✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
"Weits! Pasangan ansos akhirnya mau bergabung dengan penghuni bumi lainnya, nih!" goda Qiandra ketika Shalitta datang bersama Galih ke meja tempat Qiandra dan yang lain sedang makan siang bersama di kantin.
"Biar lo tau, Lih, Shalitta tuh rusaknya kaya apa!" imbuh Zora dengan kurang ajarnya.
"Heh, bangsat!" ceplos Shalitta.
"Nah!!!" seru Abaya, Zora, Qiandra juga Thalia dengan serempak. Sedangkan Pasha cuma geleng-geleng kepala kaya orang tua.
Galih sontak tertawa melihatnya.
Shalitta memutar bola mata dengan malas. "Udah, buru! Geseran. Kasih tempat duduk buat pacar gue!"
Akhirnya Abaya, Zora dan Thalia pun bergeser untuk memberi tempat kepada Galih. Sedangkan Shalitta duduk di hadapan Galih—di sebelah Qiandra dan Pasha.
"Shit, rame banget yang jualan minum!" tiba-tiba Malik datang ke meja mereka dengan tampang kusut.
Wajah pria itu mendadak pias ketika matanya bertemu dengan Shalitta. Urat-urat di pelipisnya tampak menegang saat kedua bola mata cokelat tembaga itu beralih menatap Galih yang juga ada di sana.
"Ya udah, ntar aja beli minumnya. Itu makanan lo keburu dingin, kali." sahut Abaya sambil menunjuk mie ayam milik Malik yang sudah di atas meja sedaritadi.
Malik berdecak. Alih-alih duduk untuk menyantap makanannya, ia malah mengambil tasnya dan menggendongnya di bahu.
"Buat lo aja, tuh. Gue udah nggak nafsu." gerutu Malik pelan sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan meja mereka tanpa basa-basi.
"Lah?" Zora dan Abaya tampak bingung.
"Nggak jelas abis." tambah Thalia sambil geleng-geleng namun tetap fokus melahap nasi gulainya.
Shalitta menatap punggung Malik yang menjauh dengan perasaan yang semakin tak menentu. Ia tahu, Malik pergi karena ia tidak suka dirinya dan Galih bergabung.
Sejak menyudahi hubungan mereka tiga bulan yang lalu, pria itu tiba-tiba berubah menjadi lebih sengit. Hubungan mereka semakin rumit. Interaksi mereka berubah menjadi pahit yang hanya akan menciptakan sesak di dada yang terasa begitu menghimpit.
Ia telah mencoba mengabaikan perasaan itu selama berbulan-bulan. Tapi ternyata ia sangat kesulitan. Shalitta tetap merasakan sebuah perasaan yang memalukan yaitu kehilangan.
"Mubazir." ucap Pasha sambil menggeser mangkuk mie ayam yang ditinggalkan Malik ke hadapannya.
"Lah! Lo nggak denger tadi Malik bilang buat gue aja?!" protes Abaya sambil berusaha merebut mangkuk tersebut dari hadapan Pasha.
"Nggak."
Dengan semena-mena, manusia es balok itu langsung menyuap mie ayam milik Malik ke mulutnya dengan wajah datar.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.