25. Sakit

164K 17.8K 953
                                        

Ketakutan Queenzie benar terjadi. Dia demam setelah kemarin pulang dengan basah kuyup karena Calvin juga tidak membawa jas hujan. Namun, itu tidak masalah. Setidaknya masih ada Calvin yang mengantarnya pulang.

Queenzie kemarin sengaja membuat drama untuk membalas perbuatan Kenzo padanya. Dia menangis dan mengadukan kelakuan Kenzo pada papa dan mamanya. Alvis yang kesal pun langsung mendatangi Kenzo ke rumahnya.

Dewi fortuna seolah berpihak pada iblis cantik itu karena bukan hanya Alvis dan Abel yang memarahi Kenzo, tapi juga Billy dan Naura yang ikut memarahi anaknya karena tega meninggalkan Queenzie demi pacarnya. Billy sampai mengancam akan menyita mobil Kenzo kalau Kenzo masih suka meninggalkan Queenzie demi pacarnya.

Kenzo merasa tersudut. Dia tidak bisa membela diri karena dirinya memang salah. Tanpa seorang pun tahu, Queenzie tersenyum samar karena berhasil mengerjai Kenzo. Salah sendiri bermain-main dengan Queenzie.

Pagi ini Queenzie tidak bisa bangun. Kepalanya terasa sangat berat. Badannya juga panas. Belum lagi hidungnya yang terasa gatal dan terus bersin sampai membuat hidung Queenzie memerah.

“Hachim... Hachim...” Queenzie mengelap ingusnya dengan tisu lalu melempar tisu itu ke tempat sampah yang berada di sisi ranjangnya. Queenzie sengaja meminta asisten rumah tangganya untuk memindahkan tempat sampahnya agar memudahkannya dalam membuang tisu.

Tangan Queenzie tidak henti-hentinya memencet hidungnya sendiri yang terasa gatal. Matanya menjadi sayu dan berair. Keadaannya ini membuatnya tidak berpikir untuk memakai skincare seperti biasanya. Dia hanya mencuci wajah lalu menyemprotkan face mist untuk melembabkan wajahnya. Dengan kondisi tubuh seperti ini membuat Queenzie semakin tidak berniat untuk mandi.

Sebenarnya hari ini ada kelasnya Dhaffi, tapi Queenzie sudah tidak peduli lagi padanya. Biarkan saja dia mengambil nyawa Queenzie yang tinggal dua itu. Queenzie memang sengaja tidak memberinya surat dokter atau izin padanya untuk tidak masuk karena sakit. Itu dia lakukan bukan karena dia ingin Dhaffi mencarinya dan mengkhawatirkannya, tapi karena Queenzie memang tidak peduli lagi pada laki-laki itu dan juga peraturan-peraturannya.

Abel memasuki kamar dengan membawa makanan dan juga obat untuk Queenzie. Di musim hujan seperti sekarang ini memang persediaan obat bisa terbilang lengkap karena Abel tahu kalau anaknya sangat mudah sakit saat terkena air hujan. Itulah kenapa dia sudah mempersiapkan segala macam obat dan vitamin untuk keluarganya menghadapi musim penghujan.

“Makan dulu, Zie, habis itu minum obat!” Abel menyerahkan piring berisi makanan ke hadapan Queenzie.

Queenzie menggeleng pelan. “Aku gak nafsu makan, Ma. Perutku rasanya gak enak kalau diisi.”

“Mama tahu. Makan dikit aja gapapa, yang penting makan. Kalau kamu gak makan, kamu gak boleh minum obat.”

Queenzie terpaksa menerima piringnya. Dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan malas. Cara mengunyahnya pun sangat lambat. Memang begini kalau dia sedang tidak berselera makan. Makanan kesukaannya pun tidak berhasil menggugah seleranya.

Abel tetap menunggu di depan Queenzie. Dia ingin memastikan kalau anaknya itu makan cukup banyak dan meminum obat yang dia berikan.

Setelah beberapa suap, Queenzie menjauhkan piringnya dan meletakkannya di atas nakas. Abel tidak bisa memaksa anaknya memakan makanannya lagi karena dia juga tahu mulut Queenzie pasti terasa pahit.

Queenzie langsung meminum obat yang diberikan mamanya lalu meminum air cukup banyak agar obatnya bisa meluncur dengan lancar.

Melihat Queenzie sudah selesai minum obat, Abel membereskan piring dan obat-obatannya kembali.

Hello, Mas Dosen! (TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang