✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
Laki-laki itu menghilang selama seminggu belakangan. Inginnya Shalitta tak menghabiskan air mata untuknya namun meski hatinya sudah retak dan terbagi menjadi beberapa bagian pun nyatanya pecahannya masih tetap mampu menyimpan nama Malik.
Rasanya Shalitta bahkan malu dengan makhluk gaib yang mungkin memperhatikannya menangis hampir di setiap malam. Ia yakin mereka mengoloknya beramai-ramai sebab Shalitta terus menangisi kepedihan karena luka yang ia buat sendiri.
Shalitta sedang mengepak barang-barang dan buku-bukunya ke dalam kardus ketika Malik datang ke apartemennya. Laki-laki itu akhirnya menampakkan batang hidungnya cukup dengan satu pesan yang Shalitta kirim padanya: i need my key back.
"Taruh aja kunci sama kartu aksesnya di meja." Ucap Shalitta sambil merekatkan kardusnya dengan lakban. Tak sedikitpun ia mengerling ke arah Malik.
Jika Malik pikir pesan itu adalah modus untuk dirinya menghubungi Malik duluan, Malik salah. Shalitta tidak akan lagi memberi makan ego Malik yang gemar merajuk itu.
Shalitta memang membutuhkan kunci apartemennya yang masih dipegang Malik.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Malik seakan permintaan Shalitta hanyalah bentuk protes dan rajukan.
Shalitta benar-benar tidak habis pikir. Apa Malik pikir mereka akan terus begini setelah tingkahnya kemarin? Apa Malik benar-benar se-egois itu?
"Aku bakal balik ke rumah mulai bulan depan." Jawab Shalitta masih tanpa melihat ke arah Malik. Ia berlalu-lalang kesana dan kemari untuk mengumpulkan barang-barangnya.
"Kenapa gitu?" Malik terkesiap.
"Kuliah udah selesai. Aku udah nggak ada kelas. Jadi nggak perlu tiap hari ke kampus," jawab Shalitta tak acuh. "Aku bisa berangkat dari rumah."
Hening menyelimuti keduanya. Satu-satunya suara yang terdengar adalah robekan lakban yang digunakan Shalitta untuk menutup kardus barang-barangnya.
"Asyik, dong. Bisa minta anter Idham gitu, kan, setiap hari?" decih Malik dengan sinis.
Shalitta menjatuhkan lakban yang ia pegang dengan kesal seraya menghela napas panjang. "Here we go again."
"What?"
Shalitta memutar balik tubuhnya untuk menghadap Malik. "What the fuck are you trying to say, Malik? Langsung aja. Jangan main tebak-tebakan. Aku capek." Ujar Shalitta dengan suara lelah.
Rahang Malik mengeras. "Kamu mau balik ke dia. Iya, kan? Atau malah udah jadian sama dia?"
Shalitta menatap Malik dengan sorot mata putus asa sebelum kemudian ia menggeleng samar dan tersenyum getir. Kedua tangannya mengusap wajahnya lalu napas panjangnya lagi-lagi terhembus mengisyaratkan betapa lelahnya ia menghadapi Malik.
"Kasih tau aku, Lik. Apa urusan kamu kalau aku jadian sama Idham?" Tanya Shalitta pelan namun menantang.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.