✂ - - - dihapus sebagian
***
[Bukabotol #2]
Shalitta bermain api karena dia pikir hatinya sudah mati. Namun ternyata ia salah kali ini. Seharusnya ia tidak melakukan permainan ini karena ternyata hati nya masih berfungsi.
Ketika hati dan kepercayaa...
vote dulu ayo! Ini panjang banget 3.7k words! Takutnya ketiduran terus lupa vote wkwkwk semoga ga bosen dan tetep enjoy bacanya!^^
***
Seminggu penuh Malik tak menghubungi Shalitta sama sekali. Bahkan batang hidungnya pun nggak pernah kelihatan di kantin. Shalitta sempat khawatir. Ia takut Malik kecelakaan lalu mati gara-gara waktu itu ia mengemudikan mobil sambil emosi. Tapi dipikir-pikir lagi kayaknya nggak mungkin. Sebab jika itu benar-benar terjadi, setidaknya si culun Pasha akan mendapat kabar soal hal ini. Dia dan Abaya kan sahabatnya Malik. Berhubung mereka tenang-tenang aja, jadi sepertinya Malik masih bernyawa, sih.
Shalitta menghembuskan napas panjang seraya menatap deretan kotak teh dan kopi di lorong supermarket. Tangannya berhenti ketika ia hendak mengambil bungkusan kopi. Mendadak, ia teringat saat Malik mengomelinya dan melarang dirinya membeli kopi.
Sial. Kenapa tiba-tiba ia merindukan momen-momennya dengan Malik yang kadang membuatnya mesem-mesem kaya anak alay?
Shalitta meraih sekotak kopi dengan cepat lalu membantingnya ke dalam troli diiringi dengan dengkusan kesal.
Setiap lorong membawanya mengingat segala ocehan nggak penting Malik. Segala celetukan dan lelucon garingnya yang membuat Shalitta diam-diam tersenyum dan tertawa meski kadang ia nggak mau mengakui. Oleh karena itu, ia memutuskan, hari ini ia akan belanja dengan cepat secepat atlet lari. Biar nggak sempat mikirin hal-hal yang nggak penting.
"Tata?"
Shalitta yang sedang mengantre di kasir memutar balik badannya. "Tante Yasmin?"
Shalitta tersenyum canggung. Niat mau buru-buru biar nggak ingat-ingat Malik, malah muncul emaknya. Gimana sih ini?
"Sendirian, Ta?" tanya Yasmin seraya melambaikan tangan ke asisten rumah tangga yang mendorong trolinya-mengisyaratkannya untuk mengantre bersama di barisan Shalitta.
Yasmin mengangguk. "Iya, kalau belanja gini mah mana ada yang mau nemenin. Nggak Fatih, nggak Malik, nggak Laiqa, ih, males banget kayanya masuk supermarket. Kerjaannya nitiiip doang. Disuruh temenin nggak ada yang mau." dumel Yasmin.
Shalitta tertawa kering ketika mengingat salah seorang anak Yasmin yang waktu itu kayaknya tampak lumayan semangat menelusuri supermarket dengannya.
"Tata abis ini kemana?" tanya Yasmin.
"Pulang-"
"Nah, nggak ada acara, 'kan?" potong Yasmin dengan semangat padahal Shalitta belum selesai menjawab. "Makan siang di rumah, yuk."
"Nggak ada Malik, kok, di rumah." sahut Yasmin dengan mantap seakan ia tahu bahwa Shalitta hendak menolak karena menghindari anaknya.
"H-hah?" Shalitta jadi gelagapan.
Yasmin mengangguk antusias. "Cuma ada Laiqa sama si kembar. Fatih lagi keluar kota. Malik lagi ketemu Syafiq—sepupunya yang bakal jadi partner dia buka restoran di Bali itu, lho."
Shalitta melipat bibirnya ke dalam. Ragu. Ingin menolak tapi bingung.
"Yuk?" ajak Yasmin sekali lagi. "Malik kalau ketemu Syafiq lama. Pulangnya bisa sampe malem. Lagi sibuk banget mereka."
"Mmm ..." Shalitta masih terus berpikir.
"Lagi berantem, kan, sama Malik?" tembak Yasmin yang langsung membuat Shalitta tercengang. Melihat ekspresi Shalitta, Yasmin tertawa. "Kelihatan, Ta."
Shalitta semakin kehabisan kata-kata hingga akhirnya Yasmin hanya terkekeh seraya menepuk pelan pipi Shalitta.
Maksudnya kelihatan gimana, sih?
"Ikut, ya? Udah lama nggak main ke rumah. Dicariin terus tuh sama Shiraz dan Saurez."
Tak tahu lagi harus menolak dengan alasan apa, akhirnya Shalitta terpaksa mengangguk.
—————🎔🎔🎔—————
Author's note: baca selengkapnya di KaryaKarsa dengan beli paketnya seharga Rp 30,000. Terima kasih yang sudah mendukung dan membaca Shalitta! ♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.