46 | lose

19.3K 1.7K 276
                                        

Tubuh Shalitta yang bergelung dalam pelukan Malik terayun pelan ke kanan dan ke kiri, mengikuti alunan musik yang melantun begitu manis. Kesadarannya mulai menipis, wine yang malam ini menemani dirinya dan Malik sudah mereka teguk sampai habis dan membuat mata mereka kini hanya tinggal segaris.

Shalitta menghela napas begitu dalam, menghidu aroma tubuh Malik yang sudah amat ia hafal. Aroma tubuh yang telah menjadi penenang hampir satu setengah tahun belakangan.

"Aku nggak ngerti kenapa lagunya sedih gini." gumam Malik dengan suara yang terdengar mulai mengantuk. Laki-laki itu membenamkan wajahnya di antara helai rambut Shalitta, menghirup dalam-dalam wangi sampo yang selalu memicu otaknya untuk memutar ulang sebuah gambar yang telah terpatri di ingatannya—sebuah senyum manis milik Shalitta.

Kaki mereka masih mengayun beriringan, berdansa pelan dengan mata terpejam. Lantunan lagu Dreaming with A Broken Heart milik John Mayer terputar secara acak dari ponsel Shalitta.

Mereka berdua terdiam. Namun langkah mereka masih terus bergerak pelan mengikuti irama.

"Lagi mikirin apa?" tanya Malik.

"Kahlil Gibran." jawab Shalitta dengan suara lesu.

Malik mendengkuskan tawa kecil. "Oke. Ngapain mikirin dia?"

Dengan mata terpejam, Shalitta menghembuskan napas panjang sembari menyamankan posisi sandarannya di dada Malik. "Menurut dia, cinta memang tak harus memiliki karena mencintai berarti memberi, nggak pernah meminta."

Mata Malik yang terpejam membuka perlahan. Telinganya menjadi lebih siaga, menunggu kalimat lanjutan dari Shalitta.

"Menurut dia, kalau kita mencintai seseorang dengan tulus, harusnya kita nggak kecewa kalau orang yang kita cintai nggak peduli atau nggak membalas cinta kita," lanjut Shalitta dengan suara yang lebih mirip orang mengigau. "Kita nggak seharusnya mengharap balasan karena cinta itu memberi bukan meminta, dan menurut William Shakespeare, harapan adalah akar dari semua sakit hati. Orang-orang yang paling bahagia adalah orang yang paling sedikit berharap."

Ayunan langkah Malik perlahan berhenti. Shalitta pun mengikuti.

"Tapi mereka tahu nggak, ya ..." wanita itu menjauhkan wajahnya dari dada Malik untuk menatap lekat kedua bola mata yang telah ia nobatkan sebagai tempat tersesat paling menyenangkan selama hidupnya itu. "Melepaskan sesuatu yang nggak pernah kita milikki adalah salah satu hal tersulit dalam hidup."

Mata sendu Shalitta memenjara kedua mata Malik hingga keduanya tak dapat berpaling.

Malik terhipnotis. Tangannya bergerak secara otomatis mengusap pelan helai rambut yang melekat di pipi Shalitta lalu menyelipkannya di belakang telinga. "Kenapa gitu? Bukannya harusnya gampang karena dari awal jugal bukan milik kita?"

Shalitta menatap Malik begitu lekat untuk beberapa saat hingga jantung Malik pun mendadak berdegup lebih cepat. Matanya terlihat berkaca-kaca sebelum kemudian ia tertunduk dan kedua kelopak matanya perlahan menutup.

Shalitta menggeleng pelan. "Kamu nggak akan paham." Ucapnya seraya kembali merangsek ke dalam pelukan Malik.

Malik termenung bingung.

"Benar kata John Mayer," bisik Shalitta dari balik dekapan Malik. "When you're dreaming with a broken heart, the waking up is the hardest part."

Malik mengeratkan pelukannya pada Shalitta. Sesuatu dalam ucapan wanita itu membuat dirinya semakin merasa kalah.


***


Qiandra bergumam seakan berpikir. "Gue kemarin watsapan sama Shalitta dibalas, sih, Lik. Emang kenapa?" Tanya wanita itu di seberang telepon.

Malik menghela napas panjang lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Gue ... ada hutang sama dia."

"Hutang?" Qiandra kebingungan. "Ya udah bayar aja lewat goyey."

"Gue lupa jumlahnya. Makanya mau tanya. Tapi WA gue nggak dibalas," Jawab Malik berbohong dengan lancar seperti jalan tol. "Lo tau rumahnya dia dimana nggak?"

"Hah? Ini lo mau bayar hutang apa nagih hutang? Niat banget sampe mau nyamperin ke rumah." Sahut Qiandra, heran.

Sontak Malik tergagap karena dia juga bingung harus ngeles kaya apa menanggapi pertanyaan Qiandra. "Ya, hu—hutang tuh bisa ngehalangin kita masuk surga, Qi."

Qiandra ber-oh panjang diiringi "Yayaya ..." lalu wanita itu kembali bergumam panjang, mencoba berpikir mencari solusi. "Gue nggak tau alamat rumahnya juga, sih," tambah Qiandra. "Ntar gue tanyain deh, Lik."

Malik mendesah pasrah. "Bilangin dia suruh balas WA gue aja, Qi."

"Okey!" Jawab Qiandra sebelum akhirnya telepon mereka terputus.


—————🎔🎔🎔—————



Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡

 Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Shalitta ✂ - - -Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang