Azka sedang duduk di meja kerjanya, meneliti berkas yang perlu ia periksa satu persatu. Hingga pintu ruang kerjanya yang terbuka cukup keras mengalihkan perhatiannya. Hanya satu orang yang berani melakukan itu padanya dan orang itu adalah..
"Azka!" Teriak mamanya kencang.
"Salam dulu dong Ma." Azka menghampiri mamanya yang tampak marah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Azka sambil menyalami tangan mama dan papanya yang menyusul dari belakang.
"Kamu sengaja ya," tuduh mamanya langsung.
"Sengaja apa sih Ma," jawab Azka pura-pura tidak mengerti.
"Kan Mama udah bilang, hari Sabtu kemarin anterin Mama ke arisan teman Mama. Kamu malah kabur ke Bali."
"Aku nggak kabur Ma, kan emang lagi mantau hotel baru di Bali."
"Alesan aja, bilang aja mau menghindar. Kan mama cuma mau kamu kenalan dulu, kalo ngga cocok yaudah."
"Pa tolonglah." Azka memohon kepada papanya dengan muka memelas, hanya papanya yang bisa membuat mamanya luluh.
"Ma Azka kan lagi sibuk sama hotel barunya, biarin dia fokus sama sama pekerjaannya dulu. Urusan jodoh kan sudah ada yang mengatur, mungkin memang belum waktunya Azka bertemu dengan jodohnya." Haries mengelus lengan istrinya berharap istrinya akan mengerti.
"Anak sama bapak sama aja, Papa tuh selalu belain anaknya, jadi manja kan Azka. Mama nggak mau tau, kalau dalam waktu dekat kamu ngga kenalin cewek ke Mama, Mama akan jodohin kamu aja. Titik." ujar Lina jengkel.
"Udah-udah, sekarang kita makan siang dulu ya." Haries menuntun Lina dan memberi isyarat kepada Azka untuk segera menyusul mereka keluar.
♡♡♡
Azka menutup pintu mobil dan melambaikan tangan ke arah orang tuanya, yang sudah mulai menjauh. Ia akan berbalik menuju mobilnya terpakir, tapi langkahnya terhenti dan terpaku pada pemandangan tak jauh didepannya. Sepertinya ia kenal dengan orang itu, bukankah itu Kiara? Setelah memastikan itu benar Kiara, Azka segera menghampirinya.
"Apa-apaan ini!" Teriak Azka pada dua lelaki besar yang akan memukuli lagi pria yang sudah tersungkur di lantai.
"Kamu gapapa Kiara?" tanya Azka khawatir.
"Tolong, tolongin papaku." Kiara masih menangis sambil memeluk papanya yang masih tergeletak di lantai.
"Siapa kamu nggak usah ikut campur urusan kita," ujar salah satu pria berbadan kekar itu.
"Ada apa ini?" tanya Azka pelan, ia tidak boleh tersulut emosi karena keadaan di sini sudah cukup panas.
"Kamu tanya sama bapak tua itu, kapan bisa melunasi hutangnya. Kalau memang nggak mampu buat bayar nggak usah ngutang sama bos kita." Azka tercengang mendengar penjelasan itu, sedangkan Kiara semakin menangis sambil terus memegangi papanya yang sudah lemah.
"Ini kartu nama saya, kamu bisa datang ke alamat itu besok dan saya akan melunasi semua hutangnya," ujar Azka sambil menyerahkan kartu namanya.
"Kalau sampai bohong, habis kalian semua." Ancam salah satu dari mereka sambil berlalu pergi.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya," tawar Azka.
"Nggak perlu," jawab Papa Kiara lemah.
"Tapi Pa," paksa Kiara.
"Papa gapapa, udah ya kita pulang aja."
"Yaudah kalo nggak mau ke rumah sakit, kita ke poliklinik deket sini aja. Biar luka Papa bisa diobatin." Putus Kiara akhirnya.
"Kita ke mobilku ya," ujar Azka.
"Aku bawa mobil sendiri, tolong bantu Papaku masuk ke mobil. Setelah itu biar aku yang bawa Papaku sendiri."
"Aku saja ya yang antarkan." Paksa Azka tidak tega membiarkan Kiara sendirian.
