(16) Belum Berakhir

14 6 0
                                        

By: Dina

**


Sang malam masih senantiasa berteman dengan gelap. Ditemani milyaran jumlah bintang di langit nan jauh sana, tentu membuat malam kali ini makin tenang. Hanya ada air sungai yang mengalir dengan tenangnya melewati bebatuan.

Kunang-kunang kecil itu terus terbang rendah. Melewati setiap ranting-ranting pohon dan rumah hewan lainnya. Tubuh kecilnya masih senantiasa mengeluarkan cahaya, bahkan di malam yang sangat dingin sekalipun.

Nyatanya, milyaran bintang di langit, tak mampu menembus gelapnya hutan saat ini. Hutan ini telah menjulang tinggi, dengan akar pohon yang menjulur dengan kuatnya. Meski begitu, ada banyak hewan yang tinggal di dalamnya.

Sampai di rumah pohon, kunang-kunang itu bergegas mengetuk pintu sang empu rumah. Ketukannya makin cepat, saat melihat lampu mulai menyala satu-persatu dari arah dalam.

"Hei, kenapa kau kemari, Kiky?" tanya gadis bersurai hitam legam. Rambutnya nampak dicepol asal-asalan, namun tetap cantik, karena pipinya memerah meski direnggut gelap sekalipun.

Kiky, kunang-kunang itu masih terdiam. Tanpa mempedulikan pertanyaan peri dihadapannya, ia bergegas masuk. Meski, tak dipersilahkan oleh sang tuan rumah sekalipun.

"Sangat tidak sopan," gerutu Nayya lalu menutup pintu rumahnya dengan pelan. Nayya tak ingin menganggu ketenangan peri lainnya. Meskipun, lampu rumah nampak gelap, ada banyak peri yang terjaga di dalamnya. Selalu begitu, dan akan tetap begitu. Nayya beralih masuk, dan menatap Kiky yang asyik duduk beralasan kayu yang dipotong dengan ukuran kecil.

"Nay, berhentilah menggerutu. Cepat ambilkan aku air, dan aku akan memberimu kabar tentang Keluarga Emilda," jawab Kiky seolah-olah membaca pikiran Nayya.

Wajah Nayya yang tadinya kesal, sedetik kemudian berganti berbinar senang. "Benarkah, Ky?"

"Ah, tentu!"

Nayya bergegas mengambil air dari dalam, lalu memberikan pada Kiky. Segera saja, ia duduk menghadap Kiky. Nayya tak ingin, melewatkan kabar tentang Keluarga Emilda satupun!

Keluarga Emilda adalah keluarga peri bangsa atas. Bukan kasta, tapi lebih tentang pengetahuan yang lebih tinggi. Mereka dengan mudahnya, mempelajari seluk beluk serbuk sari bunga, menciptakan ramuan untuk program kerja, dan menjaga serbuk emas dengan tangan ajaib mereka. Hingga saat ini, wajah keluarga Emilda jarang diketahui publik. Hal inilah memicu Nayya, peri kecil yang selalu penasaran akan apapun itu.

Bagi Nayya, meneguk pengetahuan itu sangat penting. Nayya ingin, suatu saat nanti ia bisa masuk dan menjaga langsung serbuk emas itu. Nayya ingin pengetahuannya tinggi. Maka, tiap hari ia akan menyematkan untuk meneliti barang ciptaannya.

"Bagaimana kabar si pistol Air?" tanya Kiky membuka percakapan serius mereka.

Nayya memutar bola matanya kesal. "Bukan pistol air! Aku menciptakan _Xxt-14_ bukan tanpa nama! Jangan hiraukan kabar pistolku, cepat beritahu aku, Ky!"

Kiky tertawa ringan. Pipi Nayya yang sedari tadi masih merah, kini makin memerah sekujur wajahnya. "Santai, Nay. Aku hanya bercanda tadi, dan kuharap kau cepat menyelesaikan penemuanmu. Oh, oh jangan jadikan aku kelinci percobaan lagi! Karena aku seorang kunang-kunang bukan kelinci," tutur Kiky masih tertawa.

Brak!

"Kau kesini hanya mengejek penemuanku yang tak berguna? Dari jaman aku menciptakan mesin peralatan rumah tangga, hingga aku menciptakan pistol, kau selalu tertawa, tertawa dan tertawa! Ah, baiklah aku paham. Memang lebih baik begitu, daripada kau berkata baik, tapi hanya palsu," lirih Nayya di akhir kalimat. Nayya membalikkan tubuhnya tanda kesal. Ia akan kembali ke kamar, dan menyempurnakan ciptaanya lagi.

"Hei...." Kiky merasa tak enak. Ia terbang untuk meraih tangan Nayya. Bagaimanapun, mereka telah bersahabat sejak kecil. Tapi, entah mengapa lelucon ringan tadi mampu membuat Nayya mudah marah. Padahal, Nayya bukan peri pemarah, kecuali saat gila informasi.

"Oke, oke maaf! Tadi, aku hanya bercanda saja, tak kusangka responmu sangat jauh. Ah, tadi aku juga ingin menghiburmu saja. Aku tau, kau terlalu bekerja keras, Nay. Dan sedikit hiburan kurasa akan meringankamu," lanjut Kiky masih memegang tangan Nayya.

Naya menoleh, lalu kembali ke tempat duduknya. "Kuanggap tadi hiburan kecil. Jadi, apa informasi yang kau dapat?"

Kiky berdehem sejenak. "Tadi, aku mendengar kabar dari Ayera, bahwa Keluarga Emilda sedang mencari peri untuk menajaga serbuk emas. Kudengar juga, bahwa masih ada waktu satu bulan untuk menujukkan keahlian peri yang akan diangkat menjadi keluarga. Oh, ya. Aku juga membawa serbuk sari merah dari Ayera. Kurasa, ini akan membantu penyempurnaan ciptaanmu. Aku yakin, kau bisa, Nay!"

"Terima kasih, Ky!" Nayya tersenyum, lalu memeluk tubuh Kiky erat. Bibirnya masih mengucapkan kalimat yang sama.

"Cepatlah sempurnakan ciptaanmu, dan aku akan menunggu kabar keberhasilanmu! Baiklah, aku akan pulang sekarang. Kemungkinan, aku tak akan mengunjungimu lagi, karena besok aku akam membuktikan jati diriku. Jangan lupa, kabari jika kau menang!"

Nayya mendongak tak percaya. "Kau akan pergi?"

Kiky mengangguk." Ya, meski kecil kemungkinan menemuimu. Tapi, aku yakin kau bisa hidup tanpa aku. Bukankah, ini cita-citamu dari dulu? Aku yakim kau sangat bisa, Nay! Makanya, aku selalu mengejekmu, supaya kau tak cepat berpuas diri. Ah, maafkan juga tingkahku selama ini ya?"

"Kau gila?" tanya Nayya frustasi.

"Bagaimana bisa aku bisa meraih mimpi, sedangkan kau tak ada menemaniku di sampingku?" lanjutnya.

Kiky mengusap wajahnya kasar. "Nay, dengarkan aku. Berjanjilah kau akan berhasil ya?"

"Tap--"

"Nay? Berjanjilah!"

"Aku berjanji!" jawab Nayya hampir berteriak. Air matanya meleleh, tak bisa dipungkiri bahwa, kunang-kunang tak selamanya akan bersinar nanti. Saat cahaya mereka terenggut, saat itulah dunia mereka sama gelapnya dengan sang malam.


End

Fant's AntologyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang