By: Mariam
**
Langit kini mulai berwarna jingga, karena sang surya semakin tenggelam. Anginpun berhembus kencang, meniup dedaunan hijau yang memenuhi hutan Pouli. Sore ini adalah sore yang sangat kacau bagi Kukui. Bagaimana tidak, disore ini dia baru menyadari bahwa stok makanan yang dimilikinya telah habis, dan mau tidak mau dia harus keluar dari tempat persembunyiannya dan berkeliling dihutan untuk mencari makanan. Kukui adalah manusia kunang-kunang, seharusnya kunang-kunang lebih suka beraktifitas dimalam hari, namun Kukui... Lebih suka disiang hari.
"Ah... kenapa aku harus lupa, bagai mana ini," keluh Kukui sambil mengeluarkan sebagian tubuhnya, memastikan keadaan diluar tempat persembunyiannya.
Dia tidak ingin ada kunang-kunang lain yang melihat dirinya.
"Sepertinya penduduk hutan belum beraktifitas sekarang, lebih baik aku bergegas untuk mencari makanan," ucap Kukui yang langsung bergegas pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.
-----
Kini Kukui sudah berkeliling cukup lama, makanan yang dia ambilpun sudah cukup untuk dia santap hari ini dan besok.
"Kurasa ini sudah cukup, lebih baik aku segera pulang," ucap Kukui dan segera berjalan dengan cepat menuju ketempat persembunyiannya.
Naas saat dia lengah ternyata dia berpapasan dengan beberapa kunang-kunang.
"Hah... Bagaimana ini," bisik Kukui, dia coba untuk menghindar. Tapi sayang, tiga kunang-kunang tersebut telah melihat Kukui.
"Hei tunggu," teriak salah satu kunang-kunang tersebut.
"Apakah kau Kukui?" Lanjutnya mencoba menebak seseorang yang berada dihadapannya.
"A-aku...."
"Hei benar dia adalah Kukui, hahaha," ucap kunang-kunang lainnya dengan tawa yang menggema.
"Cepat tunjukan cahaya mu Kukui, mana cahaya mu?" lanjutnya sembari sedikit memukul bagian perut Kukui.
"Hei hentikan," teriak Kukui, dia sangat kesal dengan tingkah tiga kunang-kunang dihadapannya tersebut.
Inilah yang dia tidak suka jika dia harus bertemu dengan kunang-kunang lain.
Dia adalah satu-satunya manusia kunang-kunang dihutan tersebut yang tidak bisa mengeluarkan cahaya dari perut belakangnya. Dan semua penduduk hutan mengetahui hal tersebut.
Kini hanya cemoohan dari kunang-kunang lainlah yang terus ia dengar. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk bersembunyi dan tidak ingin bertemu siapapun.
"Hei kau jangan pergi dulu, tunjukan cahaya mu," teriak tiga kunang-kunang tersebut. Melihat Kukui langsung saja berlari meninggalkan mereka bertiga.
_Brugh...._
Tanpa sengaja dia menabrak kunang-kunang lain.
"A-aku minta maaf," ucap Kukui merasa sangat bersalah. Mengingat kunang-kunang yang ia tabrak sudah hampir tua.
"Ahh tidak apa-apa, apa kau Kukui?" tanya kunang-kunang tersebut. Dia langsung mengetahui sebab hanya Kukuilah kunang-kunang yang dia temui, yang belum juga memancarkan cahaya dihari yang mulai menggelap ini.
Kukui tak kunjung menjawab pertanyaan tersebut dan masih tetap berdiri diposisinya sembari menundukkan kepalanya.
"Apa kau akan datang dipemilihan raja nanti?" tanya kunang-kunang tua tersebut.
Seketika, Kukui langsung mendongak dan menatap kunang-kunang tua yang ada dihadapannya.
"Ya Minggu depan adalah pemilihan raja baru, kau tidak menghadirinya?" tanya kunang-kunang tersebut kembali.
"Untuk apa aku menghadirinya, aku bahkan tidak bisa memancarkan cahaya," ucap Kukui, dia sangat sedih dengan kenyataan ini.
Impiannya menjadi seorang raja telah musnah, Sudak tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk mengubah semuanya.
"Hai nak, kau hanya tau bahwa kunang-kunang yang diangkat sebagai raja adalah kunang-kunang yang memiliki cahaya paling terang. Tapi kau tidak tau bagai mana perjuangan raja-raja agar dapat memancarkan cahaya yang terang bukan?"
"Memang bagaimana caranya? Ahh tapi aku pasti tidak akan bisa melakukannya, karna aku memang tidak bisa memancarkan cahaya,"
"Kau bisa, jika kau mau... aku bisa membantumu" tawar kunang-kunang tua tersebut yang langsung dibalas anggukan dengan semangat oleh Kukui.
"Baik, jika kau mau setiap senja tiba kau harus datang ke tempatku diujung selatan hutan ini"
"Baiklah, sebelumnya siapa namamu?"
"Kau bisa memanggilku Kumu"
"Kalau begitu sampai jumpa di tempatmu Kumu"
-----
Senja telah tiba, Kukui segera bersiap untuk datang ketempat Kumu, kunang-kunang yang dia temui kemarin.
Dia mulai berjalan menuju ujung selatan hutan dengan penuh semangat. Bagaimana tidak, harapannya yang telah mati seolah kini tumbuh kembali, dengan penuh keyakinan, kini dia percaya dia bisa melakukannya.
"Rupanya kau sudah sampai," ucap Kumu melihat Kukui telah tiba dengan senyuman yang merekah.
"Baiklah kita langsung mulai saja,"
Tanpa basa-basi Kumu langsung mengajak Kukui untuk berlatih, seperti melakukan beberapa gerakan tertentu. Serta memberi Kukui makanan-makanan yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh Kukui.
"Apa ini? kenapa rasanya aneh sekali?" tanya Kukui yang merasa heran dengan rasa minuman yang diberikan Kumu.
"Itu adalah ramuan yang kubuat. Minum saja, itu dapat membantumu,"
Dengan keyakinan, Kukui menghabiskan semua yang diberikan oleh Kumu.
Hal-hal seperti itu selalu Kukui lakukan selama 1 Minggu belakangan ini. Kerja keras Kukui tidak sia-sia, disetiap harinya perut Kukui mulai menampakkan cahaya sedikit demi sedikit.
Dan hari ini adalah hari dimana dilaksanakannya pemilihan raja baru di tengah hutan Pouli.
"Jadi bagaimana? mari kita langsung saja pergi ke sana,"
Mereka berdua mulai berjalan ketengah hutan, dengan senyuman yang merekah diwajah keduanya.
----
Kini Kukui mulai memasuki tempat acara tersebut dilaksanakan, semua kunang-kunang yang hadir menatap Kukui dengan aneh. Bagaimana tidak... seorang Kukui, kunang-kunang yang tidak bisa memancarkan cahaya, dia datang menghadiri acara pemilihan raja.
Melihat hal tersebut beberapa kunang-kunang juga menertawakan kehadiran Kukui.
_Trut turut..._
Suara terompet mulai berbunyi, menandakan bahwa raja akan segera tiba.
Kini cahayapun telah memenuhi tempat tersebut, cahaya yang indah dan sangat terang. Itu lah cahaya yang dipancarkan oleh sang raja.
"Selamat malam semua kunang-kunang, kini tiba saatnya untukku menurunkan mahkotaku, dan memberikannya kepada kunang-kunang yang dapat menerangi hutan kegelapan ini. Untuk itu saya harap semuanya dapat mengikuti peraturan, dan dapat memancarkan cahaya terbaik kalian. Sebelum itu, saya telah memerintahkan para prajurit untuk menilai serta mengamati apa yang telah kalian lakukan selama beberapa hari ini. Untuk itu kunang-kunang terbaik lah yang berhak untuk berdiri disini,"
Itulah ucapan raja kunang-kunang tersebut. Kukui yang melihat semakin terpesona akan aura yang ditampilkan sang raja.
Tanpa basa basi, semua kunang-kunang yang telah memenuhi syarat berbaris dengan rapih dan akan dinilai satu persatu.
Mereka semua kini mulai memancarkan cahayanya secara bergantian. Dan kini tiba saatnya Kukui memancarkan cahaya.
Banyak sekali kunang-kunang yang menertawakannya. Dan hal tersebut membuat Kukui merasa sedikit takut, namun dia tetap mencobanya. Dan.....
Cahaya terang kini mulai memenuhi tempat tersebut, cahaya yang indah terpancar dari Kukui. Semua kunang-kunang yang berada disana seketika terdiam dan takjub melihatnya. Kukui yang dikenal sebagai satu-satunya kunang-kunang yang tidak dapat memancarkan cahaya. Kini dialah yang memancarkan cahaya paling indah.
Atas semua perjuangan yg telah Kukui lakukan, akhirnya kini dia bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang raja. Raja yang dapat memancarkan cahaya yang indah,dan dapat menerangi hutan Pouli ini.
End
KAMU SEDANG MEMBACA
Fant's Antology
Short Story"Kamu... percaya dunia fantasy?" .... Highrank: #4 antologicerpen #35 antologi