"Baiklah terserah kamu saja," ujar Kiara mengiyakan.
Azka membopong Nugroho ke mobil Kiara. Setelah memastikan posisinya sudah benar, Azka pindah ke kursi kemudi dan melajukan mobil Kiara ke poliklinik terdekat.
Setelah mendapatkan perawatan ringan dan menebus obat, Azka tetap memaksa untuk mengantarkan Kiara pulang. Sungguh ia tidak tega membiarkan Kiara melakukan semua ini sendirian.
"Rumahmu dimana?" tanya Azka melirik Kiara dari kaca tengah mobil, dari tadi Kiara duduk di belakang menemani Papanya yang masih tampak lemah.
Kiara memberikan ponselnya yang sudah membuka aplikasi maps alamat rumahnya.
"Baiklah." Azka melajukan mobil ke alamat yang diberikan Kiara.
♡♡♡
"Ini diminum dulu." Kiara menaruh sirup leci di depan Azka ketika ia sudah sampai rumah.
"Makasih," ucap Azka ringan sambil menegak minuman yang diberikan Kiara. Ternyata ia cukup haus terbukti dari manuman yang ia minum habis tak bersisa, Kiara hanya tersenyum melihat tingkah Azka.
"Bentar aku ambilin lagi."
"Nggak perlu." Cegah Azka.
"Udah gapapa."
Saat Kiara pergi Azka memperhatikan ruang tamu di rumah Kiara. Banyak sekali foto keluarga di sini, ia juga baru tahu kalau ternyata Kiara anak tunggal. Ia pasti sangat disayang oleh orang tuanya, begitu pula sebaliknya itu semua terbukti dari foto-foto yang terpajang di dinding.
"Makasih ya buat yang tadi," ucap Kiara mengalihkan pandangan Azka dari foto yang ia lihat.
"Iya, kebetulan juga aku lagi ada di sekitar situ."
"Padahal kita baru kenal, tapi kamu udah baik banget. Aku sangat berterima kasih sama kamu, kalau nggak ada kamu aku nggak bisa bayangin apa yang akan terjadi."
"Sudahlah tidak apa, sekarang kamu istirahat ya pasti tadi sangat syok."
"Papa juga titip makasih buat kamu, Mama juga."
"Iya, kalau begitu aku pulang dulu ya. Sampaikan salam buat Papa sama Mama kamu." Azka berdiri dan keluar dari rumah Kiara.
"Kamu kan nggak bawa kendaraan, pakai mobilku aja ya. Nanti bisa aku ambil, kamu tinggal kirim alamat kamu."
"Nggak perlu, aku naik ojek aja. Udah kamu masuk istirahat."
"Sekali lagi terima kasih Azka." Kiara menunggu Azka sampai pesanan ojeknya datang.
"Oh iya, kalau ada apa-apa kabarin aku ya. Aku sangat khawatir tadi."
"No! Aku nggak mau ngerepotin kamu lagi."
"Tolonglah." Mohon Azka sambil mengulurkan ponselnya.
"Apa?" tanya Kiara tidak mengerti.
"Nomor kamu, supaya aku bisa tahu keadaanmu." Melihat Kiara yang tak kunjung mengambil ponselnya Azka akhirnya mengeluarkan kartu namanya untuk diberikan kepada Kiara. "Hubungi aku disini kalau ada apa-apa."
"Baiklah." Kiara akhirnya menyimpan kartu nama itu.
Tidak lama kemudian ojek pesanan Azka tiba, Kiara melambai ke arah Azka yang mulai menjauh dari rumahnya. Ia pria yang baik batin Kiara sambil masuk ke dalam rumahnya.
♡♡♡
TBC...
Hari ini dah mulai masuk kuliah 😣, maaf ya kalo nggak bisa sering2 update
KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny
ChickLit"Dia..." "Dia suamiku." Setelah mengucapkan itu Kiara segera tertunduk. "Apa?!" "Kita pulang sekarang." Tanpa kelembutan sama sekali, Azka menarik Kiara menuju mobilnya terparkir. "Ternyata seperti ini kelakuan kamu kalau di belakang suami!" uca...
