-26-

361 23 2
                                    


꧁ ☼➴ ➵ ➶ ☽ ꧂

"Asher Alterga Von de Charles, aku menyukaimu." Ameera menatap lurus ke mata Ash.

Ash yang hanya diam tanpa menjawab apapun tiba-tiba mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Ameera, memanfaatkan kelengahan Ameera dia menjelajah lebih dalam. Saat Ameera sadar, Ash menuntunnya untuk mengikuti ritmenya. Ameera melingkarkan lengannya ke leher Ash, di menara yang sangat hening terdengar suara dua orang yang sedang bercumbu. "A-Ash, cukup." Ameera menghentikan tangan Ash yang akan menyentuh lebih jauh. Wajah Ameera yang awalnya pucat sekarang sangat merah, dia memperhatikan Ash yang bersandar di bahunya. Napasnya yang hangat menembus pakaian khas kuil yang sedang dikenakan Ameera. Membuat perasaannya campur aduk.

"Meera." Ash mengeluarkan suara serak, Ameera hanya berdehem sembari menundukkan kepalanya, melihat Ash yang masih menunduk. Tiba-tiba Ash mengangkat wajahnya mengatakan, "Aku mencintaimu." Lalu menarik Ameera untuk diciumnya, lagi.

"Ingat, kamu milikku selamanya." Ash mengelus pipi Ameera, menyatukan kening mereka, keduanya tidak mengatakan apapun.

"Hmm, sepertinya aku bisa keluar sekarang." Suara Daxia menggema di seluruh menara, cahaya perak yang tetap menyilaukan mata walau sudah di lihat berkali-kali ini membentuk sosok berambut hitam yang anggun. Ameera kaget, dia baru ingat dengan Daxia. 'Ukhh, Daxia pasti melihat semuanya.'

Daxia hanya tersenyum tipis melihat sepasang kekasih ini, matanya selalu mengarah ke tangan kiri Ash yang menompang tubuh setengah jiwanya. 'Entah kenapa malah aku yang merasa malu.' Daxia tersenyum dengan dahi berkerut.

Ameera menyadari padangan Daxia, lalu dia melihat posisi memalukannya saat ini. "Ash, turunkan aku." Ameera berbisik di sebelah Ash, tapi Ash tidak memedulikannya, dia memeluk tubuh Ameera lebih erat lagi. "Bicaralah, jangan pedulikan aku." Suara Ash tidak begitu jelas karena dia memendamkan kepalanya.

'Bagaimana caraku bisa tidak peduli ... ' Ameera pasrah, dia lalu melihat Daxia yang masih berdiri di hadapannya. "Ceritakan lebih lanjut mengenai menara ini."

Daxia bepikir sebentar sebelum menjawab, dia menggerakan tangannya untuk membuat kursi dari sihir es agar dia bisa bercerita dengan nyaman. "Pertama, tempat ini dulunya adalah menara sihir pertama, tapi karena perang itu seluruh menara sihir ditutup. Lalu karena kuil membeli tanah di sini, tempat ini di akui oleh kuil sebagai bagian dari tempat suci kuil. Dan semua ilusi yang kau lihat tadi adalah kenyataannya. Kematian ayahmu ada campur tangan dari Beelzebub, karena ayahmu dulu adalah panglima kegelapan, salah satu dari tiga kekuatan terbesar yang dimiliki pengguna dunia kegelapan waktu itu. Tapi karena jatuh cinta kepada dewi cahaya, panglima dilengserkan dari dunia kegelapan. Dewi cahayanya adalah ibumu."

Ameera terlonjak kaget saat tahu ibunya adalah seorang dewi, apalagi sebagai dewi cahaya. Ash menenangkan Ameera dalam pelukannya, sebenarnya Ash sudah mengetahui sebagian dari cerita daxia, dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Ameera.

Daxia melanjutkan lagi ceritanya, "Lebih tepatnya adalah dewi yang dibuang, aku hanya akan memberi tahumu sampai di sini, selebihnya tanyakan kepada ibumu sendiri. Oh, tenang saja ibumu sudah tidak ada hubungannya dengan dewi cahaya dan juga itulah alasan ibumu tidak keluar dari tempatnya saat ini. Untuk Beelzebub, dia mengincar posisi tertinggi di dunia iblis, dengan alasan dia lebih kuat dari Istvan."

"Kenapa kau bisa tahu sejauh itu?" Ameera memincingkan mata, Daxia dengan tenang berkata, "Itulah keunggulan rantai jiwa, soul akan mengetahui lebih cepat di banding jiwamu, sayangnya banyak soul yang harus membuang semua pengetahuannya kerana tidak bisa keluar dari rantai jiwa. Jadi dia harus lahir Kembali bersamaan dengan separuh jiwanya, menunggu taka da habisnya bagi kami. Beruntungnya aku bisa membagikan pengetahuanku selama ini dan menjadi kekuatan ganda untuk membantumu ke depannya. Nah, aku mohon kerja samanya, Remora!" Daxia mengulurkan tangannya. Ameera tersenyum sembari menerima uluran tangannya, "Ya, aku juga mohon bantuanmu Daxia, mari menempuh jalan ini bersama."

"Kalian berdua kembalilah lebih dahulu, aku akan meninggalkan bukti bahwa kau telah mati." Daxia melesat tanpa memedulikan keduanya.

