✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
That means she and Malik will not sleep with other people. They can do anything with other people, but they will only sleep with each other.
Tapi yang Shalitta tidak paham, kenapa Malik meminta hal tersebut.
Bagi Shalitta, permintaan itu tidak sulit sebab dia memang tidak pernah tidur dengan laki-laki lain selain Malik.
Tapi Malik?
Hal itu pasti sulit.
Untuk apa Malik melakukan hal yang sulit untuk dirinya sendiri?
Pemikiran itu membuat Shalitta bertanya-tanya di dalam hati. Apakah perjanjian ini memiliki suatu arti?
Shalitta tak ingin berasumsi. Ia menolak untuk terlalu percaya diri.
Meski begitu ... hati Shalitta terlanjur kehilangan kendali hingga akhirnya ia terus saja merasa nyeri di dalam hati, ketika di malam hari, setelah mereka selesai dengan aktivitas ranjang mereka dan Shalitta mulai tertidur, Malik menyelinap keluar diam-diam dan meninggalkannya sendiri.
Layaknya hari-hari biasa sebelumnya yang telah mereka lewati.
Bahkan suatu malam, Shalitta yang sudah mulai terlelap harus kembali terjaga karena merasa pelukan Malik dari belakang tubuhnya menghilang.
Ponsel Malik berbunyi.
"Kenapa, Ri?" Shalitta bergeming di posisinya, diam-diam mendengarkan pembicaraan Malik yang suaranya setengah berbisik. "Gue lagi di tempat temen."
Mata Shalitta yang terpejam perlahan terbuka. Tangannya tanpa sadar mencengkeram sarung bantal.
"Oh gitu? Ya udah gue ke sana," jawab Malik santai. "Apartemen lo aja ah."
Dada Shalitta mendadak sesak.
"Iyaaa, cantiiiik. Ini hamba langsung jalan, bawel banget. Hadeh!"
Shalitta kembali memejamkan mata. Ia berusaha menenangkan genderang di hatinya, meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa karena memang beginilah yang seharusnya.
Hubungan mereka hanya sebatas teman tidur saja.
Tubuhnya sedikit menegang ketika tiba-tiba ia merasakan tangan Malik mendarat di atas kepalanya. Tangannya mengusap rambut Shalitta dengan lembut sebelum kemudian kecupan singkat mendarat di sana. Setelahnya Malik berdiri lalu pergi.
Mata Shalitta terbuka lagi.
Tatapannya datar dan kosong. Namun pikirannya diramaikan dengan banyak pertanyaan yang berebutan keluar dan menuntut jawaban.
Shalitta menghembuskan nafas panjang.
Untuk apa pertanyaan-pertanyaan itu? Untuk apa dijawab? Bukankah Shalitta sudah tahu jawabannya?
Ia menolak membodohi diri sendiri.
Bukannya dari dulu ... hubungan ini sudah sangat jelas sekali?
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.