✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
Malik tahu, dirinya benar-benar sudah melewati batas. Jika Shalitta tak ingin lagi melihat mukanya, itu wajar. Kelakuannya benar-benar keterlaluan. Pelanggaran privasi adalah hal paling menjijikan dan memalukan.
Setiap hari Malik menyampaikan maaf kepada Shalitta melalui pesan, mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya. Tapi memang apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki semuanya? Mengatakan pada Galih bahwa ia biang keladi dari semuanya tidak akan ada gunanya. Shalitta tetap mengkhianati Galih, walaupun sebenarnya hal tersebut adalah ulah Malik juga. Ditambah, Shalitta tak menginginkan siapapun untuk mengetahui soal hubungan mereka.
Sejak hampir dua tahun yang lalu, Malik tidak pernah keberatan sedikit pun jika ada yang tahu. Namun berbeda dengan Shalitta, tampaknya hubungan mereka membuatnya malu. Malik tidak paham kenapa, atau memang mungkin Malik saja yang tidak punya malu.
Seminggu berlalu sejak kelancangan tolol yang ia lakukan itu. Sejak itu pula Shalitta menganggapnya seperti kuman—menatapnya penuh kebencian serta menjauhinya bahkan sebelum mereka benar-benar bersinggungan.
Beberapa kali harapan Malik menggelembung memenuhi dadanya, setiap ia tiba di kantin dan mendapati Shalitta ada di meja bersama yang lainnya. Langkahnya mengayun cepat dan penuh semangat hanya untuk akhirnya menelan kecewa karena bahkan sebelum Malik tiba di meja mereka, Shalitta yang sudah melihatnya datang akan langsung membereskan barang-barang dan pergi secepat kucing yang sedang dikejar-kejar.
Terkadang Malik nekat mendekati Shalitta di kampus mereka. Ia tak peduli jika Shalitta marah karena Malik menghampirinya di depan orang banyak, yang jelas Malik butuh bicara dengan Shalitta. Tapi beberapa kali usahanya seperti dihalangi. Selalu saja entah darimana datangnya, Thalia kemudian muncul hingga Shalitta menjadi mustahil untuk dihampiri.
Malik semakin frustrasi. Pesannya tidak ada yang dibalas sama sekali. Teleponnya apalagi.
Kepalanya pusing karena banyak hal yang tak dapat ia mengerti. Ia tak paham sebenarnya apa yang selalu ia rasakan akhir-akhir ini. Kelakuan anehnya semakin menjadi-jadi. Hal-hal yang ia pikir ia pahami, ternyata mulai terlihat tak masuk akal hingga membuatnya seringkali emosi.
Yasmin selalu memberikan pesan padanya untuk selalu fokus pada hal-hal yang bisa ia kontrol dan salah satunya adalah perasaannya. Namun semakin hari, Malik merasa kendalinya pada perasaan sendiri semakin kehilangan fungsi. Semakin ia tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri, semakin ia merasa bahwa ia tidak mengenal dirinya sendiri. Malik yang ia lihat di cermin, yang suaranya ia dengar setiap hari, terasa seperti imitasi.
Malik pikir, kegilaan ini harus berhenti. Ia adalah manusia bebas dan mandiri yang bisa mengendalikan apapun yang ia kehendaki. Namun kenyataannya, semakin ia mengambil kendali, semakin semuanya bergerak tak terkendali. Langkah dan aksi yang ia pilih, malah membuatnya semakin frustrasi. Sebab selain menyakiti orang lain, ternyata sikapnya juga berbalik menyakiti dirinya sendiri.
Seraya mendesah panjang, Malik memijat dahi dan pelipisnya berulang-ulang. Satu tangannya bertumpu di pintu mobilnya sedangkan yang satu lagi memegang erat kemudinya. Matanya lurus menatap jalan, namun pikirannya kini melayang-layang.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.