001

264 30 0
                                    

Hari ini, hujan sangat deras. Akhir-akhir ini, cuaca selalu tidak mendukung, kadang hujan kadang terik secara tiba-tiba. Dan aku membencinya, hampir sama seperti perasaan ku.

"Jeon Soojin,"

Aku menolehkan kepalaku, memperhatikan seorang perempuan yang menjadi teman ku sejak pertama kali masuk sekolah ini. Dia sedikit berlari dan menghampiri ku dengan wajah cerianya.

"Pagi, Hea." Sapaku padanya.

Dia Jung Hea. Teman sekaligus pasangan sebangku ku. Dia yang paling mengerti diriku, meski sifatnya lembut terkadang dia cepat kesal dan marah. Tapi, itu tidak membuatku untuk berhenti berteman dengannya.

"Pagi juga, kau sudah mengerjakan tugas rumah kemarin?"

Aku mengangguk sebagai balasan. Kemudian menyerahkan buku tugas ku padanya. Terlihat matanya berbinar. Aku tahu, ia bertanya basa-basi seperti itu untuk meminta jawaban.

"Kau memang mengerti diriku." Ucapnya sambil membuka setiap lembaran buku ku.

"Lihatlah dulu, jika menurut mu ada yang salah tanyakan saja padaku. Karena kemarin aku tidak sedang dalam mood baik mengerjakannya."

Hea menatapku spontan. Seakan tahu maksud ucapanku, ia menepuk bahu kanan ku sambil berkata. "Dia teman kita, kau tidak perlu cemburu. Lagipula, Taehyun kadang suka bergaul dengan teman perempuan kita yang lain."

Aku hanya tersenyum menanggapi. Perkataannya memang benar. Untuk apa aku cemburu? Padahal aku juga bukan siapa-siapa baginya. Hanya sebatas teman kelas. Tidak lebih.

Sesaat pikiran positif menghujam pikiranku, sekarang berganti kembali. Ketika aku melihatnya. Tidak sendiri, pun tidak bersama teman-temannya seperti biasa. Tapi, bersama dia. Dia yang sempat dibicarakan akhir-akhir ini dekat dengannya. 

Entah kenapa hati ku teriris melihatnya, Hea yang disebelah ku pun melihatku merasa kasihan. Tidak sekali hal ini terjadi. Tetapi, sudah beberapa kali. Dan aku berusaha masa bodoh.

"Soo-"

Aku menggeleng kepala, berjalan menghampiri keduanya. Tersenyum pada mereka karena mereka merupakan teman kelas ku juga. "Pagi kalian,"

"Pagi Soojin." Perempuan disebelah Taehyun yang membalas. Tapi, dia tidak. Aku berusaha untuk tersenyum dan kembali berkata. "Aku duluan ke kelas, jangan terlalu lama bermesraan, nanti guru Min bisa-bisa memarahi kalian jika terlambat masuk."

Setelah mengatakannya aku mendahului keduanya, mencoba menahan tangis. Tidak. Seharusnya aku tidak menangis. Ini kesalahan.

Aku menghela napas, hidup ku memang harus dipenuhi banyak cobaan dan kebahagiaan yang hanya sesekali datangnya.

-𝕾𝖊𝖈𝖔𝖓𝖉 𝕷𝖔𝖛𝖊-

Bel berbunyi, sudah waktunya untuk istirahat. Guru Min, selaku guru Matematika yang dikenal tegas itu memanggil ku di depan pintu kelas. Menyuruh ku ke ruangannya, katanya ada yang ingin dia bicarakan padaku.

"Akhir-akhir ini nilai mu sangat bagus dan semakin meningkat dari sebelumnya, tapi kenapa setiap saya mengajar terkadang saya melihat mu kurang fokus." Guru Min menatapku. Aku hanya menunduk. "Apa ada yang ingin kau katakan?" Tidak hanya tegas, beliau juga guru yang sangat lemah lembut jika murid yang diajarinya ada masalah.

Aku terdiam. Tidak mampu mengelak karena perkataan guru Min benar, itu semua karena aku terus memikirkannya. Setiap hari, setiap saat. Entah aku yang terlalu terbutakan cinta olehnya atau rasa cemburu yang menghantui ku akhir-akhir ini.

"Maafkan saya guru, lain kali saya tidak akan mengulanginya."

