Malik bersumpah. Dirinya belum pernah merasa naik pitam hingga badannya terasa panas kaya kebakar seperti sekarang yang ia tengah rasakan.
Pemandangan yang terselip di antara lautan manusia yang berlenggak-lenggok di atas lantai dansa, membuatnya seketika seperti kebakaran.
Seorang wanita berambut pendek oval sebahu dengan baju kelewat terbuka sedang bergerak mengikuti irama musik tanpa mempedulikan lelaki yang menempelinya di belakang. Entah ia tidak peduli atau tidak tahu bahwa lelaki sialan di belakangnya itu hendak menyentuhnya di bagian yang terlarang.
Malik tak peduli lagi dengan apa yang ia sedang kerjakan atau pun dengan siapa. Ia melesat menghampiri sosok tersebut, lalu menarik tangan wanita itu.
"Lo ngapain?!" Teriaknya kencang agar Shalitta dengar.
Laki-laki bajingan di belakang Shalitta ingin protes, namun dengan tatapan setajam silet yang diberikan Malik, laki-laki itu ciut dan akhirnya mundur.
Shalitta mengernyit menatap Malik. "Main gambus!"
Malik berdecak kesal. "Sama siapa di sini?"
"Sendiri." Jawab Shalitta tak acuh dan masih terus bergoyang mengikuti irama lagu.
Jawaban Shalitta jelas membuat Malik sakit kepala. Rasanya ia pengen ngamuk, tapi image nya yang ganteng dan kalem bisa tercoreng di pasaran.
Akhirnya dengan pengendalian diri yang super kuat, ia tak berbicara apa-apa lagi. Tangannya dengan cepat mencekal lengan Shalitta dan menariknya keluar dari lantai dansa.
Shalitta membelalak. "Ngapain sih narik-narik?!" protesnya sambil berusaha menarik lengannya dari cekalan Malik.
"Lo mau dibungkus?!" ujar Malik dengan mata melotot sempurna. Kemarahan terlihat jelas di bola matanya.
Shalitta memutar bola matanya. "Lo kira gue pecel?!"
"Nggak lucu!" balas Malik ketus.
"Ya emang! Orang yang lagi ngelawak elo!" Shalitta menarik lengannya sekuat tenaga ketika mereka sudah mencapai di parkiran kelab.
Malik menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Shalitta di belakangnya. "Pulang, Ta."
"Nggak!" tolak Shalitta mentah-mentah.
"Gue bilang, pulang!" bentak Malik.
"Gue bilang, nggak mau!" sahut Shalitta sambil berbalik dan melangkahkan kakinya kembali ke dalam kelab.
Namun Malik benar-benar nggak mau kompromi sekarang. Amarahnya udah di ubun-ubun karena mengetahui Shalitta—wanita yang kalau udah mabok benar-benar lupa sama dunia ini—membahayakan dirinya dengan clubbing sendirian kaya gini.
Langkah kakinya tegas dan mantap menyusul Shalitta yang telah berjalan menjauh. Dengan cepat dan tanpa sepengetahuan wanita itu, Malik mendekatinya dan mengangkut tubuh kurus Shalitta ke atas bahunya.
"Malik!!!" teriak Shalitta histeris.
"Pulang!!!"
***
"Berhenti! Gue turun sini aja!" Teriak Shalitta lantang. Jantungnya sudah nggak karuan akibat Malik yang menyetir ugal-ugalan, persis kaya orang kesurupan.
"Lo emang mau mati." Ucap Malik sambil menoleh ke arah Shalitta. Tatapannya pun terlihat penuh amarah.
Shalitta berdecak kesal. "Gue nggak peduli apaan maksud omongan lo barusan dan gue nggak mau tau! Turunin gue!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Shalitta ✂ - - -
Storie d'amore✂ - - - dihapus sebagian *** [Bukabotol #2] Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi. Ketika hati dan kepercayaa...
