Kiara berbaring di kasurnya, hari ini sangat mengejutkan baginya. Bagaimana tidak? Papanya yang tampak baik-baik saja ternyata terlilit hutang yang lumayan banyak. Ia tentu saja bingung, bagaimana cara melunasi hutang sebanyak 600 juta itu. Tapi ia tidak mengerti, untuk apa Papanya sampai meminjam uang sebanyak itu.
Setahunya keadaan ekonomi keluarganya baik-baik saja, ia memang bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Tapi setidaknya kehidupannya amat sangat tercukupi, bahkan ia juga dibelikan Papanya mobil sendiri. Papanya memiliki usaha rumah kontrakan, meskipun tidak terlalu banyak yang disewakan tapi itu semua sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi mereka hanya hidup bertiga dan satu asisten rumah tangga. Mungkin jika keadaan Papanya sudah membaik, Kiara akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Ia jadi mengingat lagi bagaimana kejadian tadi siang. Ia sedang makan siang bersama Papanya lalu mampir ke apotek untuk membeli obat. Tiba-tiba saja saat keluar dari apotek mereka berdua sudah dihadang oleh dua pria berbadan besar. Kejadian selanjutnya begitu cepat, tiba-tiba saja Papanya sudah tersungkur di lantai dipukul salah satu dari pria itu.
"Papa." Teriak Kiara panik sambil menghampiri Papanya.
"Apa-apaan kalian ini!" Teriaknya lagi ke arah dua pria itu.
"Kamu tanya saja sama ayahmu itu, kapan bisa melunasi hutangnya."
"Hutang apa? Papaku tidak pernah punya hutang ke siapapun."
"Ternyata Pak Tua itu belum cerita ya. Ayahmu punya hutang ke bos kami sebesar 600 juta."
"Papa?" tanya Kiara ke arah Papanya.
"Ceritanya panjang Ki," sahut Papanya lemah.
"Sudahlah, kami tidak butuh drama dari kalian, yang kami butuhkan adalah uang bos kami. Kapan Anda bisa melunasinya?"
"Aku sudah membayar uang itu dan tidak memiliki hutang lagi."
"Ah! Pak Tua ini memang banyak omong harus diberi pelajaran." Salah satu dari mereka memukul Papa Kiara lagi, membuat Kiara berteriak hiseris sambil berusaha melindungi Papanya.
Saat pria itu akan memukul lagi, saat itulah Azka datang dan menolong mereka berdua.
Kiara memijat pilipisnya setelah mengingat kejadian tadi, jika tidak ada Azka ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada ia dan Papanya. Ia sangat pusing sekarang, ia buru-buru ke meja belajar untuk mengambil obat tidur dan meminumnya, jika tidak ia yakin sampai pagi buta pun ia tidak akan terlelap. Ia memutuskan untuk tidur sekarang, untuk hari esok entahlah ia belum tahu akan melakukan apa.
♡♡♡
Azka menatap kertas di depannya, hutang ayah Kiara mencapai 600 juta. Ternyata uang itu digunakan untuk membeli sebuah tanah, Azka sendiri tidak tahu pasti tanah tersebut untuk apa. Tapi yang jelas Azka sudah melunasi semua hutang itu, pria kemarin tadi pagi datang dan menagih janji Azka untuk melunasi semua hutangnya. Sekarang Papa Kiara sudah tidak memiliki hutang. Azka bingung sendiri, untuk apa ia melunasi hutang yang bukan miliknya, ia juga baru kenal dengan Kiara. Tapi yang ia tahu, ia tidak ingin melihat Kiara sedih dan kesusahan. Urusan ini akan ia pikirkan nanti, ia yakin Kiara pasti akan menelponnya jika sudah tahu masalah ini sudah Azka selesaikan.
Kiara menuruni tangga dengan lesu, sebenarnya ia masih ngantuk tapi ia paksakan bangun karena perutnya sudah kelaparan. Kiara jadi ingat jika kemarin ia terakhir makan saat keluar dengan Papanya.
"Papa sudah enakan?" tanya Kiara saat melihat Papanya duduk di meja makan.
"Sudah, kamu baik-baik saja?" Nugroho balik bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny
ChickLit"Dia..." "Dia suamiku." Setelah mengucapkan itu Kiara segera tertunduk. "Apa?!" "Kita pulang sekarang." Tanpa kelembutan sama sekali, Azka menarik Kiara menuju mobilnya terparkir. "Ternyata seperti ini kelakuan kamu kalau di belakang suami!" uca...
