"Lo ngapain di apotik?" Tanya Malik di telepon.
Ia baru saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan setelah melihat Shalitta yang mengenakan hoodie kebesaran serta celana tujuh per delapan menyebrang jalan dan memasuki sebuah apotik. Malik langsung menghentikan mobilnya di seberang apotik tersebut lalu menghubungi Shalitta.
"Beli obat." Jawab Shalitta singkat di seberang telepon.
"Lah, masa? Gue kira lo beli ayam bakar di sana, gue mau nitip tadinya." dengkus Malik sarkas.
"Cuk!" Umpat Shalitta.
Malik berdecih. "Lo sakit?"
Shalitta berdecak. "Iya. Asam lambung gue kumat."
Malik menghela nafas panjang. Kebiasaan Shalitta yang suka nggak makan udah sangat Malik hafal sekarang. Anak itu kadang suka nggak makan cuma karena perkara malas mikir mau makan apa. Dengan kesotoyan tingkat tinggi, bahkan wanita itu suka mengerjakan tugas malam-malam ditemani kopi. Lalu udahannya tengah malam ia akan merintih kesakitan, menelpon Malik meminta bala bantuan.
"Terakhir makan kapan?" tanya Malik sambil membuka seatbelt nya, mematikan mesin lalu keluar dari mobil.
Ia menyebrang jalan, menghampiri apotik tempat Shalitta berada.
"Nggak tau, lupa." Jawab Shalitta tak acuh.
"Minggu lalu jangan-jangan." Ujar Malik sinis.
"Lebay."
Malik membuka pintu apotik lalu celingukan mencari keberadaan wanita itu. Ia berjalan menghampiri Shalitta yang terlihat duduk di bangku tunggu di depan kasir. Tangannya masih memegang ponsel di telinganya, sedangkan yang satu lagi memegangi perutnya. Wajahnya terlihat pucat.
"Ya, lagi masa kapan terakhir makan bisa lupa," ucap Malik sambil mendudukkan dirinya di sebelah Shalitta hingga wanita itu terkesiap dan menoleh ke arahnya. Malik memutus sambungan telepon nya dan memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. "Berarti nggak makan, kan, seharian?"
Shalitta langsung melengos. Enggan menatap Malik karena sudah tau kalau Malik bisa mengetahui ia tengah berkilah.
Setelah memasuki ponselnya ke dalam kantong hoodie-nya, Shalitta menatap lurus ke depan, tidak mengacuhkan Malik yang menatapnya intens di sebelah.
"Makan," sahut Shalitta pelan. "Makan chiki."
Malik berdecak sebal. Udah tau banget Shalitta ngarang.
"Lo ngapain di sini?" tanya Shalitta berusaha mengalihkan topik.
"Tadi gue lihat lo nyebrang," jawab Malik. "Naik apa kesini?"
"Ojek."
"Ya udah, gue tungguin. Ntar gue anterin pulang."
Shalitta tak berniat menolak. Ia mengangguk tanpa menjawab apa-apa. Toh, Malik juga bakal maksa kalau ditolak dan selain itu, selama beberapa bulan ini udah seperti rutinitas bagi Malik mengantar Shalitta ke sana-sini. Terkadang Shalitta yang minta, terkadang Malik yang nawarin. Jadi, hal ini sudah terasa biasa.
Tak lama kemudian obat yang ditunggu pun siap dan mereka berdua beranjak keluar dari apotik.
"Mobil lo mana?" tanya Shalitta celingukan ke parkiran apotik.
"Di seberang." Jawab Malik menunjuk mobil mahalnya yang terparkir di seberang jalan dengan dagu.
Ia terus berjalan ke pinggir jalan dan Shalitta mengikuti di sebelahnya. Mereka berhenti sebentar untuk menunggu mobil yang berlalu lalang sebelum menyebrang. Malik berpindah ke sebelah kiri Shalitta, berdiri di arah mobil datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shalitta ✂ - - -
Romance✂ - - - dihapus sebagian *** [Bukabotol #2] Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi. Ketika hati dan kepercayaa...
