Part 34

9.8K 579 33
                                        

Kiara bangun saat hari sudah sore, dengan semangat ia beranjak dari ranjang. Ia membuka kopernya untuk melihat-lihat, kira-kira baju mana yang akan ia pakai untuk makan malam dengan Azka. Setelah mendapatkan bajunya, Kiara segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap.

Kiara menatap jam di tangannya, tanpa terasa sekarang sudah pukul delapan malam tapi Azka tak kunjung datang. Dan Kiara sama sekali tidak tahu di mana pria itu sekarang.  

Kiara mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Azka. Nomornya aktif tapi Azka seperti sengaja tidak mengangkat panggilannya, jelas sekali pria itu masih marah dan menghindarinya.

Kiara mematut dirinya di depan cermin, ia sudah siap dari pukul tujuh tadi. Dengan make up tipis dan dress hitamnya yang elegan. Sepertinya apa yang ia lakukan sekarang sia-sia. Karena rencana yang ia susun sejak tadi siang gagal.

Dengan kesal Kiara mengganti dress yang ia pakai dengan piyama, setelah itu ia memesan makan lewat layanan kamar. Ia sudah tidak mengharapkan lagi makan malam dengan Azka, bahkan ia tidak tahu keberadaan pria itu sekarang. Azka sendiri juga tidak berniat memerikan kabar kepadanya, pesan dan panggilan darinya juga tidak mendapatkan balasan sama sekali.

Setelah selesai makan dan membersihkan diri, Kiara segera berbaring di ranjang meskipun belum mengantuk. Bohong jika ia tidak merasa kecewa sekarang. Kiara tahu jika ia salah, tapi tidak sepatutnya Azka menghukumnya seperti ini.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipi Kiara. Kiara mengusapnya perlahan. Tapi bukannya berhenti, tetes air mata itu malah semakin deras mengalir di pipinya. Berusaha menenangkan dirinya, Kiara hanya bisa berharap semoga saat bangun besok Azka sudah berada di sisinya.

♡♡♡

Kiara menutupi matanya yang silau karena cahaya matahari yang masuk melewati sela-sela jendela. Ia menoleh ke samping kanannya dan ternyata kosong, Azka tidak ada di sana. Ia memegang bagian kasur itu dan terasa dingin.

Apakah Azka benar-benar tidak kembali ke kamar semalam?

Kiara tersenyum masam, untuk apa ia di sini jika Azka tidak mau menemuinya. Tujuannya datang ke Bali kan untuk meminta maaf kepada Azka. Tapi ia malah ditinggal sendirian.

Baiklah, jika pria itu tidak mau menemuinya, Kiara tidak akan memaksa. Kalau begitu ia sudah tidak perlu lagi berada di sini.

Dengan segera Kiara mengambil ponselnya dan mencari tiket pesawat menuju Surabaya dengan jadwal penerbangan tercepat. Setelah mendapatkannya Kiara segera mandi lalu mengemasi barang-barangnya. 

Kiara menutup kopernya setelah semua barang-barangnya sudah masuk. Ia duduk di ranjang sambil memperhatikan keseluruhan ruangan.  Mungkin ini akan menjadi kali pertama sekaligus terakhirnya menginap di hotel ini. Ia cukup sadar diri untuk tidak mengganggu hidup Azka lagi.

Ia tahu ini semua terjadi karena kesalahannya, tapi tindakan Azka yang seperti ini tidak benar juga menurutnya. Seharusnya pria itu memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan semuanya, baru setelah itu pria itu memutuskan apakah bisa memaafkannya atau tidak. Bukannya menghindar seperti ini dan mengabaikannya.

Notif di ponselnya membuyarkan lamunan Kiara, ternyata itu adalah pesan dari sopir taksi online yang sudah ia pesan. Dengan segera Kiara berdiri untuk keluar kamar dari kamar.

Ia memencet tombol lift dengan lesu. Saat pintu lift terbuka, Kiara hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri. Di dalam sana ada Azka masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin saat mereka terakhir bertemu. Azka keluar dari lift sambil menatapnya tajam, hal itu sontak membuat Kiara menunduk karena takut di tatap seperti itu oleh Azka. 

"Mau kemana kamu?" tanya Azka.

"Kiara mau pulang Mas," jawab Kiara.

Kiara menghembuskan napasnya pelan, sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata Azka untuk menjelaskan.

"Maafin Kiara ya selama ini udah merepotkan Mas. Bahkan Kiara juga belum bisa jadi istri yang baik buat Mas. Tapi Kiara janji kok, mulai sekarang Kiara nggak akan gangguin mas lagi, jadi mas tenang aja ya. Kalau gitu Kiara permisi dulu. Selamat tinggal Mas Azka." Kiara memaksakan seulas senyum di akhir kalimatnya, meskipun hatinya terasa sakit sekarang.

Setelah selesai mengatakannya, Kiara melewati Azka untuk masuk ke dalam lift. Dari sini ia bisa melihat ekspresi Azka yang terlihat datar.

Tepat setelah pintu lift tertutup Kiara kembali menangis. Kenapa Azka tidak mencegahnya?

Meskipun ia sendiri yang memutuskan pergi, tapi sebagian hati kecilnya berharap Azka akan mencegahnya. Tapi hal itu tidak terjadi, bahkan pria itu memilih bungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kiara segera menghapus air matanya saat tiba di lantai dasar. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian dan menimbulkan bahan gossip bagi para karyawan di hotel ini. Kiara tidak mau menyusahkan Azka lebih jauh lagi.

"Kiara ya?" tanya seorang sopir taksi online yang sudah menunggunya di depan hotel.

"Iya pak," jawab Kiara sambil tersenyum singkat.

"Saya bantu masukkan ya kopernya." Kiara hanya mengangguk sebagai jawaban.

Kiara melihat lagi sekeliling hotel. Detik ia meninggalkan hotel ini, detik itu juga hubungannya dengan Azka berakhir. Kiara akan berusaha ikhlas, bagaimanapun juga ini semua terjadi karena kesalahannya. Dengan segera ia membuka pintu mobil untuk pergi menuju bandara.

♡♡♡

TBC...
Udah pulang aja gapapa ya Kiara, kan masih ada Felix yang nungguin kamu 🥺

My DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang