara.
Hara terperanjat kaget. Bagaimana tidak jika Randy datang tak di undang, pergi tak diantar. Bergegas ia menyembunyikan isi ponselnya. Rupanya gadis itu tengah melihat-lihat foto yang ia ambil berdua dengan Akasa.
“A Randy ihhh!” ucap Hara sambil memanyunkan bibirnya.
“Kenapa, kok kaget sama aku?” tanya Randy dan duduk di samping Hara—di atas kasur.
“Tidak ada perlu disembunyiin juga, aku udah tahu,” sambung Randy.
“Tahu apa A?” tanya Hara pura-pura tidak mengerti kemana arah pembicaraan Randy.
Randy tersenyum jahat. Ia menatap mata Hara lekat. Sontak gadis itu memalingkan mukanya.
“Nah, itu buktinya,” ucap Randy setelah mendapat tingkah Hara yang sesuai dengan keinginannya. “Kamu bukanya tidak tahu ke arah mana omongan aku, tapi kamu hanya berpura-pura tidak tahu, benar bukan?”
Hara hanya diam. Ia lupa jika Kakaknya adalah mahasiswa jurusan psikologi. Hal seperti ini pasti sangat mudah bagi Randy. Kini ia hanya menhembuskan napas. Tidak ada jalan lain selain diam sekarang. Karena percuma juga bicara, pasti kakaknya akan cepat mendapatkan sinyal.
“Aku tidak akan melarang kamu menyukai siapa pun, selagi itu memberikan efek positif untuk—“
“Akasa memberikan efek positif untuk aku,” ucap Hara tiba-tiba.
Randy hanya tertawa kecil. Ternyata adiknya benar-benar jatuh cinta pada sosok Akasa.
“Kenapa A’a tertawa?” tanya Hara.
“Tidak apa. Hanya lucu,” balas Randy.
Si pemilik pertanyaan kembali memanyukan bibirnya. Ia tahu jika kakaknya sekarang sedang memikirkan sesuatu.
“Apa pun akhir dari rasa yang kamu rasakan pada Akasa, aku harap itu yang terbaik,” ujar
Randy lalu berlalu. Ia ke luar kamar setelah membuat Hara bingung. Namun gadis itu tidak ingin mengambil pusing tentang apa yang Randy katakan baru saja. Ia lebih memilih kembali melihat foto-foto di galeri ponselnya.
🕶 🕶 🕶
Sekarang pukul 8 malam. Akasa berada di rumah Hara. Baru saja acara syukuran selesai. Warag sekitar rumah pun sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya tersisa keluarga-keluarga dekat Hara yang membantu untuk bersih-bersih setelah Akasa, dan Akasa juga ada di sana.
Laki-laki berkulit sawo matang itu memang sudah sangat dekat dengan keluarga Hara. Setelah selesai membersihkan rumah, jam 8.30 mereka shalat isya walaupun sudah lewat satu jam yang lalu. Mereka shalat isya berjemaah.
Setelah selesai, sanak-saudara dekat keluarga Hara sudah pulang ke rumah masing, dan sekarang hanya menyisakan angin, Akasa, Hara, Randy dan kedua orang tua Hara. Mereka duduk di ruang tamu sembari menikmati sisa makanan penutup. Tidak banyak, cukup dimakan untuk cemilan setelah berberes. Di temani dengan televisi dan kipas angin.
“Sa, mata kamu gimana?” tanya Abah Hara.
“Ya gitu, Om. Makin hari makin kabur,” ujar Akasa jujur. Ia rasa tidak ada yang perlu disembunyikan ketika berada ditengah keluarga Hara.
“Sudah diperiksa?” tanya Randy.
“Satu bulan yang lalu diperiksa. Kata dokter jika tidak tindakan dalam 2 bulan, aku akan kehilangan penglihatanku untuk selama-lamanya.”
“Lalu? Apa kamu tidak mengambil tidakan lebih lanjut?” tanya Abah Hara.
“Tidak ada Om,” jawab Akasa. Ia tertunduk.
Betapa mirisnya hidupnya sekarang. Kedua orang tuanya meninggal. Ia diperlukan tidak adil ketika tinggal di rumah Hendra dan Rissa. Terlebih ia tidak mendapatkan hak perusahaan dengan adil. Akasa tahu itu, jika Hendra sudah bertidak curang dan mengakuisisi seluruh perusahaan milik ayahnya. Ia sendiri tidak memiliki upaya untuk melawan.
“Kenapa?” tanya Abah Hara lagi
Sedang gadis pemilik nama lengkap Hara Deandra hanya diam. Ia tahu semuanya. Karena ia yang kemaren lusa mengantar Akasa ke dokter. Akasa tidak akan mampu berjalan ke sana seorang diri. Karena itulah Hara menawarkan diri untuk menemani Akasa. Meskipun sudah Akasa tolak berkali-kali. Namun Hara masih saja bersikeras untuk ikut. Tidak ada pilihan bagi Akasa selain mengizinkan gadis itu untuk ikut dengannya.
“Saat itu, aku tidak memiliki uang yang cukup untuk menjalani pengobatan. Terlebih sepertinya jika hanya pengobatan kecil tidak akan berpengaruh banyak nantinya. Aku disuruh untuk operasi dan mengganti kornea mata.” Akasa membuang napasnya sebentar.
“Kalau sudah berurusan dengan donor mata, sudah sangat sulit. Karena jumlah permintaan sangat tinggi dari pada penawaran. Saat ini pun, negara masih bergantung dengan negara lain untuk donor mata,” ujar Akasa lagi sesuai dengan penjelasan dokter 1 bulan yang lalu. “Biayanya juga mahal.”
Abah Hara tersenyum hangat. Ia menepuk pundak Akasa pelan. “Kalau masalah biaya, Om bisa bantu.”
“Ta-tapi Om....”
“Terserah kamu mau menganggap ini sebagai hadiah atau pinjaman. Jika kamu menganggap ini sebagai pinjaman, kamu boleh mengembalikan ketika kamu sudah punya uang. Kondisi kamu yang paling penting, Sa,” ujar Abah Hara dengan sikap kasih sayangnya.
Akasa sangat tersentuh dengan ucapan itu. Ia tidak menyangka jika Tuhan masih mempertemukannya denga orang-orang yang baik. Meskipun desa ini sangat asing bagi baginya.
“Besok kamu pergi ke dokter dan bilang kamu mau menjalani operasi. Biar pihak rumah sakit bisa mencarikan donor untuk kamu secepatnya.”
Suasana malam itu sangatlah hangat. Akasa seperti mendapatkan keluarga baru yang mau menerimanya tanpa mencela.
Hara tidak sadar meneteskan air mata. Lekas ia menyapu buliran putih tu. Netra terfokus pada Akasa dan Abahnya yang begitu dekat. Mungkin Hara terdengar konyol sekarang, namun ia sangat ingin jika Akasa akan terus seperti itu dengan abahnya dengan status Akasa sebagai menantu Abahnya. Halu memang. Tapi Hara benar-bennar mengharapkan hal itu.
Randy menangkap sinyal aneh dari Hara. Lekas ia duduk di samping Hara. Namun adiknya itu tidak bergeming dengan kedatangannya. Randy mendekat ke telinga Hara, “tenang, Akasa pasti akan sembuh,” ujar Randy usil.
Plakkk!
Satu tamparan mulus tidak sengaja mendarat di pipi Randy. Hara tidak sengaja melakukan Itu. tapi sungguh kakanya sudah seperti hantu yang datang tiba-tiba. Tamparan itu ternyata cukup keras. Mampu membuat Randy meringis kesakitan.
“Kenapa aku ditampar Ra?” rengek Randy.
“Lagian kenapa A’a tiba-tiba ada di situ. Salah A randy sendiri sudah bikin aku kaget.” Pembelaan Hara. Karena memang benar, Randylah yang usil.
“Biar kamu gak sedih karena A—“ Hara membekap mulut Randy dengan tangan kanannya.
“Sudah yuk, sudah,” ujarnya dengan tatapan mengintimidasi.
Randy tidak ingin kalah. Siapa pun pasti tahu jika tenaga Randy jauh lebih kuat dari Hara. Ia bersiap untuk memberontak namun Hara kembali berujar, “A Randy berani macam-macam, bakal aku tendang benda pusaka A Randy. Tangan kiriku memang tidak ada, tapi aku masih punya kaki yang kuat.”
Bulu kuduk Randy meremang. Ia lebih memilih diam agar Hara berhenti mengancam dan melepaskan bekaman tangan kanannya di mulut Randy. Akasa dan kedua orang tua Hara hanya tersenyum ketika melihat tingkah kedua kakak-beradik itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.