By: Nova
**
Mentari terbit dari ufuk timur. Pagi ku dimulai ketika sang Surya mulai memancarkan sinarnya.
"Kemana perginya sayap cantikmu wahai putri?" suara seseorang mengacaukan aktifitas harianku menikmati suasana pagi yang menyejukkan.
Dengan terpaksa aku melihat kearah sumber suara. Dan instingku memang benar, dia adalah penasehat istana sekaligus panglima tertinggi kerajaan Peri. Atau aku memanggilnya Ayah Panglima, karena faktanya beliau lebih dekat denganku dibandingkan anak-anaknya sendiri. Begitupun sebaliknya, Ayahku merupakan seorang raja dengan segala kesibukannya menjadikan diriku hal yang penting setelah semua urusan kerajaan.
"Ayah... kapan Ayah kembali?" tanyaku seraya beranjak terbang menemui dirinya.
Aku mempunyai sayap yang indah dan sangat menawan. Namun karena setiap keindahan memiliki keburukan begitupun dengan sayapku. Aku terlahir dengan kelainan, kedua sayapku berbeda ukuran. Walaupun cantik jika dilihat, keduanya sangat tidak nyaman dipandang jika dalam jarak dekat.
Dan itu merupakan salah satu alasan mengapa ayah kandungku mengabaikan keberadaan diriku.
"Sekitar dua sampai tiga minggu lagi, ada apa gerangan wahai putri kenapa anda terlihat begitu cemas?" ucap ayah seraya merentangkan kedua tangannya sebagai perintah agar segera memeluknya.
Aku sedikit kesal dengan panggilan yang beliau padaku, terkadang Ayah angkatku itu terbawa suasana. Karena jika aku di situasi bersama keluarga kerajaan dan petinggi kerajaan beliau dengan segan memanggilku dengan posisiku Yangs sebenarnya. Namun jika hanya berdua atau hanya dengan keluarganya aku dengan tegas menyuruhnya memanggil namaku saja.
"Aku sudah bilang kan Ayah... jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak menyukainya!" tegasku dengan wajah yang dibuat-buat kesal.
Ayah terkekeh pelan, "Aku terkadang sering terbawa suasana sayang...." balasnya seraya mengelus puncak kepalaku.
"Sayap indahmu semakin membuatku iri saja nak...." lanjutnya seraya menatap sayapku dengan kagum.
Aku kembali tersenyum. Hanya beliau yang menghargai kelebihan sekaligus kekuranganku ini. Ya walaupun seluruh penghuni istana juga berkata demikian namun sebenarnya hanya dalam kata-kata dan dibelakang mereka sudah pasti menertawai diriku.
Pelukan kami berakhir dan aku melirik sebuah tas besar yang tentunya berisi perlengkapan yang beliau butuhkan selama pergi melihat daerah-daerah perbatasan yang sering rawan terjadi pemberontakan.
"kenapa aku tidak bisa ikut saja denganmu Ayah?" tanyaku.
Ayah tersenyum hangat, "pertanyaan ini lagi... kau sudah mengetahui jawabannya nak...." balasnya sendu seraya memegang bahuku.
Ayah menghela nafas panjang, "kau seorang putri nak... bagaimana bisa aku mengajak seorang putri pada situasi-situasi berbahaya aku bisa-bisa dihukum karena itu. Selain itu... kau juga seorang perempuan sayang, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di daerah perbatasan." lanjutnya menjelaskan dengan lembut.
"tapi ayah--"
"Ayah sangat menyayangimu nak... ayah tidak ingin kau terluka, cukup alasan itu yang membuat Ayah yakin kalau meninggalkan dirimu di kerajaan adalah keputusan terbaik." potong Ayah segera.
Aku menunduk pasrah, aku sudah tak dapat melawan jika ayah sudah berkata demikian. Rasanya semua keberanian dan kata-kata dibibirku berhenti di tenggorokan.
Ayah kembali memelukku, kali ini lebih erat. Dan pertahananku pada akhirnya pecah. Aku menumpahkan seluruh air mataku dan seluruh uneg-uneg yang ada di kepala ku. Setidaknya seperti ini lebih lega.
"tapi... aku benar-benar tidak betah, aku seperti burung dalam sangkar emas. Disini memang aman tapi disini aku juga tidak bahagia dengan semua kenyamanan ini Ayah." racauku dengan berlinang air mata.
Ayah melepaskan pelukan kami, menatap punggungku yang ditumbuhi kedua sayap tidak sempurna.
"Sayapmu sangat istimewa, baik dari sisi manapun... bagian itu sangat cantik...." ayah menjeda beberapa saat seraya tersenyum hangat, "cobalah untuk bertahan nak... Ayah akan selalu mendampingi dirimu. Biakan orang lain yang berkicau hal-hal apapun tentangmu tapi buktikanlah kau bisa lebih baik dari mereka. Kau paham?" jelas ayah.
Aku mengangguk mantap, "aku percaya padamu. Kembalilah dengan selamat, dan berjanjilah tidak akan meninggalkanku selamanya," jari kelingkingku mengacung membuat isyarat sumpah janji.
"Ayah akan berusaha kembali dan Ayah akan berusaha selalu mendampingimu tapi... pada dasarnya setiap orang yang kita sayang akan pergi suatu saat nanti nak." lirih ayah seraya mengecup keningku singkat.
"Hamba pamit tuan putri...."
"Ayah!!!"
Teriakanku hanya dibalas tawa oleh ayah. Aku akhirnya kembali masuk kedalam kerajaan. Yah ayah benar, belajar mencintai diri sendiri adalah cara terbaik untuk menghilangkan stres. Dan aku yakin itu.
End
KAMU SEDANG MEMBACA
Fant's Antology
Short Story"Kamu... percaya dunia fantasy?" .... Highrank: #4 antologicerpen #35 antologi
