[𝗙𝗢𝗟𝗟𝗢𝗪 𝗔𝗞𝗨𝗡 𝗔𝗨𝗧𝗛𝗢𝗥 𝗧𝗘𝗥𝗟𝗘𝗕𝗜𝗛 𝗗𝗔𝗛𝗨𝗟𝗨 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗠𝗕𝗔𝗖𝗔]
Serumah dengan ketos yang judesnya kebangetan. Gak kebayang!!
Ini adalah kisah hidup seorang Rembulan Arsyilla yang di takdirkan serumah dengan ketua os...
Di mohon untuk memberikan vote terlebih dahulu agar tidak kelupaan sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini ****** Di puter mulmednya biar nambah ngefeel shay
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•AUTHOR POV•
PINGGANGNYAyang terasa sakit membuat gadis yang tertidur dengan posisi duduk tersebur terbangun. Genggaman tangannya masih setia lada tangan pucat yang terkulai lemah. Bahunya luruh melihat wanita berharga di hadapannya itu tertidur dengan alat penunjang hidupnya. Cairanbening pun meluncur dari kelopak matanya.
Arsyilla mencoba baik-baik saja, tapi ia tidak bisa. Ini terlalu sulit baginya. Fakta mengenai ibunya yang berusaha menutupi segalanya membuatnya kembali menangis.
Wajah ibunya terlihat pucat pasi. Senyum pun bahkan tak terbit dari wajahnya itu lagi. Demi Tuhan, Arsyilla sangat merindukan sosok yang telah melahirkannya ke dunia itu.
Segala doa telah dirapalkannya agar Tuhan tak mengambil ibunya. Keinginannya hanya satu, ingin membahagiakan ibunya itu terlebih dahulu.
"Bangun dong, Mi," lirih Arsyilla. Jarinya setia mengelus tangan ibunya itu.
"Mami gak kangen Arsyilla?"
"Dont you wanna see my face, Mom?"
"Mana mami yang sering ngomelin Syilla dulu?"
"Ayo bangun, Mi. Syilla kangen omelan mami."
"Mami gak mau tau kalau aku udah bisa jatuh cinta sama seseorang lagi?"
"Mami gak seneng sekarang aku bisa lihat papi bahkan meluk papi?"
"Ayo bangun, Mi, biar kita weekend bareng-bareng."
"Aku mau cerita banyak sama mami nih."
Arsyilla tahu sendiri jika pertanyaan-pertanyaan itu takkan terjawab sekarang. Ia mengalihkan pandangan ke arah jam di pergelangan tangannya.
Sang Fajar telah menampakkan wujudnya saat ini. Sebagai pertanda dirinya untuk bergegas ke sekolah. Matanya mengedar ke seluruh ruangan itu, namun sama sekali tak melihat batang hidung ayahnya.
Melirik kembali ke arah ibunya, pikiran Arsyilla berkelana pada penjelasa papinya semalam. Sesak dirasakannya saat tak pernah mengetahui penyakit yang diidap ibunya itu.
Penyesalan hadir saat ia mencoba melupakan segala hal tentang keluarganya. Arsyilla tak bisa dan tak akan bisa melakukan itu walaupun ia berusaha sekuat tenaga.
Apa jangan-jangan ngumpul arisan yang sering di bilang mami itu check up ke rumah sakit?"- batin Arsyilla.
Jika Diana berniat untuk menipu semua orang dan menutupi perihal penyakitnya maka ia berhasil. Arsyilla bahkan tak pernah menaruh curiga ketika ibunya itu berpergian kesana kemari.