17. Akting Iblis Cantik

162K 18K 956
                                        

Pukulan di lengannya dari seseorang yang duduk di sampingnya terus Kenzo dapatkan. Belum lagi suara orang itu yang memekakkan telinga membuat Kenzo ingin sekali membuangnya ke rawa-rawa.

"Ayo, Ken! Lebih cepat lagi!" teriak Queenzie.

Kenzo memutar bola matanya, tapi tetap menuruti ucapan sepupunya dengan menambah kecepatannya.

"Ken, buruan sebelum nyawa kita diambil sama dia!" Tangan Queenzie terus memukul lengan Kenzo dengan pandangan lurus ke depan. Memperhatikan mobil seseorang yang sedari tadi berusaha mereka kejar.

"Iya, Zie, iya. Lo bisa diem gak, sih? Konsentrasi gue pecah gara-gara lo teriak-teriak mulu," kesal Kenzo dengan melirik Queenzie tajam.

Queenzie balas meliriknya tajam. "Lo bisa santai karena nyawa lo masih tiga. Lah, nyawa gue tinggal dua. Kalau gue telat lagi, bisa-bisa nyawa gue tinggal satu."

"Santai pala lo! Lo gak lihat penampilan gue sekarang?"

Queenzie menahan tawa saat memperhatikan penampilan Kenzo yang tadi sempat terabaikan matanya. Queenzie tadi memang meminta Kenzo bersiap-siap secepat mungkin karena dia tidak sengaja melihat mobil Dhaffi keluar dari pagarnya tepat saat Queenzie hendak menuju rumah Kenzo. Kalau Kenzo tidak bersiap-siap dengan cepat, bisa dipastikan mereka akan terlambat. Apalagi perbandingannya mereka masih di rumah, sedangkan Dhaffi sudah di perjalanan menuju kampus.

Saking cepatnya Kenzo bersiap-siap, dia sampai tidak memakai sepatunya dengan benar. Hanya sepatu sebelah kiri saja yang terpasang, sedangkan kaki sebelah kanannya masih dilapisi kaos kaki. Celananya juga belum dia kancingkan. Untung saja hanya Queenzie yang tahu. Andai orang lain tahu, bisa-bisa hancur citra Kenzo sebagai cowok paling keren di kampus.

"Ken, lo masa gak bisa nyusul dia, sih? Dia kalau nyetir mobil itu lelet. Kecepatannya standart kayak bapak-bapak baru belajar nyetir. Masa dari tadi kita di belakang dia terus? Maju, Ken, susul dia! Kalau bisa mobil kita harus di depan dia!" Queenzie kembali menyerocos saat jarak mobil Kenzo dan mobil Dhaffi cukup jauh.

Kenzo mengusap-usap telinganya yang sakit karena lagi-lagi harus mendengar cerocosan Queenzie. Sepupunya itu memang buang-able. Ingin sekali Kenzo meninggalkannya di lampu merah andai tidak mengingat bagaimana galaknya orang tua Queenzie.

Sampai di kampus, mobil Kenzo belum juga berhasil menyusul mobil Dhaffi. Kenzo memarkirkan mobilnya sembarangan lalu keluar mobil dengan terburu-buru.

"Eh, lo mau kemana, Ken? Posisi mobil lo belum bener nih," ucap Queenzie mengingatkan karena mobil Kenzo tidak terparkir dengan rapi seperti yang lainnya.

"Udah, biarin aja! Nanti gue benerin lagi kalau urusan gue udah selesai," balas Kenzo sembari mengikat tali sepatunya lalu beralih menarik resleting celananya.

Queenzie masih memperhatikan Kenzo dengan kening berkerut.

"Zie, gue bisa minta tolong, gak?" Kenzo menatap Queenzie memohon.

Queenzie mengangkat sebelah alisnya. "Minta tolong apa?"

"Halangin Pak Dhaffi jangan sampai masuk kelas dulu, Zie! Gue mohon banget sama lo. Perut gue sakit nih. Tadi belum sempat BAB," mohon Kenzo dengan memegangi perutnya. Terlihat keringat mulai mengucur di dahinya.

"Gak mau. Gue gak bisa." Queenzie menggeleng cepat. Kalau urusannya dengan dosen lain mungkin Queenzie mau, tapi kalau urusannya dengan Dhaffi? Sekali saja Queenzie membuat masalah dengannya, nyawanya akan melayang satu.

"Please, Zie! Cuma lo yang bisa bantu gue. Perut gue sakit juga gara-gara bokap lo, jadi lo juga harus ikut tanggung jawab!" Kenzo memegangi perutnya dengan badan condong ke depan. Terlihat sekali jika dia sedang menahan sakit.

Hello, Mas Dosen! (TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang