✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
Jangan lupa voteeeee! Makasih yang masih terus membaca, vote dan komen di drama FTV ini <3
———
Shalitta membuka pintu apartemennya dengan senyum yang dipaksakan. Ia benar-benar berharap sepenuh hati bahwa senyumannya akan terlihat tulus dan sampai ke matanya. Ia tak ingin Galih melihat sedikit pun keganjilan di senyumannya. Ia tak ingin Galih tahu bahwa semalam, Shalitta baru saja mengkhianatinya.
"Hei." sapa Shalitta seraya mempersilakan laki-laki itu masuk.
"Hei." Galih membalas sapaannya, namun terdengar dingin dan ia melewati Shalitta begitu saja.
Shalitta memandang punggung Galih yang telah berjalan memasuki ruang tamunya dengan sedikit rasa heran. Tak biasanya Galih begini. Biasanya pria itu ceria dan bahkan selalu mengusap lembut kepala Shalitta atau mengecup keningnya jika mereka bertemu seperti sekarang.
Setelah menutup pintu, Shalitta menatap Galih yang belum juga duduk dan hanya berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Mau minum apa?" tanya Shalitta sambil berjalan ke kitchen island untuk membuatkan Galih minuman.
"Aku ke sini bukan buat minum, Ta."
Shalitta menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka kitchen cabinet di atas untuk mengambil gelas.
Kepalanya menoleh, menatap Galih dengan jantung berdegup kencang tak karuan. Ia meneguk ludahnya pelan-pelan, berusaha menyembunyikan kepanikan dengan tetap terlihat tenang.
"Maksudnya?" tanya Shalitta pelan.
Dia memang tak mengerti maksud Galih. Tadi, laki-laki itu tiba-tiba menghubunginya dan bertanya tentang keberadaannya sore ini. Entah mengapa, Galih terdengar sedikit memaksa ingin bertemu secepatnya.
Shalitta mendadak gugup. Semata-mata karena perasaan alami seorang yang punya rasa bersalah. Tidak sama sekali menebak bahwa tujuan Galih datang adalah untuk membuatnya malu dan semakin merasa seperti wanita murahan.
"Kamu tidur sama siapa semalam?"
Wajah Shalitta berubah pucat.
"Tidur dimana, Ta?" imbuh Galih seraya melemparkan tatapan yang sangat dingin hingga rasanya begitu menusuk. "Sama siapa?"
Denyut jantung Shalitta meningkat. Seluruh tubuhnya otomatis mengencang. Aliran darahnya berubah haluan hingga mendadak ia merasa kedinginan. Otot tenggorokannya mengalami kejang hingga suara Shalitta mendadak berubah parau.
"Ma—maksud kamu?" tanya Shalitta. Kalimat itu adalah kalimat basa-basi, kalimat pura-pura bodoh, satu-satunya kalimat yang bisa Shalitta keluarkan.
"Pertanyaan aku kan jelas banget, Ta. Nggak perlu aku ulang kayanya." jawab Galih dengan sorot mata yang sanggup membuat Shalitta ingin menangis sekarang juga. Ia tak tahan dengan tatapan Galih yang penuh penghakiman. "Kamu selingkuh, Ta?"
Shalitta tercekat. "Kenapa kamu tiba-tiba nuduh aku kaya gitu?"
"Nggak bisa jawab aku dulu?" alih-alih menjawab pertanyaan Shalitta, Galih malah bertanya balik.
Shalitta langsung gelagapan. Tak jago berbohong, ia kebingungan harus menjawab apa. Ia takut jawabannya malah membuatnya semakin terlihat bodoh dan tertangkap basah lebih parah. Lagipula, Shalitta tidak tahu Galih tahu tentang dosanya sejauh apa.
Galih mendengkus saat Shalitta terlihat begitu transparan, tak bisa menjawab pertanyaannya, salah tingkah nggak karuan.
"Jadi, siapa orangnya?" lanjut Galih beralih ke pertanyaan berikutnya. "Dia suruh aku tanya kamu."
Shalitta membeliak. "Ma—maksudnya?"
Galih menggelengkan kepala seraya tertawa miris. "Kamu tuh bener-bener ya, Ta. Aku beneran nggak nyangka."
Shalitta semakin tak paham.
"Udah jelas pun masih pura-pura bodoh," imbuh Galih sinis. "Cowok yang semalam angkat telepon kamu. Aku tanya dia siapa dan dia suruh aku untuk tanya sama kamu."
Saat itulah badai itu menggulung dirinya. Dadanya bergemuruh riuh saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan dari mana Galih bisa mengetahui dosanya.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.