Ash berdiri masih dengan Ameera di pelukkannya. "Kita akan langsung menemui ibumu untuk menanyakan lebih lanjut." Mereka menghilang dalam kabut hitam, sebelum Ameera sempat bertanya bagaimana dengan Jayden dan Dera.

☼➴ ➵ ➶ ☽

"Master!!" Bellona mengambil alih Ameera yang awalnya ada di pelukan Ash. Bellona membawanya ke sofa di ruang tengah.

"Jayden." Ameera mencari di sekeliling ruangan tapi dia tidak menemukan sosok buruk gagak pemalas-nya. "Apa?" Jayden tiba-tiba muncul di pundak Ameera, menggosokkan kepalanya di pipi Ameera. Ash yang melihat hanya bisa mengepalkan tangan, dia tidak bisa sembarangan melawan gagak gila ini.

"Kontrak kita akan segera berakhir, bukan?" Bukannya menjawab, Jayden malah berubah menjadi manusia, dia duduk di depan Ameera. "Aku membuat kontak seumur hidup." Nada Jayden terdengar sombong. "jayden! Kenapa kamu membuat kontrak seumur hidup? Apakah kamu tidak ingin kembali menemui rasmu yang lain? Kenapa kamu tidak bilang padaku terlebih dahulu?" Ameera meninggikan suaranya, bukannya dia tidak suka, tetapi dia memikirkan saat awal dia bertemu dengan Jayden. Jayden terlihat tidak terlalu suka dengan kontrak ini.

Jayden berlutut di depan Ameera, dia meletakkan tangan kanannya di depan dada. "Ini keputusanku Ameera, akulah yang ingin terus terikat kontrak denganmu, untuk apa juga aku kembali ke ras gagak. Lalu aku juga masih bisa kemanapun aku mau. Aku bersumpah tidak akan menyesali keputusanku ini." Jayden mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi Ameera.

"Hah ... Baiklah, aku harap kita dapat bekerja sama di masa depan seperti yang telah kita lakukan selama ini Jayden." Ameera mengulurkan tangannya, menepuk pundaknya, lalu memaksanya untuk berdiri. Karena ruangan ini terasa sunyi, dia mencoba untuk segera keluar dari sini. "Aku akan pergi menemui ibuku." Setelah Ameera keluar ruangan, Ash mengikutinya.

"Kamu harus makan lebih dulu, lalu ganti bajumu yang lusuh itu." Ash menempatkan lengannya di pundak Ameera, memaksanya berbelok ke ruang makan yang berbeda arah dengan kamarnya.

☼➴ ➵ ➶ ☽

"Ibu, ada yang ingin aku tanyakan." Ameera duduk di kursi taman, menikmati tea time tenang bersama ibunya. Michaila tersenyum lembut, dia bisa menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Ameera, dia menyesap teh oolong kesukaannya dari saat menjadi bagian dari Dewi Cahaya dulu. "Tanyakan apapun yang menggangu pikiranmu nak, aku akan menjawab semua yang kuketahui."

"Apakah ibu dulunya adalah dewi cahaya?" Ameera menatap lurus kea rah ibunya, tak memedulikan teh yang mulai dingin di depannya. Michaila meletakkan cangkir tehnya, "Itu benar, aku di jadikan kambing hitam. Mereka semua percaya bahwa aku telah membunuh keturunan dewi bulan, padahal yang melakukannya adalah saudaraku. Di dunia ini, keturunan dewi cahaya juga disebut dengan dewi cahaya. Namun secara kekuatan, perbedaan dewi cahaya dengan keturunannya sangat besar. Dewi baru bisa menjadi pemimpin setelah mendapatkan restu dari enam petinggi dunia dewa dan dewi." Ameera menyela, "Jadi hidup mereka sangat panjang? Untuk memenuhi kewajiban dan membuat terobosan baru mereka pasti berusaha sangat lama."

Michaila tertawa pelan, dia mengangguk-anggukan kepala, ini barulah anakku. Sangat pintar! Batinnya. "Tebakanmu setengahnya benar, dewa-dewi itu abadi Ameera, tapi jika mereka dibuang sepertiku itu tidak akan abadi, namun juga tidak mudah mati. Fakta lainnya, semua dewa-dewi tidak memiliki nama. Nama Michaila aku dapatkan dari ayahmu. Velipe adalah panglima dunia kegelapan yang tidak boleh berhubungan dengan dewi cahaya, begitupun sebaliknya. Namun dia melanggar itu, kekuatan ayahmu sudah mencapai hidup abadi, tapi karena dia diusir hidup abadinya lenyap." Michaila berusaha untuk menyembuyikan raut wajahnya dari Ameera, tapi Ameera sudah tahu. Sedikitnya dia tahu bagaimana rasanya dan itu semua karena menara ilusi.

Ameera mencoba mengubah topiknya, "Ibu pasti mengetahui tentang perang antara penyihir dengan iblis tahun itu 'kan? Karena ibu pasti belum bertemu ayah saat itu." Ameera menuang ulang tehnya. Sedangkan Michaila merubah raut wajahnya menjadi serius, "Ya, ibu melihatnya dengan jelas tanpa bisa melakukan apapun, karena adanya hukum dunia."

600 tahun silam. Ranah dewa dan dewi - Oblivion.

☼➴ ➵ ➶ ☽

➹ ⭐😟

Who Said She is The Evil MaidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang