Queenzie memakan rotinya sampai habis tiga potong lalu meminum susu yang baru saja diambilkan Calvin. Dia sedang tidak berniat makan nasi karena perutnya memang menolak jika diisi nasi. Queenzie juga tidak berniat minum obat lagi siang ini mumpung mamanya belum pulang. Dia merasa sudah lebih baik meskipun hidungnya masih tersumbat, tapi setidaknya dia sudah tidak bersin-bersin seperti tadi.
“Udah kenyang,” ucap Queenzie saat Calvin berniat memotongkannya roti lagi.
Calvin mengangguk, tapi tetap memotong rotinya untuk dirinya sendiri.
Fokus Queenzie sekarang hanya pada kartun yang sedang tayang di televisi. Karena tidak minum obat, lama kelamaan pusing di kepalanya kembali lagi.
Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Queenzie menidurkan kepalanya di paha Calvin. Tentu saja hal itu membuat Calvin terkejut karena sedari tadi dia hanya fokus pada kartunnya, tapi tiba-tiba saja ada kepala orang yang rebahan di pahanya.
Ini bukan pertama kalinya Queenzie bersikap manja seperti ini karena saat mereka pacaran dulu juga Queenzie bersikap seperti itu. Queenzie memang sangat manja saat sedang sakit. Biasanya dia akan manja pada orang tuanya. Kalau tidak ada orang tuanya, Queenzie akan manja pada Kenzo. Berhubung sekarang ketiga orang itu tidak ada, jadilah Calvin yang menjadi target kemanjaan Queenzie.
Queenzie kembali fokus pada layar televisi tanpa merasa bersalah karena menjadikan paha Calvin sebagai bantal. Dia merasa tidak ada yang salah karena dia juga sudah biasa manja pada Calvin.
Tangan Calvin mengelus rambut Queenzie lembut. Hal itu membuat Queenzie ingin memejamkan mata. Tinggal sedikit lagi mata Queenzie terpejam andai tidak mendengar suara ketukan pintu.
“Bi Ira, tolong bukain pintunya!” teriak Queenzie pada asisten rumah tangganya. Dia sedang malas bangun. Apalagi posisinya sekarang sudah sangat nyaman.
“Siap, Mbak!” sahut Bi Ira lalu berlari menuju pintu depan.
Bi Ira tersenyum setelah membuka pintu dan mendapati Dhaffi berdiri dengan menenteng paperbag kecil.
“Ada apa, Mas?” tanya Bi Ira.
“Saya ingin memberikan oleh-oleh dari mama saya untuk Tante Abel.”
Dhaffi memang diberi amanah oleh Izzah agar memberikan oleh-oleh yang dia bawa dari Lombok pada Alvis dan Abel. Mama Dhaffi itu termasuk orang yang suka traveling jadi tidak heran jika dia sering keluar kota hanya untuk liburan dan mengunjungi tempat-tempat baru.
Awalnya Dhaffi enggan diberi amanah seperti ini karena dia merasa tidak adil. Mamanya itu hanya menitipkan oleh-oleh untuk keluarga Alvis saja, tidak untuk tetangga Dhaffi yang lain. Itu karena Alvis adalah aktor yang diidolakan oleh Izzah. Hubungan Izzah dengan Abel juga semakin akrab. Mereka sering saling like dan memberi komentar di social media. Namun, lagi-lagi Dhaffi tidak bisa menolak permintaan mamanya karena mamanya selalu mengeluarkan jurus jitunya jika Dhaffi menolak permintaannya. Sampai sekarang jurus jitu Izzah masih sama, dia meminta Dhaffi cepat membawa calon istri ke hadapannya. Jika sudah seperti itu, menuruti permintaan mamanya adalah hal yang paling aman karena sampai sekarang Dhaffi masih belum mengerti tentang siapa yang diinginkan hatinya.
“Pak Alvis sama Bu Abel sedang ada pekerjaan di luar, Mas. Cuma ada Mbak Queenzie di dalam,” jawab Bi Ira memberitahu.
Dhaffi terdiam beberapa saat untuk berpikir. Bisa saja dia menitipkan oleh-olehnya pada Bi Ira, tapi dia ingin memastikan sesuatu. Queenzie tadi tidak masuk kuliah tanpa keterangan. Sebenarnya Dhaffi marah karena apa yang dilakukan Queenzie terlihat seolah perempuan itu tidak takut dengan ancaman yang Dhaffi berikan jika Queenzie melanggar salah satu aturannya, tapi dia juga khawatir tentang keadaan Queenzie. Apalagi jika mengingat Queenzie kemarin pulang dalam keadaan basah kuyup.
Dhaffi merasa sangat bersalah, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain melihat Queenzie pulang dengan dibonceng Calvin di tengah derasnya hujan. Tanpa Queenzie ketahui, Dhaffi melihat itu semua dari balkon kamarnya.
“Boleh saya masuk? Saya ingin memberikan oleh-oleh ini langsung pada Queenzie,” izin Dhaffi.
“Oh iya. Silahkan, Mas!” Bi Ira memberikan jalan untuk Dhaffi masuk.
Dhaffi masuk dengan ragu. Setelah menolak mengantar Queenzie pulang, sekarang dia malah mendatangi rumah perempuan itu meskipun dengan alasan yang cukup masuk akal.
“Mbak Queenzie ada di ruang tengah, Mas,” ucap Bi Ira karena melihat Dhaffi hanya diam saja setelah melewati pintu.
Dhaffi mengangguk lalu berjalan mengikuti Bi Ira ke ruang tengah. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang membuat perasaannya tidak karuan. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa perih. Seolah ada jarum yang melubangi hatinya.
Di depannya sekarang, Queenzie sedang tidur berbantalkan paha Calvin. Kedua orang itu masih belum menyadari keberadaan Dhaffi. Yang membuat Dhaffi bertanya-tanya, kenapa dia tidak melihat kendaraan Calvin di depan rumah Queenzie tadi? Apa cowok itu terbang?
Calvin ke rumah Queenzie dengan berjalan kaki sehingga membuat Dhaffi tidak bisa menemukan motor Calvin. Motornya dia tinggal di rumah Kenzo karena dia tadi sempat meminta makan di rumah Kenzo.
Dhaffi berdehem untuk menyadarkan kedua orang itu. Sesuai harapannya, kedua orang itu langsung menoleh.
Queenzie langsung bangun. Tentu dia sangat terkejut melihat Dhaffi berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang. Belum lagi posisinya yang tidur di paha Calvin membuat Queenzie merasa seolah terciduk. Namun, saat mengingat kejadian kemarin. Kejadian dimana Dhaffi menolak memberinya tumpangan dan mengatakan kalau Queenzie menyusahkan, raut terkejut Queenzie berubah datar. Terserah Dhaffi berpikiran seperti apa terhadapnya setelah ini, Queenzie sudah tidak peduli lagi. Hatinya masih terasa sakit. Perasaan bodohnya pada Dhaffi membuatnya sakit hati setiap kali melihat Dhaffi bersama Kinar.
Queenzie beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri Dhaffi, sedangkan Calvin kembali menonton televisi. Dia tidak berani menatap mata Dhaffi terlalu lama karena tatapan dosennya itu sangat tajam sampai membuat Calvin ngeri sendiri.
“Ada apa Bapak ke rumah saya?” tanya Queenzie formal seperti yang diperintahkan Dhaffi tempo hari.
“Saya ingin memberikan oleh-oleh titipan mama saya.” Dhaffi mengulurkan paperbag kecil yang langsung di terima oleh Queenzie.
Queenzie tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Dhaffi mengangguk. Dia ingin menanyakan sesuatu, tapi ragu.
Queenzie mengernyitkan dahi melihat Dhaffi yang hanya diam saja. Laki-laki itu tidak mengatakan sesuatu ataupun langsung pergi setelah memberikan paperbag padanya.
Queenzie berdehem. “Apa ada yang mau Bapak katakan?”
Dhaffi mengangguk. “Kenapa kamu tadi tidak masuk kuliah? Kamu tahu kan konsekuensi yang akan kamu dapatkan jika tidak masuk tanpa keterangan di mata kuliah saya?”
“Saya sedang sakit,” jawab Queenzie.
Dhaffi memperhatikan wajah Queenzie lebih teliti. Wajah perempuan itu memang terlihat sedikit pucat. Hidungnya terlihat merah dan matanya juga tampak sayu.
Dhaffi reflek menempelkan punggung tangannya di dahi Queenzie membuat tubuh Queenzie langsung menegang. Beberapa hari tidak menggoda Dhaffi membuat Queenzie gampang terkejut dengan sentuhan Dhaffi yang tiba-tiba.
Kening Queenzie terasa panas. Dhaffi segera menarik tangannya. Dia semakin merasa bersalah. Queenzie sakit seperti ini karenanya. Andai Dhaffi tidak memikirkan pandangan para mahasiswa terhadap Queenzie, pasti kemarin dia sudah memberikan tumpangan untuk Queenzie agar Queenzie bisa sampai rumah tanpa kehujanan.
“Saya tidak akan mengambil nyawa kamu. Sebagai gantinya, saya akan memberikan tugas tambahan untuk kamu. Semoga lekas sembuh!” Dhaffi berlalu pergi setelah mengatakan itu. Sebelum pergi, dia sempat melirik Calvin tajam sampai membuat Calvin langsung mengalihkan pandangan dengan cepat.
Queenzie menatap punggung Dhaffi sampai tubuh itu hilang di balik pintu. Dia bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Dhaffi menjadi labil? Bukankah Dhaffi yang membuat peraturan-peraturan itu sendiri, tapi sekarang dia sendiri yang melanggarnya meskipun hal itu meringankan Queenzie.
💄💋💄💋
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mas Dosen! (TERBIT)
Romance(TERSEDIA DI GRAMEDIA) PART TIDAK LENGKAP ⚠️ "Jika laki-laki itu bisa mengancam akan mengeluarkan Queenzie dari kelas, Queenzie juga bisa mengancam akan mengeluarkan laki-laki itu dari kamar. Lihat saja nanti!" Queenzie Sefaro, selebgram seksi yang...
