Kaki Shalitta melangkah masuk ke dalam apartemen mewah Icha yang kini tak ada siapa-siapa. Kosong. Sunyi. Hening. Sepi.
Apartemen ini memang tidak pernah ramai. Ia diajak tinggal di sini dulu untuk menemani Icha—sahabatnya—yang mentalnya sakit karena dipaksa berpisah dengan cinta terlarangnya. Ia harus menemani sahabatnya itu agar wanita itu tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi.
Shalitta menoleh ke arah Malik setelah tangannya yang meraba dinding berhasil menemukan saklar dan menyalakan lampu.
Malik terlihat kaku. "Gue ke sini cuma ngambil barang Pasha."
Shalitta berdecak. Bola matanya berputar jengah. "Lo udah ngulang kalimat itu sejak di parkiran. You sound very stupid, tahu nggak?"
"Gue ke sini cuma ngambil barang Pasha." sahut Malik sekali lagi dengan wajah serius.
Kalimat itu diucap Malik berulang kali entah buat apa. Tapi Shalitta rasa, buat meyakinkan dirinya sendiri. Bodoh sekali nggak, sih? Dasar pria beriman tipis!
"Sebagian barangnya udah dibawa, sih. Tapi ada printilan yang belum sempat kebawa karena sampe kemarin mereka masih memadu kasih di sini."
Malik yang mengikutinya dengan ragu-ragu, mengangguk pelan. Matanya menyapu seluruh penjuru ruangan. "Gue bener-bener nggak nyangka Pasha yang rajin banget solat lima waktu bisa kaya gini. Emang otaknya bener-bener udah kerasukan jin," ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Nanti kalau gue punya anak, nggak ada cerita, lah, tinggal-tinggal di apartemen sendirian."
"Lah, lo nggak tahu kalau mereka have sex pertama kali di rumah Pasha?" Tanya Shalitta dengan lirikan santai.
Sedangkan yang diajak bicara langsung tercengang. "Demi apa?"
Shalitta mengangkat kedua bahunya.
"Astagfirullah." Gumam Malik sambil mengelus dada.
Shalitta mendengkus melihat Malik yang lagaknya sok alim tingkat dewa. Pengen muntah rasanya.
Wait.
Shalitta beneran pengen muntah.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan langsung berlari ke kamar mandi. Setelah sampai di toilet, Shalitta langsung membuka kloset dan mengeluarkan isi perutnya di sana. Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi dan beberapa kali terus memuntahkan isi perutnya yang kurang lebih isinya hanya air.
Malik menghampiri lalu dengan lembut memijat tengkuk Shalitta. "Udah makan belom?"
Shalitta yang wajahnya tenggelam di dalam kloset, hanya menjawab dengan gelengan.
Malik mendesah panjang. "Segitu patah hatinya sampe ingin mengakhiri hidup sendiri?" Ledek Malik dengan decihan. "Gue pesenin makanan, ya?"
"Nggak usah," jawab Shalitta sambil mengangkat wajahnya lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan. "Gue masak mie aja."
"Ya, udah. Gue masakin. Dimana mienya?" Tanya Malik sambil melirik ke arah dapur.
Shalitta bersandar di tembok kamar mandi sambil mendongak untuk menatap Malik. Dahinya mengerut dalam seakan heran.
"Pertama, lo kesini cuma mau ngambil barang Pasha. Kedua, emang sultan Altair bisa masak mie?" Tanya Shalitta.
Malik memutar kedua bola matanya. "Emang ada yang nggak bisa? Lebay," ucap Malik dengan wajah sungut. Kemudian ia mengulurkan tangannya. "Berdiri buruan. Kaya gembel lo disitu."
Shalitta berdecih sebal. Lalu alih-alih menerima uluran tangan Malik, ia malah menepisnya. "Nggak usah sok manis."
Dengan susah payah Shalitta membawa dirinya beranjak sendiri. Lalu ia menuju wastafel untuk cuci muka dan kumur-kumur, berusaha mengabaikan Malik yang kini menyeringai jahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shalitta ✂ - - -
Roman d'amour✂ - - - dihapus sebagian *** [Bukabotol #2] Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi. Ketika hati dan kepercayaa...
