*maaf part ini ter acak •́ ‿ ,•̀
Ameera melambaikan tangan kearah putri Alleta yang berada di balkon kamarnya.
"fyuh perjalanan panjang ku baru saja akan dimulai." Gumam Ameera. Dia menuju perbatasan menggunakan kereta kuda yang diberikan putri.
Delapan jam kemudian Ameera sampai di perbatasan antara wilayah Utara dengan selatan. Dia akan menuju ke Regas menggunakan sihir teleportasi.
"Regas!" Teriak salah satu petugas memberitahu kepada semua orang yang memiliki tujuan ke wilayah Regas.
Ameera hanya merasakan angin berhembus agak kencang disekelilingnya dan saat membuka mata dirinya sudah ada di Regas wilayah paling luar yaitu Egre. Ameera merasa perutnya lapar jadi dia memutuskan makan di tempat terdekat.
kling
Suara lonceng pertanda pelanggan masuk terdengar membuat setengah dari pelanggan yang tiba dulu melirik ke arah Ameera. Dari kejauhan terlihat seorang pelayan dengan senyum simpul menghampiri Ameera yang telah duduk di bagian paling pojok.
"Anda ingin memesan apa nona?" Pelayan itu bertanya dengan santai. "Yang paling cepat jadi, berapapun harganya", mendengar itu pelayan segera pergi dari sana, Ameera hanya ingin makan dengan cepat lalu pergi dari sini, perjalanan yang harus dilewatinya masih sangat panjang.
"Hei kau sudah dengar tentang menara yang ada di puncak gunung Raflaed?"
"Ah tentu saja sudah, beberapa hari yang lalu menara itu mengeluarkan cahaya terang dimalam hari siapa yang bisa mengabaikannya."
"Apa penyebabnya?"
"Siapa yang tau, orang yang dengan berani masuk kesana pasti tidak akan pernah kembali."
Ameera mendengar dengan seksama percakapan yang terjadi dimeja sebelah. 'hmm, sepertinya aku harus pergi kesana', Ameera tersenyum kecil memikirkan rencananya.
---
Hari sudah larut, Ameera akan bermalam di penginapan baru pergi ke puncak gunung Raflaed.
"Untuk berapa malam nona?"
"Semalam"
"Lima tael perak nona" Ameera menyerahkan sejumlah uang yang harus dibayar, dia tidak heran jika satu malam seharga lima tael perak mengingat kota Egre merupakan tempat peristirahatan bagi para petualang di banyak wilayah.
Ameera masuk kedalam kamarnya yang terletak dilantai empat, dia menuju jendela dan membuka salah satu pintu, angin berhembus kencang saat malam hari, karena sekarang musim panas angin malam daerah ini jadi sangat dingin.
- - -
Bunyi burung berkicau membangunkan Ameera yang masih bergelut dengan selimut. Dia segera bangun untuk membereskan semua barangnya setelah selesai mandi.
Sampai di cafetaria lantai bawah suara ricuh terdengar, Ameera melihat banyak orang mengantri menunggu makanan siap. Jadi dia lebih memilih keluar dan pergi makan ditempat kemarin.
Ameera pergi ke toko roti untuk membeli bekalnya selama beberapa hari kedepan tak lupa juga dia membeli tudung baru yang lebih tebal daripada yang sedang dikenakannya sekarang.
---
Takut, itulah yang dirasakan Ameera saat tiba diperbatasan, disana sangat sepi hanya dirinya dan seorang penjaga yang sedang tertidur. Suara hewan-hewan kecil menemani disepanjang jalannya.
srak
"Glup, s-siapa?" Ameera menelan ludah dengan susah payah saat seekor babi hutan yang gemuk keluar. Dirinya melupakan hal paling umum yang banyak dihutan, hewan buas!
Ameera mundur dengan pelan melihat babi itu semakin mendekatinya, dia berusaha mengambil belati kecil yang terselip di samping tubuhnya dan dapat! Babi itu tiba-tiba melompat kearah Ameera dan dengan sigap dia melemparkan belatinya kearah berut besar babi.
Ngikk
Melihat babi itu langsung limbung membuat debaran jantung Ameera sedikit lebih tenang. "Belati pemberian mu sangat berguna Arden." Ameera tak menyangka dirinya akan bertemu babi hutan langsung padahal baru beberapa menit memasuki hutan, dia tak ingin memikirkan hewan apa yang sedang menunggunya diatas sana.
"Hei"
Deg
Jantung Ameera kembali berpacu cepat saat mendengar sebuah suara yang terdengar tepat disampingnya, dia menengok kekanan kiri mencari sumber suara tapi nihil tidak ada seorangpun didekatnya.
"Diatas." Ameera sontak menengadahkan kepalanya dan terlihatlah seekor burung gagak yang mirip dengan pengantar surat beberapa hari lalu. 'Burung itu bisa berbicara?' batin Ameera bertanya-tanya.
"Ya aku bisa berbicara, tenang aku gagak yang baik." Seakan bisa membaca pikiran gagak itu menjawab dengan tenang. 'Yah tidak heran dia bisa bicara, toh ini dunia sihir,' Ameera mencoba menyakinkan dirinya.
"Jadi kenapa kau memanggilku?"
"Aku diperintahkan untuk menemanimu selama kontrak berlaku."
"Siapa yang memerintah mu?"
"Aku tidak bisa menyebutkannya, ah iya kau bisa memanggilku Jayden."
"Baiklah, Jayden" Ameera fikir mungkin tuan Jayden adalah orang yang sama dengan pemilik buku. "Cepat waktumu tidak banyak" Jayden mulai terbang tidak jauh dari Ameera.
---
"Diam." Mendengar suara Jayden, Ameera sontak diam ditempat.
Grrr
'Ah apa lagi sekarang?' batin Ameera lelah, didepannya kini ada serigala yang lumayan besar.
"Kau punya belati bukan? Lukai tanganmu dan teteskan darahmu, sekarang." Perintah Jayden tak terbantahkan, Ameera segera melakukannya.
Tes
Tiba-tiba saja serigala itu lari menjauh membuat Ameera bingung. "Darah roh kegelapan mengalir ditubuhmu." Sekali lagi Ameera dikagetkan dengan fakta tentang pemilik tubuh ini.
---
"Akhirnya sampai juga." Keluh Ameera, mereka menempuh perjalanan selama kurang lebih tujuh jam dengan beberapa kali istirahat. "Begini saja kau sudah lelah? Dasar lemah." Ledek Jayden, Ameera tidak peduli dengan sekitar matanya menatap lurus kedepan.
"Eh?"
.
.
.
.
⭐🙆🏻♀️
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Said She is The Evil Maid
Fantasy[ Bukan Novel Terjemahan ] Judul sebelumnya = Mystery Evil Maid with Him [ maaf chapter 7 sensian dia ke acak : ˘ ∧ ˘ : ] "Hah!" "Aku di mana? Aku siapa? Aku kenapa?" "Seharusnya sekarang aku berada di rumah sakit, bukan?" ________ Aku menjadi korb...
