✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
Shalitta berjalan sendirian menuju gerbang kampus. Saat ini ia hendak pulang ke rumahnya di Harapan Indah menggunakan transjakarta yang kemudian akan ia sambung dengan kereta lalu ojek online. Sungguh perjalanan yang teramat panjang, bukan?
Tahukah apa penyebabnya ia lebih memilih melalui semua kesulitan tersebut padahal masih tengah minggu?
"Tata."
Yup. Manusia yang tiba-tiba saja keluar dari mobilnya di parkiran kampus dan mencegat Shalitta secepat Shinkansen inilah penyebabnya.
Shalitta memejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang saat langkahnya terhenti karena Malik mencekal lengannya.
Ia menarik pelan lengannya dari genggaman Malik, mencoba tetap tenang dan sabar.
"Pulang sama aku ya," usul Malik tanpa merasa ada yang salah. "Galih masih bimbingan, 'kan?"
"Ya, Galih masih bimbingan. Tapi aku bisa pulang sendiri." jawab Shalitta tegas.
"Sama aku aja. Searah, kan?" Malik memelas. "Please?"
"Aku pulang ke Bekasi, Lik." cetus Shalitta tak acuh seraya melanjutkan langkahnya.
Namun dengan sigap Malik menghadangnya. "Kenapa?"
Shalitta mengernyit heran. Tak habis pikir Malik masih bertanya alasan Shalitta harus bersusah-susah seperti sekarang.
Wajah polosnya terpampang. "Gara-gara aku?"
Shalitta menaikkan kedua alisnya. "Apa lagi?" ujarnya sebelum kemudian melanjutkan langkahnya.
"Tata, please—"
"Lik, ini di kampus! Aku nggak suka kamu kaya gini!" hardik Shalitta ketika Malik masih mengejar-ngejarnya. Suaranya tertahan dan matanya sesekali menyapu ke seluruh parkiran karena was-was. "Nanti ada yang lihat, Lik!"
Malik menghembuskan napas panjang. Pria itu juga terlihat mencoba untuk sabar dan mengatur emosinya. "Oke, sorry. Tapi pulang sama aku. Aku anter kamu sampe ke Bekasi."
"Nope," Shalitta menggeleng ngeri. "Never."
Malik mengernyit semakin tak mengerti akan penolakan Shalitta. Rautnya berubah seakan Shalitta baru saja menyinggungnya. "Kenapa?"
Shalitta berdecak. "Lik, please. Kamu mau apa, sih?"
"Aku cuma pengen antar kamu pulang, Tata." jawab Malik dengan nada bicara yang mulai sedikit meninggi, pertanda laki-laki itu mulai lepas kendali.
"Aku pikir kita bisa temenan normal. Kaya aku sama Pasha. Tapi ternyata nggak bisa. Kamu selalu berharap yang lain dan aku udah nggak mau ngelakuin itu, Malik."
"Kamu cium aku balik kemarin!" seru Malik dengan frustrasi.
Rasanya Shalitta tertampar. Ia benci diingatkan dengan kebodohannya hampir tiga hari yang lalu ketika Malik datang ke apartemennya seperti orang sakau.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.