✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
Surprise! Ayo vote dulu, aku tau kalian semua udah menunggu adegan ini! Wkwkwk tapi sebaiknya jangan terlalu senang dulu, yah, Ferguso!^^
***
"Gue kan udah bilang, Fiq! Lo jangan dengerin omongan Inka terus!" hardik Malik di telepon dengan nada yang mulai meninggi. "Itu bini lo kebanyakan ngeliatin restoran selebgram apa gimana, sih? Banyak mau banget!"
Syafiq menghembuskan napas panjang di seberang. "Iya, iya. Ini lagi gue kasih pengertian."
"Nggak usah dikasih pengertian! Omelin aja langsung!" sahut Malik sewot. "Kalau nggak, ya, nggak usah lo dengerin ocehannya."
Syafiq berdecak. "Kasian banget calon bini lo. Pasti ntar kalau selisih pendapat, dimaki-maki mulu."
Gantian Malik yang berdecak kesal. "Kalau bini gue nanti terlalu banyak macem kaya bini lo, bisa jadi!" serunya galak.
"Ya udah, ah. Marah-marah mulu!"
"Lagian! Ngomongin soal interior mulu! Udah pernah diomongin, dibahas lagi!" sahut Malik. "Abis waktu gue buat dengerin kemauan bini lo yang ambisi banget pengen bikin beach club."
Syafiq malah tergelak geli. "Dia pengen Hotman Paris mampir."
"Bodo amat!!!"
Tawa Syafiq malah makin geli. "Ya udah. Bye!"
Tanpa membalas, Malik mematikan ponselnya dan melemparnya ke tempat tidur. Ia kembali mendaratkan fokusnya ke laptop di hadapannya dimana ia sedang berusaha sekuat tenaga memulai kembali proposal skripsinya.
Harusnya tidak sulit sama sekali sebab ia akan menjadikan rencana usahanya dengan Syafiq sebagai topik skripsinya. Namun tak disangka, kendala dalam menjalankan usahanya sendiri lah yang memperumit semuanya. Progres usahanya mandek, proposal skripsinya juga mandek akibat kekurangan waktu dan terhambat pikiran yang kusut.
Dirinya dan Syafiq—sepupunya yang berusia 29 tahun dan sudah beristri—memang sudah mengimpikan hal ini dari dulu. Malik menabung seumur hidupnya demi merintis usaha ini bersama sepupunya itu.
Konsepnya benar-benar simpel. Ia hanya ingin tempat makan yang nyaman dengan pemandangan hijau yang asri sebagai tempat healing dari hiruk pikuk keramaian kota besar. Tapi siapa sangka, Inka—istrinya Syafiq—malah punya ide segudang yang merepotkan dan mengubah konsep "tenang" jadi "berisik". Dari semua ide yang ia cetuskan—mulai dari interior hingga konsep hiburan serta makanan dan minumannya—mendadak restoran impian Malik dan Syafiq berubah jadi pool bar ala-ala yang cocok untuk party-party. Jelas, Malik kesal. Selain karena berbeda dengan konsep yang diimpikan yaitu ketenangan, ide-ide Inka membutuhkan budget yang luar biasa di luar nalar.
Belum lagi, permasalahan lahan parkir. Mereka akan menyewa lahan warga lokal untuk dijadikan parkiran. Namun tiba-tiba—entah dapat hasutan dari mana—orang yang memiliki lahan tersebut ingin meningkatkan harga sewa hampir dua kali lipat. Mau naik haji!
Malik emang orang kaya. Tapi yang kaya raya adalah bapaknya. Dia sudah menolak membantu Altair mengurus perusahaannya, jadi suatu hal yang mustahil jika Malik meminta bantuan finansial dari bapaknya.
Dengan pikiran yang semakin ngebul, Malik membuka laci meja belajarnya, mencari airpods yang biasa ia gunakan untuk mendengarkan lagu ketika ia ingin fokus. Namun seakan ingin menyumbang amarah, airpodsnya tidak terlihat di sana.
Pasti Laiqa!
"Laiqaaa!!!" teriaknya dengan kencang seperti siap makan orang.
Saat tidak mendapat sahutan, geraman keluar dari bibirnya seiring tubuhnya yang bangkit dengan kesal.
Langkahnya menjejak dengan mantap penuh amarah menghampiri kamar Laiqa. Saat mendapati kamar itu kosong, ia turun ke lantai bawah dan menemukan adiknya sedang bersantai di sofa ruang keluarga sambil nonton tv malas-malasan.
"Mana airpods ku, hah?!" bentak Malik saat ia sudah sampai di hadapan Laiqa. "Kebiasaan banget suka minjem nggak dibalikin! Lagian punya sendiri, 'kan?! Ngapain sih masih ngembat punya orang?!"
"Sorry." Laiqa menjawab santai seraya meraba ke balik tubuhnya.
"Didudukin, lagi!" protes Malik saat melihat keberadaan airpods miliknya.
"Nggak, kak!" kilah Laiqa nggak mau disalahin. "Marah-marah mulu, dah, lu ngalah-ngalahin cewek!" ucapnya seraya menjulurkan airpods milik Malik.
"Apaan lagi, sih, ini? Beranteeem mulu tiap hari," komentar Yasmin yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar perseteruan antara kedua anaknya. "Panas kuping umi dengernya, tau nggak?"
"Lagian si Laiqa pake barang orang seenaknya! Nggak pernah dibalikin lagi ke tempatnya!"
"Kak, aku baru minjem dua kali! Jangan lebay!"
"Mana ada—"
"Sssttt! Bisa darah tinggi umi, Lik, denger kamu marah-marah tiap hari!" potong Yasmin seraya menggelengkan kepala, memejamkan mata dan menutup telinganya saking nggak tahan dengan nada tinggi Malik.
"Makanya kalo sayang bilang! Biar nggak stres sendirian!" celetuk Laiqa dengan fokus tetap mengarah ke tv.
Malik memicing tajam. "Apaan, tuh, maksudnya?" tantang Malik dengan tatapan mengancam.
"Lai! Cari perkara aja, sih?" tegur Yasmin sambil mencolek kepala Laiqa yang tersandar di sandaran sofa.
Laiqa memutar bola matanya.
"Biarin, mi. Malik pengen denger ocehannya," Malik menendang pelan kaki Laiqa. "Ngomong apa barusan? Yang jelas kalo ngomong. Nggak kedengeran!"
Yasmin mendesah putus asa. "Malik ..."
"Cepetan, apaan?!"
Laiqa berdecak gemas seraya menatap tajam kakaknya itu. "Kamu itu stres karena mau pisah sama Kak Tata, 'kan?!"
Malik mendelik.
"Kamu uring-uringan sejak pulang dari pulau!" lanjut Laiqa. "Waktu abi bilang tumbenan kamu bawa cewek ke rumah, kamu baru kepikiran!"
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.