45 | kesempatan terakhir

18K 1.7K 286
                                        

Bibir ini terasa berbeda. Meskipun sama lembutnya, tapi tetap bukan bibir yang Malik inginkan. Meskipun sama manisnya, tapi Malik tak bisa menikmatinya karena bibir ini bukan milik perempuan yang terus-terusan menghuni pikirannya.

Malik melepas ciuman itu lalu berdecak pelan. Ia bergerak menjauh dari tubuh Rielle yang setengah berbaring di tempat tidur lalu duduk di ujung ranjang tersebut, membelakangi Rielle yang termangu bingung.

"What's wrong?" tanya Rielle dengan dahi berkerut.

"Nggak mood." jawab Malik tak acuh seraya mengambil sekotak rokok dari saku bomber jacketnya. Ia mengambil sebatang rokok dari dalam kotak tersebut, menyulutnya lalu menyesapnya dalam-dalam.

"Nggak mood atau nggak tertarik?" sindir Rielle dengan senyum jahil.

Malik berdecak malas. "Apaan, sih?"

Rielle terkekeh seraya mengambil rokoknya sendiri dan ikutan menyulutnya. "Lo yang tiba-tiba nyerang gue, terus sekarang lo bilang nggak mood. Taik."

Tak ada sahutan dari Malik sebab ia juga menyadari betapa nggak jelas dirinya saat ini. Semua hal telah ia coba lakukan tapi tetap saja pikirannya terasa seperti benang kusut. Ada yang semrawut di sana dan Malik tak bisa mengurainya. Ia mencari pelarian melalui kesenangan, salah satunya mencoba kembali ke dirinya yang dulu—bermain perempuan—tapi ternyata otaknya menolak. Mendadak semua perempuan membuat kepalanya semakin pusing. Satu nama itu merusak konsentrasinya. Di sudut otaknya, tentara kecil seakan berteriakan bahwa perempuan di hadapannya bukanlah yang ia inginkan.

"Seriously, Malik. Lo nggak ngaca? Lo kaya uang seribuan yang udah pindah tangan dari tukang parkir ke abang warkop." ejek Rielle sambil menghembuskan kepulan asap dari mulutnya.

"Mungkin gue bakal marah kalau gue paham maksudnya apaan." sahut Malik dingin.

"Lecek, goblok!" seru Rielle mulai kesal. "Kenapa, sih? Spill, beb."

Malik menatap sebatang rokok yang ia mainkan di tangannya sebelum kemudian menyesapnya. "Nggak ada apa-apa."

Rielle berdecih. "Malik, lo tahu nggak sebenarnya lo tuh gampang banget ditebak? Lo tuh moody-an. Lo juga ngambekan. Lo tuh transparan kaya plastik laminating! Gampang banget nebak—"

"Ri, lo berisik banget! Gue sundut, ya!" potong Malik galak dengan kepala menoleh ke belakang untuk memberikan tatapan mautnya kepada Rielle.

Bukan takut, Rielle malah tertawa semakin ngakak. "Lo kaya gini sejak ulang tahun lo. Sejak your precious Tata nggak mau datang ke DF seperti yang lo minta."

Malik kembali memunggungi Rielle setelah memutar kedua bola matanya dengan malas.

"What happened?" tanya Rielle sambil tertawa kecil. "Lo kan langsung pulang waktu itu cuma karena dia nggak mau nyusul. Kenapa malah makin uring-uringan?"

"Nggak ada apa-apa," jawab Malik cepat. "Jangan sotoy, Ri."

Rielle mendengkus sinis. "Seriously, Malik."

"Nggak ada apa-apa!" Malik kembali memutar tubuhnya sedikit untuk menatap Rielle. Nada bicaranya meninggi seakan tidak sabar. "Gue sampe apartemennya nggak ada orang. Dia nggak ada di sana."

Rielle terkejut. Kedua alisnya serempak terangkat tinggi. "Lalu?"

Malik berdecak. "Ck, kenapa juga gue harus cerita ke lo, sih?" sahut Malik kembali memunggungi Rielle.

"Because you know i have an answer for your questions." Rielle menendang Malik dengan kaki jenjangnya.

"Sok tau!"

"Oke, kalau gitu. Pergi sana!" Rielle menendang punggung Malik dengan gemas. "Gue males lihat orang yang mukanya lecek kaya uang secengan."

Tak ingin beranjak, Malik kembali berdecak pasrah. Dalam hatinya, ia memang ingin membicarakan ini. "Waktu gue sampe di apartemen dia dan dia nggak ada, gue langsung telpon dia. Suaranya kedengaran mabok. Dia bilang dia di Camden dan gue langsung nyusul karena gue tahu dia kalau udah mabok itu beneran ngawur."


—————🎔🎔🎔—————



Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡

 Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Shalitta ✂ - - -Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang