✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
"Gila, gue stress banget ngurus skripsi!" dumel Zora begitu bergabung di meja kantin bersama Shalitta dan teman-temannya. "Pada kemana hari ini? Nongkrong dulu, lah, yuk!"
Decak serempak terdengar dari semua penghuni meja, terkecuali Shalitta. Wanita itu sedang menatap fokus ke layar laptopnya dengan frustrasi. Kedua tangannya mencengkeram kedua sisi rambutnya hingga awut-awutan.
She just pulled an all-nighter.
"Zor, ini hari Selasa!" tegas Qiandra seakan tak habis pikir.
"Teruuus?" tantang Zora dengan mukanya yang sangat menyebalkan.
Qiandra menyesap rokoknya dan menyembur laki-laki itu dengan kepulan asap. "Besok gue ada bimbingan pagi-pagi." decaknya.
Zora mengangkat kedua bahu juga tangannya. "Ya, kan, besok pagi, Qi. Bukan malam ini."
"Gue takut bangun kesiangan besok!"
"Ya, nggak usah tiduuur!" seru Zora sekali lagi dengan sangat enteng.
"What—"
"Nah! Ada birthday boy!" potong Zora bersemangat.
Shalitta yang perhatiannya seribu persen ke arah laptop seketika menoleh. Fokusnya mendadak tercerai berai saat mengetahui Malik baru saja datang bergabung.
Tatapan mereka bertemu, namun Shalitta bisa melihat gelagat itu. Malik sengaja tidak mengacuhkan keberadaannya, seakan wanita itu tidak ada. Matanya langsung kembali beralih ke arah lain.
"Apaan? Udah lewat!" tampik Malik seraya mengambil teh botol milik Abaya yang tinggal setengah dan meminumnya sampai habis.
"Baru hari Minggu kemaren!" decak Zora. "Traktir, lah! Gue lagi suntuk nih. Butuh minum."
Meja yang sedaritadi hanya ribut dengan suara keluhan Zora itu sekejap berubah bising dengan seruan-seruan protes dari yang lain. Terkecuali Shalitta, tentu saja. Ia tak terlalu peduli. Kepalanya pusing.
"Weits! Jangan gitu dong, bro!" protes Abaya tak terima.
"Nggak lucu, heh! Omongan adalah doa!" sambung Qiandra sambil menepak kepala Zora.
"Amit-amiiiit!" Thalia memukul-mukul meja sambil meringis gemas.
Zora tertawa geli melihat betapa teman-temannya mudah sekali ditakut-takuti. "Jadi, gimana? Pada ikut, kan?"
"Iye, dah!" Qiandra yang paling pertama menyerah. Secara skripsinya saat ini sudah seperti bedah rumah yang tak selesai-selesai.
"Terserah, lah." decak Abaya pasrah diikuti oleh Thalia juga Pasha yang mau nggak mau juga ngikut aja.
Hanya satu orang yang sedaritadi tak bersuara.
"Ta, ikut kan?" tanya Zora saat menyadari Shalitta tak memberikan respon apa-apa.
Seketika semua mata beralih fokus ke arah Shalitta. Kecuali yang hendak punya acara. Laki-laki itu masih berdiri di ujung meja, berlagak tak acuh sambil mengutak-atik ponselnya.
Shalitta menghembuskan napas panjang. "Gue—"
"Shalitta nggak suka keramaian. Ya, kan?" potong Malik dingin.
Matanya dan Shalitta kembali beradu tajam. Entah apa yang disimpan oleh kedua kelereng berwarna cokelat tembaga itu, namun hunusannya mampu membuat Shalitta tersiksa. Tatapannya seakan ingin menunjukkan sejelas-jelasnya bahwa ia membenci Shalitta.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.