Samar-samar aku mendengar helaan napas keluar dari mulut beliau. "Aku harap kau melakukan seperti yang kau bilang. Terus tingkatkan nilai mu, ya?"

Aku tersenyum dan mengangguk, setelah itu membungkuk dan keluar dari ruangannya. Betapa terkejutnya, aku melihatnya di depan ruang guru Min sambil menatap ku. "Halo," sapa ku.

Ia tidak menjawab. Terus menatap ku tanpa berkedip. Aku yang tidak tahan dilihat seperti itu segera pergi melangkah kaki ku. Ia tidak mencegat. Dirinya masih berdiam diri di depan ruang guru Min.

Aku yang tadinya kesenangan karena berpikir bahwa ia menunggu ku, kini kembali menjadi sedih. Dari jauh, aku membalikkan sebentar kepala ku untuk melihatnya, ternyata dia menemui perempuan itu di dekat ruangan guru Min. Aku kembali menghela napas kesekian kalinya. Aku terlalu bodoh. 

"Soojin,"

Ku dengar suara Hea memanggil ku. Aku lantas menghampirinya yang berdiri di depan mading sekolah. "Lihat, ada kontes menulis quotes di sekolah. Kau harus ikut!" Katanya dengan bersemangat

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Sebenarnya dengan ikut ini, mungkin orangtua ku akan senang. Karena aku jarang sekali mengikuti lomba. Bahkan sekalipun tidak pernah. Karena aku bukan orang yang percaya diri menunjukkan bakat terpendam ku. 

Tapi, tiba-tiba sesuatu terlintas di otakku. Aku kemudian menggeleng. "Tidak, aku tidak akan ikut."

Hea mendadak lemas, "kenapa? Aku tahu kau tidak percaya diri, tapi ini kesempatan kecil mu. Meski hanya murid-murid sekolah yang tahu, bukankah ini hal bagus?"

"Tidak," aku menatap poster pengumuman lomba itu. "Aku lebih baik tidak ikut sama sekali."

"Ayolah," Hea terus memaksa ku. Namun, aku menolak sekali lagi. "Ini juga bisa menunjukkan kepadanya bahwa kau itu lebih pintar daripada pacar barunya!"

Aku menatapnya, "pacar baru?"

"Kau tidak tahu? Mereka sudah berpacaran sejak pagi, bodoh! Kau terlalu fokus dengan bukumu sampai-sampai tuli, ya?!"

Napas ku tercekat. Seakan dunia terasa terhenti bagiku. Aku tidak tahu, aku pikir keduanya masih dalam tahapan dekat. Lagipula keduanya belum pernah berpegangan tangan di sekolah. 

Hea memegang kedua pundakku, "kau harus menunjukkannya." Ucapnya. Matanya seolah-olah mengatakan bahwa aku bisa merebut hati Taehyun dengan lomba ini. Tapi, aku tidak yakin. Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa aku akan menang jika mengikuti lomba ini. Tidak mungkin hanya aku yang biasa ini tidak ada bandingannya dengan murid lain. Pasti ada yang lebih hebat dariku.

"Tidak." Balasku dengan tegas. Aku menggeleng, "aku bisa-bisa di cap perebut kekasih orang lain. Maaf ya, Hea."

Aku meninggalkan Hea yang masih bergeming di tempatnya. Aku akan minta maaf setelah mood ku baikan. Tidak enak karena terus menolak, padahal Hea ingin sekali aku ikut.

Karena sudah jauh dari jarak Hea berdiri tadi, aku duduk di salah satu bangku. Tanpa sengaja, telinga ku mendengar kedua murid siswi yang tidak jauh dari tempat ku duduk. Awalnya aku tidak ingin mendengarnya karena tidak tertarik, tetapi aku terkejut begitu mendengar ucapan terakhir salah satu perempuan diantara mereka.

"Hey, kau dengar tidak?"

"Apa?"

"Aku dengar tadi pagi saat jam pertama, ada anak baru datang ke sekolah. Ia sangat tampan, kau sudah dengar belum?"

"Benarkah? Aku belum tahu namanya, siapa?"

"Namanya Lee Hueningkai."

Aku tidak tahu bahwa hari ini adalah hari yang buruk. Taehyun berpacaran dan sedangkan dia yang pertama, kembali lagi setelah sekian lamanya.

---

Jangan lupa tekan ☆ dan komen ya hehehe(・ω<)☆

Second Love | Kang TaehyunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang