Mata Dhaffi tidak lepas dari sosok perempuan yang hari ini terlihat sangat cantik. Sayangnya, dia tidak melihat senyum perempuan itu sedari tadi. Wajahnya terlihat sedih, seperti ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Perempuan itu adalah Queenzie. Entah bagaimana ceritanya baju yang mereka pakai warnanya sama. Dhaffi juga tidak tahu kalau Queenzie akan memakai gaun itu. Bahkan dia tidak tahu Queenzie mempunyai gaun yang sangat serasi dengan kemeja yang sedang dia pakai sekarang.
Kemeja yang Dhaffi pakai sekarang juga pilihan Queenzie. Dhaffi memang berniat membeli kemeja ini untuk acara ulang tahun mamanya.
Diam-diam Dhaffi tersenyum tipis. Padahal mereka tidak memberi kode atau saling memberitahu baju yang akan dipakai, tapi tanpa sengaja baju yang mereka pakai warnanya sama.
Queenzie mengalihkan pandangan dengan cepat saat tanpa sengaja tatapannya dan Dhaffi bertemu. Pantas saja dia merasa diperhatikan, ternyata mata laki-laki itu sedari tadi masih terus menatapnya dari jauh. Bukannya senang, Queenzie malah kesal. Dhaffi sudah mempunyai calon istri, tapi masih saja memperhatikannya. Dia ternyata tidak berbeda jauh dengan Kenzo dan Calvin.
Kedatangan Kinar membuat wajah Queenzie semakin tertekuk. Perempuan itu memakai gaun panjang berwarna merah dengan hijab yang membalut kepalanya. Terlihat cantik dan dewasa.
Ingin sekali Queenzie pulang sekarang, tapi acaranya baru saja dimulai. Perut Kenzo pun belum kenyang. Cowok itu pasti tidak mau diajak pulang kalau perutnya belum penuh.
“Terima kasih kepada semua tamu undangan yang sudah datang. Selamat menikmati hidangan yang disajikan.” Izzah tersenyum manis pada semua tamunya.
“Bu Izzah... Itu calon istrinya Mas Dhaffi ya? Cantik banget,” puji seorang tetangga dengan pandangan mengarah pada Kinar yang berdiri di samping Dhaffi.
Izzah hanya tersenyum saja menanggapinya. Dia tidak tahu betul seperti apa hubungan antara anaknya dan Kinar. Yang dia tahu mereka hanya berteman.
Queenzie menunduk menyembunyikan matanya yang mulai memanas bersiap mengeluarkan tetesan air. Hatinya sekarang mungkin sudah tidak berbentuk. Tinggal menunggu Dhaffi mengumumkan secara jelas saja, setelah itu semuanya selesai. Queenzie tidak akan mengganggunya dan tidak akan berharap lagi. Dia harus mencari calon suami lagi yang sesuai dengan role model menantu idaman papanya.
“Ken... Pulang yuk!” ajak Queenzie dengan sedikit merengek. Tangannya menggoyang-goyangkan tangan Kenzo yang sedang menyuapkan kue ke dalam mulutnya.
“Jangan digoyang-goyang nanti kue gue jatuh!” Kenzo berusaha menstabilkan pergerakan tangannya agar kuenya tidak jatuh.
“Ken...” Queenzie memasang tampang memelas. Dia tidak yakin masih bisa baik-baik saja jika tetap disini lebih lama lagi.
“Bentar, Zie.” Kenzo sama sekali tidak peduli. Bahkan dia tidak mau menoleh. Yang ada dipikirannya hanya makanan saja. Lihat saja, kalau perutnya yang kotak-kotak itu menjadi buncit Queenzie tidak akan mau menemaninya ke gym.
Queenzie beranjak dari kursi lalu pergi tanpa berkata apapun. Dia sudah terlanjur kesal dengan semuanya. Dengan Dhaffi, dengan Kinar, dan sekarang dengan Kenzo. Semuanya menyebalkan.
Karena bingung harus kemana, Queenzie memilih duduk di bangku pinggir kolam. Memperhatikan air yang tampak cantik karena pantulan cahaya lampu. Disini dia hanya sendiri. Itu lebih baik. Meskipun Queenzie suka keramaian, tapi saat hatinya sedang bermasalah seperti ini menyendiri adalah hal yang paling tepat dilakukan.
Dhaffi melihat kepergian Queenzie dan wajah kekesalannya. Tanpa bisa dia kendalikan, kakinya reflek melangkah menyusul Queenzie.
Kinar hendak menyusul Dhaffi, tapi tangannya di tahan oleh Izzah. Kinar menoleh dengan tatapan bertanya. Meskipun kesal, tapi dia tetap tersenyum di depan calon ibu mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mas Dosen! (TERBIT)
Romansa(TERSEDIA DI GRAMEDIA) PART TIDAK LENGKAP ⚠️ "Jika laki-laki itu bisa mengancam akan mengeluarkan Queenzie dari kelas, Queenzie juga bisa mengancam akan mengeluarkan laki-laki itu dari kamar. Lihat saja nanti!" Queenzie Sefaro, selebgram seksi yang...
