"Eh?"
"Kenapa tidak ada apapun disini?" Ameera bertanya kepada Jayden yang sedari tadi hanya diam. Jayden berdecih melihat lapisan ilusi yang masih terpampang jelas, "pemalas ini pasti masih hibernasi." Gumam Jayden yang masih terdengar oleh Ameera, 'pemalas?' batin Ameera bingung, siapa yang dimaksud Jayden.
"Kau tunggu disini, aku akan berbicara dengan pemalas itu agar dia menghilangkan ilusi ini." Jayden terbang dengan cepat melewati ilusi tak kasat mata.
Beberapa menit kemudian sebuah menara tua mulai terlihat didepannya, menara itu terlihat sangat tidak terawat, dan banyak tumbuhan menutupi sebagian besar menara. Jayden kembali menghampiri Ameera, "masuk."
Saat pintu utama terbuka Ameera ternganga melihat dalam menara itu, tak seperti apa yang terlihat dari depan, didalam menara ini sangat bersih tapi, bau ramuan menyebar di seluruh penjuru ruangan. "Cih, bau busuk ini tidak pernah hilang." Gerutu Jayden.
"Kau lebih cepat sampai dari yang kupikirkan," seorang pria keluar dari salah satu bilik pintu.
Deg
Ameera merasa tidak asing dengan pria tersebut, dia merasa sangat sering bertemu, dulu. "Hahaha, sepertinya kamu menyadari sesuatu yang tidak asing bukan?" Seperti tau apa yang sedang Ameera pikirkan laki-laki itu menebak tepat sasaran.
"Yah aku rasa ini perasaan dari pemilik tubuh." Ameera berkata dengan sangat santai, dia pikir orang ini adalah orang yang sama dengan orang pemberi petunjuk. Tapi, memang itu kenyataannya.
"Ternyata kau sudah tau aku siapa," Ameera mengangguk pelan. "Kau bisa memanggilku Ramond, tapi Ameera dulu sering memanggilku Ron." Jelas Ramond singkat.
"Kau tau dimana Ameera asli berada?" Ameera melangkah menuju sofa yang ada didepannya. "Dia sudah mati," mendengar itu entah kenapa Ameera merasa dadanya bergemuruh. "Tapi kenapa malah aku terjebak disini?"
"Itu, takdirmu." Ramond mengatakan dengan wajah serius, Ameera akui Ramond ini termasuk tampan, wajahnya tegas dengan iris emerald seperti apa yang ada dalam petunjuk, dan rambutnya berwarna pirang membuatnya menjadi sangat mencolok.
"Kau siap mengetahui tentang masa lalu Ameera."
"Tentu"
Ramond mengangkat tangan kanannya kearah Ameera, mulutnya merapalkan mantra dengan cepat.
"Akhh" Ameera merasa kepalanya seperti akan pecah, perlahan dirinya mulai mengingat apa saja yang terjadi sebelum dia masuk kedalam tubuh ini.
.
.Ameera POV
"Ukhh" kenapa tempat ini sangat asing?
"Kemarin kau pingsan." Jayden datang melalui jendela yang terbuka lebar, dan apa katanya pingsan? Aku?
Kkruyukk
Akhh, memalukan kenapa suara perutku sangat keras! Ukh hilang sudah harga diriku, hiks. "Pftt, ayo turun Ramond sudah menunggumu." Kau lihat dia menertawakan ku akhh.
"Meera aku akan melatih mu mulai hari ini, kau siapkan saja barang yang diperlukan." Kata Ron, mulai sekarang aku akan memanggil dia Ron. Karena makananku sudah habis aku kembali lebih dulu ke kamar yang kutempati, kata Ron aku pingsan hampir sebelas jam. Ck ck, sangat lama.
Kami-aku, Jayden, dan Ron-berlatih dibelakang menara, disini ada tanah datar dengan rumput hijau, terlihat sangat sejuk ditambah hawa puncak gunung yang dingin.
"Kamu harus bisa mengumpulkan mana yang ada disekeliling mu, jika sudah maka kamu bisa mengendalikan elemen milikmu." Aku mengangguk patuh dan melakukan seperti perintah Ron.

KAMU SEDANG MEMBACA
Who Said She is The Evil Maid
Fantasy[ Bukan Novel Terjemahan ] Judul sebelumnya = Mystery Evil Maid with Him [ maaf chapter 7 sensian dia ke acak : ˘ ∧ ˘ : ] "Hah!" "Aku di mana? Aku siapa? Aku kenapa?" "Seharusnya sekarang aku berada di rumah sakit, bukan?" ________ Aku menjadi korb...