Mata Queenzie melirik jam tangannya sekali lagi untuk memastikan jika sekarang memang sudah waktunya Dhaffi pulang. Dia tadi melihat mobil Dhaffi masih berada di parkiran jadi bisa dipastikan kalau sang pemilik belum pulang.
Queenzie mengetuk pintu ruangan Dhaffi sedikit keras. Sahutan dari dalam membuat Queenzie langsung membuka pintu itu.
Dhaffi yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya mendongak saat pintu mulai terbuka. Dia mengerutkan dahi melihat Queenzie berdiri di depannya. Perempuan itu seharusnya sudah pulang karena kelas Queenzie hari ini tidak sampai sore.
“Ada apa, Queen?” tanya Dhaffi saat melihat Queenzie hanya diam saja. Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. Jarang sekali Queenzie seperti itu karena biasanya dia akan langsung mengungkapkan apa yang ada di otaknya.
Queenzie berdehem pelan. “Mas... Sekarang udah waktunya kamu pulang kan?”
Dhaffi mengangguk. “Meskipun ini sudah waktunya saya pulang, tapi lebih baik kamu tetap memanggil saya ‘Pak’ selama berada di kampus.”
Queenzie mendengus tidak setuju. “Aku udah kebiasaan manggil kamu ‘Mas’. Lagian disini juga gak ada orang lain yang denger selain kita.”
Dhaffi menghela nafas lalu mengangguk. “Ya sudah. Kenapa kamu belum pulang dan malah menghampiri saya?”
Queenzie menggigit bibirnya. Dia ingin mengungkapkan maksudnya, tapi takut Dhaffi tidak mau.
“Jangan gigit bibir kamu seperti itu, Queen! Nanti bibir kamu terluka,” tegur Dhaffi membuat Queenzie langsung melepaskan bibirnya yang beberapa saat lalu dia gigit.
Queenzie berdehem sekali lagi. Entah kenapa hari ini mulutnya sopan sekali padahal biasanya dia akan langsung mengutarakan apa yang ada di dalam otaknya tanpa banyak berpikir terlebih dahulu.
“Soal rencana makan siang yang gagal itu... Kalau diganti sekarang, boleh?” tanya Queenzie dengan tatapan penuh harap.
Dhaffi hanya diam saja. Dia menikmati ekspresi Queenzie yang takut-takut seperti ini. Terlihat menggemaskan, tidak seperti biasanya yang terkesan nakal dan menggoda.
“Kalau kamu gak bisa, gapapa kok. Aku ajak Calvin aja,” lanjut Queenzie setelah cukup lama tidak mendapat sahutan dari Dhaffi.
“Saya bisa,” jawab Dhaffi cepat.
Mata Queenzie langsung berbinar. Tanpa sadar dia melangkah mendekati meja Dhaffi.
“Beneran?” tanya Queenzie sekali lagi untuk memastikan jika Dhaffi memang benar-benar mau makan dengannya.
“Iya.” Dhaffi berusaha menyembunyikan senyumnya. Sebenarnya dia ingin tersenyum melihat wajah bahagia Queenzie, sayangnya dia terlalu gengsi untuk menunjukkannya. Dia hanya bisa menampilkan wajah datar untuk menyembunyikan segala ekspresinya.
“Memang kamu mau makan dimana?” Dhaffi melirik Queenzie sekilas di tengah kegiatannya membereskan laptop dan kertas-kertas yang berada di atas mejanya.
“Di mall. Ada film yang pengen aku tonton juga, gapapa kan?”
Dhaffi terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk. Dia sedang tidak ada pekerjaan jadi tidak ada salahnya menemani Queenzie menonton film.
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Banyak yang menatap Queenzie iri karena bisa berdekatan dengan Dhaffi, tapi mereka tidak berpikir macam-macam karena tersebarnya gosip tentang Dhaffi yang sekarang menjadi tetangga Queenzie membuat para mahasiswa maupun dosen sedikit maklum dengan kedekatan mereka. Mereka menganggap Dhaffi dekat dengan Queenzie karena mereka memang tetangga. Di samping itu, Dhaffi juga dosen baru. Dia pasti belum mempunyai banyak kenalan di kampus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mas Dosen! (TERBIT)
Romance(TERSEDIA DI GRAMEDIA) PART TIDAK LENGKAP ⚠️ "Jika laki-laki itu bisa mengancam akan mengeluarkan Queenzie dari kelas, Queenzie juga bisa mengancam akan mengeluarkan laki-laki itu dari kamar. Lihat saja nanti!" Queenzie Sefaro, selebgram seksi yang...
