Dhaffi sepertinya memang tidak suka melihat mahasiswanya bersantai dan bersenang-senang. Dia selalu memberikan oleh-oleh tugas bejibun untuk dibawa pulang.
Sebenarnya ini tugas dari 3 hari yang lalu, tapi baru Queenzie kerjakan sehari sebelum hari pengumpulan. Dia terlalu menganggap remeh tugas yang Dhaffi berikan sampai dia lebih memilih nongkrong dengan teman-temannya dari pada mengerjakan tugasnya. Sebenarnya bukan hanya tugas Dhaffi, tapi tugas dosen lain juga. Hanya saja tugas Dhaffi yang selalu berhasil membuat Queenzie ingin menjerit frustasi.
Abel memasuki kamar anaknya dengan membawa cemilan dan juga kopi agar mata Queenzie bisa bertahan lebih lama lagi. Dia meletakkan cemilan dan kopi itu di meja dekat laptop agar Queenzie mudah meraihnya.
“Thanks, Mom,” ucap Queenzie lesuh. Wajahnya terlihat lelah dengan mata sayu dan senyum dipaksakan.
Abel mengangguk. Dia mendudukkan dirinya di samping Queenzie.
“Dulu kalau Mama dapat tugas kayak gini pasti dibantuin Papa kamu sampai selesai. Nilainya juga selalu bagus meskipun ujung-ujungnya Papa kamu minta imbalan,” ucap Abel bercerita.
Queenzie menoleh dengan wajah antusias. “Papa mau bantuin Mama ngerjain tugas?” tanya Queenzie tidak percaya. Pasalnya setahunya papanya itu hanya suka bersenang-senang saja seperti papanya Kenzo.
“Iya. Papa kamu dulu bucin banget. Tengah malem bawa makanan, gak tahu gimana caranya tiba-tiba aja udah muncul di balkon. Dia ngerjain tugas Mama sampai subuh.”
Queenzie tersenyum membayangkannya. Pasti sangat menyenangkan punya laki-laki bucin seperti papanya, sayangnya Dhaffi tidak bisa seperti itu. Dia hanya peduli, tapi tidak sebucin itu.
“Pasti enak punya pacar bucin kayak Papa, sayangnya aku jomblo.” Queenzie menampilkan wajah sendunya.
Abel tersenyum jahil membuat perasaan Queenzie tiba-tiba tidak enak.
“Mama denger kemarin ada yang ditembak, tapi belum jawab tuh.”
Queenzie melotot. Otaknya mulai bertanya-tanya bagaimana mamanya bisa tahu kalau Dhaffi baru saja menembaknya.
“Mama tahu dari mana?”
“Dari Papa,” jawab Abel santai dengan senyum jahil yang sedari tadi terlukis di wajahnya.
“Kok bisa? Papa tahu dari mana?” Queenzie semakin mendekat. Dia penasaran sekaligus kesal karena orang tuanya menggibahinya di belakangnya.
“Papa kamu kan kemarin ngopi bareng Dhaffi. Dhaffi yang bilang sendiri ke Papa kamu kalau dia udah nembak kamu, tapi belum kamu jawab. Dhaffi juga bilang kalau dia mau serius sama kamu.”
Mulut Queenzie terbuka. Tidak menyangka Dhaffi akan bergerak sejauh itu padahal Queenzie belum menjawab pernyataan cintanya. Memikirkannya saja membuat pipi Queenzie memanas. Dhaffi memang laki-laki paling serius di antara semua laki-laki yang pernah dekat dengan Queenzie.
“Kapan? Kok aku gak tahu?” Queenzie mencoba bersikap biasa saja padahal dia sedang mati-matian menahan senyumnya.
“Kemarin waktu kamu keluar sama temen-temen kamu.”
Queenzie manggut-manggut. Dia kemarin memang nongkrong sepulang kuliah dengan Stella dan dua temannya yang lain. Di saat itu mungkin Dhaffi mengobrol dengan papanya.
“Mama mau pergi aja deh. Tugas kamu gak selesai-selesai kalau kamu malah ngobrol sama Mama.” Abel berlalu pergi setelah mengatakan itu.
Queenzie kembali berkutat dengan tugas-tugasnya. Beberapa kali dia mengacak rambutnya sendiri karena sulit menemukan jawaban dari tugas yang diberikan Dhaffi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Mas Dosen! (TERBIT)
Любовные романы(TERSEDIA DI GRAMEDIA) PART TIDAK LENGKAP ⚠️ "Jika laki-laki itu bisa mengancam akan mengeluarkan Queenzie dari kelas, Queenzie juga bisa mengancam akan mengeluarkan laki-laki itu dari kamar. Lihat saja nanti!" Queenzie Sefaro, selebgram seksi yang...
