-16-

730 93 2
                                    

°

°

°
__________________________

"Kenapa kita harus sembunyi disini? Jika ada ular atau hewan menjijikan lainnya bagaimana? Ukhh, aku merindukan kasur empuk ku." Celoteh Ameera yang sedang berada dalam goa gelap untuk menghindari penyihir berkedok penjaga perbatasan.

"Kenapa kau berisik sekali!" Jayden merasa jika telinganya panas mendengar ocehan tidak bermutu Ameera. "Dihh."

"Kamu bisa tidur dipangkuan ku jika mau." Bisik Ash nakal. Disampingnya pipi Ameera sedikit memerah, untung saja goa ini sangat gelap. "Dasar buaya." Ameera menjauh beberapa langkah dari Ash, lalu tidur dalam posisi duduk.

"Aku manusia, hei?"

Tep

Ash memegang kepala Ameera yang nyaris terbentur bebatuan karena ambruk saat sudah tertidur pulas. Ash meletakkan kepala Ameera di pahanya dan menutupi tubuh Ameera jubahnya.

"Kenapa aku harus berada ditengah mereka berdua?.." Gerutu Jayden sebal, sudah berulang kali ia melihat pemandangan seperti saat ini.

====

"Meera, bangun." Ash menepuk-nepuk pelan bahu Ameera yang masih tertidur pulas. "Cih." Gumam Ameera, walaupun malas dia tetap bangun tanpa merasa janggal.

"Sudah lama aku tidak tidur sepulas ini." Ameera merenggangkan kedua tangannya ke atas, sebelum membeku karena ucapan Ash. "Itu karena kamu tidur di sini semalam." Ash menunjuk pahanya sendiri. Sekali lagi pipi Ameera memerah. 'Cih, kenapa ku begini?'

"Ohoo, master menyukai Tuan Ash ya?" Di alam sana suara menyebalkan Bellona terdengar meledek.

"TIDAK!" Tanpa sadar Ameera berteriak hingga membuat Ash dan Jayden kaget. "Kenapa kau malah berteriak? Jika ada seseorang datang kau yang harus menghadapinya!" Bisik Jayden dengan penuh tekanan. 'Awas kau Bellona!' Bellona hanya tertawa mendengar ancaman Ameera.

"Aku hanya perlu menghadapinya kan? Toh, jika aku yang keluar mereka akan langsung tau aku seorang pengguna sihir kegelapan." Ameera mengangkat bahu acuh.

. . .

Mereka akhirnya tiba di ibukota Lourene setelah beberapa hari berada di dalam gua. "Ehh, kenapa kita malah masuk ke mansion orang?!" Ameera memegang lengan kedua pria yang berada di sebelahnya, menariknya keluar dari gerbang mansion tanpa mendengarkan ucapan keduanya.

Tuk

Jayden mengetuk kening Ameera pelan. "Ini rumah Ash, bodoh."

"Oh, benarkah? Baiklah, aku bisa menganggapnya seperti rumah ku sendiri kan?" Ameera melesat masuk dengan gembira 'Memalukan.' Ameera mengepalkan tangannya serta memejamkan matanya, mencoba melupakan kejadian tadi, sayangnya tidak berhasil.

Mereka memutuskan untuk beristirahat selama dua hari sebelum melanjutkan perjalanan ke perbatasan Lourene dengan Fierlen, yang terkenal sebagai tempat siren tinggal. Banyak cerita mengenai para siren yang tak akan membiarkan siapapun bisa melintas dengan selamat. Sudah ribuan korban tidak kembali setelah memasuki danau Lorelai.

Berbeda dengan Ameera yang malah tertarik akan siren. Akhirnya bisa melihat siren secara langsung, pikirnya dulu. Namun, semua angan-angannya sirna setelah mendengar cerita dari Jayden. Ameera pikir siren tidak akan semenakutkan itu dan malah baik hati. Seperti seorang yang mudah dikelabui lalu diculik.

"Jika tidak ada yang bisa kembali, maka nasib orang tuaku?"

"Mereka bukan tidak bisa kembali tapi, ada sebuah kontrak yang mengikat mereka mau tidak mau. Dan orang tuamu sebenarnya bisa kembali kapanpun mereka mau, dengan kehilangan sesuatu yang berharga. Sesuatu itu adalah..." Potong Jayden, Ameera berpikir keras apa yang harus dibayarkan.

"Nyawa." Sambung Ash cepat. "Itu sama saja dengan tidak bisa kembali!" Sungut Ameera malas. "Bukan hanya nyawanya namun, juga jiwa beserta seluruh ingatan orang tersebut." Jawab Jayden pelan.

"Tapi, mereka berdua masih ada dan dalam keadaan baik, kan?" Jayden dan Ash menahan nafas, tangan mereka mengeluarkan keringat tanpa sepengetahuan Ameera. Ruangan itu sunyi, Ash mengalihkan pandangannya kearah lain begitu juga dengan Jayden.

"Kenapa kalian diam saja? Cepat, katakan apa yang kalian ketahui!" Perasaan kalut yang Ameera rasakan sangat mengganggu. Dia bukan Ameera tapi kenapa perasaan seperti ini muncul? Itu bukan orang tua aslinya, kenapa dirinya kalut?

"Sudah larut malam sebaiknya kita beristirahat sekarang." Ash bangkit untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Jayden yang hanya diam.

"JAY, JAWAB PERTANYAAN KU!"

"Kamu sudah siap mendengarnya?" Ucap Jayden tanpa melihat Ameera, dia sedikit merasa bersalah. "Sebelum itu, tolong jangan berteriak atau pergi selama aku masih berbicara."

"Baiklah."

Jayden menghela nafas panjang, "Ayahmu sudah tidak ada."

Deg

'Apa? Perasaan apa ini?' jantung Ameera terpacu cepat di dalam sana namun, wajahnya tetap fokus seakan tidak ada yang terjadi. "Ibu mu, seorang penyihir agung yang diturunkan dari jabatannya hanya karena satu kesalahpahaman. Lalu dia memilih tinggal di Arage agar semua musuhnya tidak bisa menemuinya."

".... Sedangkan ayahmu, Grand Duke Velipe pemilik pedang istana, meninggal karena orang-orang yang mengincar pedang itu. Grand Duke Velipe bukan orang yang lemah, bahkan ia sangat kuat. Tapi, karena ia memindahkan seluruh kekuatannya selama hidupnya ke dalam dirimu, semakin hari Duke Velipe menjadi makin lemah. Dia pernah bilang padaku jika, dia sama sekali tidak menyesal seandainya ia pergi saat itu juga karena bagaimanapun kamu akan tetap hidup. Pada waktu itu, ibu mu Grand Duchess Michaila sedang dalam masa pemulihan."

"Kenapa?" Potong Ameera, dia terlalu penasaran dengan asal usul tubuh ini, Ameera pikir ia tidak mungkin menjadi bangsawan namun, ternyata ia seorang keturunan keluarga Grand Duke yang melegenda.

"Dia-"

°
°
°
°⭐♥️

Who Said She is The Evil MaidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang