SL 3

10.2K 84 6
                                        

"Ku mencintaimu. Aku menganyam mimpi untuk hidup bersamamu. Aku menganyam impian untuk menjadikan kamu milikku-Soffyana"

Soffyana's POV

Tubuhku terasa remuk. Tenagaku terkuras habis. Peluh mengucur membasahi seluruh tubuh telanjangku. Aku ingin bangun kerana mengingat janjiku dengan ibu Adryan. Namun mataku terasa tak mampu ku buka.

"Mengantuk, hmm?" Adryan mengucup kelopak mataku.

"Hmm..," aku menjawab pendek.

"Kalau mengantuk, tidur saja," katanya.

Adryan membuang tubuh ke sampingku. Tangannya menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku dengan erat.

"Hmm..tak boleh. Aku ada janji dengan 'mummy'," kataku.

"Beritahu mummy kamu tak sihat," katanya.

"Tak boleh, Adryan. Mummy sudah bersiap dan sedang menungguku," kataku masih berusaha membuka mataku.

" Larat untuk berjalan-jalan? Aku kenal mummy. Kalau belum sehari suntuk berjalan, belum cukup," ucap Adryan.

"Apakan daya. Aku harus mandi dan bersiap, Adryan," aku mengalih tangannya yang memeluk perutku.

Adryan mengalah. Dia membuka pelukannya dan duduk bersandar di kepala katil. Matanya tidak lepas dari memandangku.

"Jangan memandangku begitu, Adryan," aku  cuba bangun dari katil meski kaki terasa gontai dan hampir tidak mampu aku gerakkan.

Aww!" Aku terjerit kecil saat rasa ngilu menerjah area antara pahaku.

" Jangan paksa diri, Soffy,"Adryan bingkas bangun. Tangannya memeluk tubuhku.

" Mengapa kamu begitu suka membantah kata-kataku, Soffy? " katanya dengan kesal.

" Semua ini salahmu, " kataku.

Beberapa butir air mata jatuh di pipi. Bukan kerana marah pada Adryan. Tetapi aku menangis menahan rasa perih di daerah intimku.

"Kamu juga mahu," katanya sambil mengernyit nakal.

"Kamu terlalu besar. Permainanmu juga lama," komenku.

"Besar, hmm? Dan lama? Nanti bila sudah terbiasa kamu akan berterima kasih padaku kerana besar dan lama itu," dia tertawa kecil.

"Adryan..," aku memukul lembut belakangnya. Geram. Dalam aku menahan sakit, dia masih mampu tertawa dan mengusikku.

"Sungguh, sayang. Nanti kamu akan bersyukur....," aku mencubit lengannya hingga dia mengaduh sakit dan tidak meneruskan kata-katanya.

"Okey, sayang. Sini," tanpa menunggu izinku, Adryan mengendong tubuhku masuk ke bilik air.

Ku kira dia akan meletakkan aku di dalam tab mandi. Sebaliknya Adryan membawaku ke bawah shower.

"Kita mandi berdua," katanya.

Kedua tangannya memeluk erat pinggangku. Matanya memandangku sambil tersenyum nakal.

"Aku ingin kita begini setelah kita kahwin nanti. Setiap hari kita begini. Mandi di bawah pancuran shower sambil saling berpelukan," katanya.

Bahagian bawah kami saling bersentuhan. Dadaku dan dadanya juga saling menempel.

"Rileks, sayang. Biarkan begini dulu sampai rasa nyeri itu hilang," bisiknya.

Sesekali lidahnya menjilat tulang selangkaku. Jilatannya membuat tubuhku mengelinjang. Terasa aneh. Rasa nyeri di daerah intimku hilang. Dan tergantikan dengan satu rasa yang lain. Rasa ingin disentuh. Rasa ingin diisi dan dipenuhi.

Secret LoverTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang