Sabtu malam minggu. Banyak anak muda yang sedang kencan, nongkrong, dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Sangat berbeda dengan Dhaffi yang hanya duduk santai di balkon dengan ditemani sebuah buku dan segelas kopi.
Ipin dan Yesyes tadi mengajaknya nongkrong, tapi lagi-lagi Dhaffi menolak ajakan mereka. Dia memang kurang suka nongkrong-nongkrong tidak jelas. Apalagi sekarang dia adalah dosen, dia tidak mau memberi contoh jelek pada mahasiswanya. Pandangan mahasiswanya terhadap Dhaffi pasti berubah kalau mereka tidak sengaja melihat Dhaffi nongkrong tidak jelas. Citranya sebagai dosen disiplin dan selalu memanfaatkan waktu dengan baik pasti akan rusak di mata para mahasiswanya. Mungkin hanya saat bersama Queenzie, Dhaffi membuang-buang waktu berharganya dengan percuma.
Dhaffi menyeruput kopi hitamnya sedikit lalu meletakkannya lagi di meja sebelahnya. Matanya hanya fokus pada deretan huruf di buku yang sedang dia baca. Memang beginilah quality time ala Dhaffi. Dia lebih memilih membaca buku dari pada menonton film atau bermain game.
Ponsel Dhaffi berbunyi. Ada satu pesan masuk dari Aga. Tadi Ipin dan Yesyes, sekarang Aga. Dhaffi yakin mereka bekerja sama untuk membuat Dhaffi keluar dari sangkarnya. Meskipun begitu, Dhaffi memilih membuka pesannya karena Aga termasuk bos gabut yang akan mengiriminya pesan spam jika Dhaffi tidak segera membalas pesannya.
Cewek lo ke bar gue, Dhaff. Jemput gih! Gue lihat tadi banyak cowok yang godain dia.
Dhaffi langsung melihat ke depan, ke arah kamar Queenzie. Pantas saja kamar perempuan itu sudah gelap sedari tadi.
Tanpa membalas pesan Aga, Dhaffi langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menutup bukunya dan membawanya masuk beserta kopinya yang masih tersisa seperempat.
Dhaffi segera mengganti bajunya dengan cepat. Dia menyambar ponsel, dompet, dan kunci mobilnya lalu berjalan dengan cepat keluar rumah.
Dhaffi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia ingin segera sampai di bar sebelum Queenzie melakukan hal-hal kelewat batas.
Jika mengingat bagaimana liarnya Queenzie saat di bar, tatapan-tatapan para laki-laki yang memelototi tubuhnya, dan panasnya Queenzie saat sedang mabuk membuat Dhaffi rasanya ingin sekali menutup bar milik Aga. Kalau memang Queenzie tidak bisa meninggalkan dunia malam, baiklah! Dhaffi yang akan masuk ke dalam dunia Queenzie untuk bisa mengeluarkan perempuan itu dari sana. Entah kenapa ada keinginan dari dalam diri Dhaffi untuk mengubah Queenzie dan mengarahkannya ke jalan yang seharusnya.
Dhaffi memasuki bar dengan mudah karena penjaga keamanan tahu kalau dia adalah temannya Aga, bos mereka. Dia berjalan cepat di antara orang-orang yang sedang menari. Langkahnya berhenti saat ada perempuan yang tiba-tiba menghalangi jalannya.
"Hai, ganteng! Aku Dinda," ucap perempuan itu memperkenalkan dirinya. Tangannya terulur menunggu Dhaffi menjabat tangannya.
"Maaf, kamu bisa menyingkir? Saya sedang ada urusan."
Bukannya menyingkir, perempuan bernama Dinda itu malah tersenyum menggoda.
"Kenapa buru-buru? Kita bisa minum bareng, turun ke dance floor, atau ngobrol berdua?" Dinda masih belum menyerah.
"Maaf, tapi saya tidak punya waktu." Dhaffi bersikap sopan meskipun dia sudah sangat kesal sekarang.
"Kenapa? Apa aku kurang seksi?" Dinda mendekat. Tangannya dengan lancang menyentuh dada Dhaffi.
Dhaffi semakin risih dengan tingkah perempuan di depannya. Dia menatap sekeliling berharap bisa menemukan Aga agar temannya itu bisa membantunya terlepas dari perempuan ini.
"Sorry, Din, tapi dia cowok gue. Lo bisa cari cowok lain!" Seseorang tiba-tiba memeluk lengan Dhaffi membuat Dhaffi langsung menoleh. Ternyata Queenzie yang sedang memeluk lengannya dengan tatapan tajam menatap pada Dinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mas Dosen! (TERBIT)
Romance(TERSEDIA DI GRAMEDIA) PART TIDAK LENGKAP ⚠️ "Jika laki-laki itu bisa mengancam akan mengeluarkan Queenzie dari kelas, Queenzie juga bisa mengancam akan mengeluarkan laki-laki itu dari kamar. Lihat saja nanti!" Queenzie Sefaro, selebgram seksi yang...
