25 | sebuah ide

15.3K 1.4K 46
                                        

Shalitta sedang di kantin. Duduk di kursi panjang bersama beberapa teman-teman sekelasnya. Mejanya bersebelahan dengan meja Malik, Qiandra, Pasha, Abaya, Zora dan Thalia. Ia ingin sekali berpindah ke meja mereka dan bergabung di sana namun dirinya saat ini sedang sibuk memperhatikan tiga teman sekelasnya yang sedang berdiskusi dengan semangat mengenai tugas Pemasaran Jasa.

Ketiga teman wanitanya itu masih beradu mulut mengenai produk jasa apa yang mereka akan pilih untuk dibuat proposal promosi dan desain harganya.

"Jasa cuci sepatu aja!"

"Nggak ada yang lebih menarik apa? Harganya juga cuma berapa, anjir."

"Jasa event organizer, sih. Banyak tuh macemnya. Bisa beda-beda harganya tergantung event. Promosinya juga. Lo pengen yang lebih ribet kan?"

Shalitta tak paham kenapa teman-teman sekelompoknya harus mencari jasa yang sulit untuk tugas mereka. Risetnya pasti akan memusingkan. Mengapa tidak yang simpel-simpel saja?

"Kenapa harus yang ribet sih?" Tanya Shalitta penasaran.

"Biar pembahasannya nggak terlalu singkat, Ta. Nanti nilai kita standar kalo pembahasannya nggak menarik." Jawab Aulia si mahasiswa yang selalu memiliki IP tinggi, yang paling mendominasi dan ambisius di diskusi ini.

"Tapi yang penting kan strategi penentuan harganya tepat dan masuk akal, desain promosinya menarik terus—"

"Jasa titip aja!" Potong Aulia tak mempedulikan bahwa Shalitta sedang mengemukakan pendapatnya.

"Boleh tuh. Lagi ngetrend!" Sahut Risha setuju.

"Kenapa nggak jasa laundry dan house cleaning?" Usul Shalitta. "Type of servicenya juga banyak. Harganya beragam tergantung—"

"Eh, Sha! Lo kan suka kpop, jastip barang-barang kpop lagi menjamur banget nggak sih?" Aulia kembali memotong usulan Shalitta seakan ucapannya angin lalu saja.

Shalitta menutup mulutnya dan menghela nafas pelan.

Baiklah. Suaranya tak didengar. Mungkin usulannya memang kurang menarik. Ia akhirnya memilih diam karena bukan sekali dua kali saja ia mengalami hal seperti ini.

Pendapatnya diabaikan. Terlebih jika ia harus sekelompok dengan orang-orang pintar.

Shalitta memang bukan tergolong mahasiswa unggulan yang nilainya cemerlang. Bukan juga mahasiswa aktif berorganisasi yang sibuk sana-sini. Mungkin itu salah satu alasan mengapa suaranya kerap tidak dipertimbangkan.

Ia menopang dagu dan mengikuti diskusi ketiganya dalam diam. Matanya terkadang menerawang kosong karena ia sudah tidak fokus lagi. Toh, ia juga hanya diizinkan jadi pendengar.

Matanya seketika bertemu dengan mata Malik di meja sebelah. Laki-laki itu diam-diam memperhatikannya dengan tatapan yang tak bisa Shalitta artikan. Mereka beradu pandang sekian detik sebelum akhirnya tatapan Malik beralih. Pria itu kembali berbincang dengan Zora.

Shalitta mengernyit.


—————🎔🎔🎔—————



Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡

 Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Shalitta ✂ - - -Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang