Sehari setelah pembalasan dendam Izanami atas kematian keluarganya, kini dia mulai merelakan semua yang telah menimpanya. Bahkan, dia mulai berani untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya yang selama ini disembunyikan darinya. Ia kesana tak sendirian. Izanami pergi bersama keluarga baru yang sangat menyanginya, yaitu Hiyugasha.
Tempat ini bukanlah makam biasa. Hiashi membuat tempat ini sebagai komplek pemakaman khusus untuk seluruh anggota keluarga Atsuki. Jadi, dia membuat kebijakan agar tidak boleh ada satupun orang luar yang memakamkan anggotanya ataupun keluarganya di komplek ini.
Dan yang terpenting adalah tempat ini sangat tertutup, hingga semua publik tak tahu pemakaman ini khusus untuk keluarga Atsuki. Dia merahasiakan tempat ini dari banyak orang, kecuali para sahabatnya yang juga anggota 4 pilar keluarga besar.
Semuanya datang dengan berpakaian serba hitam. Entah itu berupa gaun hitam untuk para permpuan, dan setelan jas hitam untuk para laki-laki. Wajah Izanami tak menampakan rasa senang maupun sedih. Namun yang ditunjukannya hanyalah wajah datar dan tatapan kosong, setelah melihat batu nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu. Putrimu datang untuk mengunjungi kalian, setelah 8 tahun lamanya. Maafkan aku yang terlambat menyadari semuanya," lirihnya saat berada di depan batu nisan kedua orang tuanya.
Izanami mulai jongkok untuk mengelus batu nisan kedua orang tuanya. Ia mulai menyatukan tangan, dan berdoa untuk roh mereka yang sudah ada di surga. Tak lupa dia menaruh buket bunga yang sudah dibawanya itu, didekat batu nisan kedua orang tuanya untuk menghormati roh mereka. Seutas senyum tipis terlihat di bibir ranum sang gadis bersurai ungu ini.
Sebetulnya, dia masih belum percaya akan kejadian yang begitu tenang ini. Mau berkabungpun, dia juga bingung. Sejak kecil, dia sudah di didik agar mengungkapkan perasaannya pada semua orang. Tapi disaat seperti ini, dia benar-benar tidak bisa mengungkapkannya.
Lidahnya begitu kelu. Ingin menangis, namun air matanya tak bisa keluar. Dia bingung, sangat bingung. Hanya saat seperti ini sajalah, dia berubah menjadi orang yang begitu lemah.
"Tolong tinggalkan aku sendirian," pintanya pada semua anggota keluarga barunya. Ia tertunduk menahan butiran kristal yang mulai mengumpul dipelupuk matanya saat ini.
"Kami akan pulang duluan," ucap Sahara setelah mengelus kepala putrinya. Ia tau, seberapa berat kesedihan yang sekarang di pikul oleh Izanami walau hanya seorang diri saja.
Mereka meninggalkan Izanami sendirian di dalam pemakaman. Kini semuanya sudah berada di area parkiran pemakaman. Sudah terdapat dua mobil disini. Yang satu milik Hiashi, yang satu milik Takahara.
Memang putranya itu ingin membawa mobil sendiri, dengan berdalih karena tidak muat untuk duduk dikursi penumpang yang hanya bisa menampung 2 orang saja. Sungguh, sikapnya begitu aneh.
"Ayo," ajak Hiashi namun putranya hanya diam saja. Dia melirik meminta penjelasan.
"Aku akan pulang bersama Izanami, papa," ujar Takahara menjelaskan.
"Baiklah. Jaga dia baik-baik, Takahara"
Semua amggota keluarga mereka sudah pulang. Langit sudah telihat mendung. Takahara mulai mengambil payung berwarna hitam dari mobilnya untuk antisipasi jika akan turun hujan, dan langsung kembali masuk ke pemakaman untuk menjemput Izanami. Namun suara isak tangis dari Izanami, membuat Takahara langsung berhenti untuk melangkah. Dia hanya memandang pundak gadis itu yang sejak tadi sudah begetar.
"Hiks...Kenapa kalian...hiks...begitu tega meninggalkanku...hiks...sendirian?"
"Aku tau...hiks...kalian akan pulang cepat...hiks...tapi kenapa pulang cepat...hiks kepelukan yang kuasa...hiks"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Cinta Ku
Teen FictionLucy Hiyugasha. Seorang anak perempuan yang terlahir dari keluarga petarung yang sangat terkenal di Jepang dengan kekuatan bertarung yang sangat luar biasa. Lucy mewarisi sifat seperti para leluhurnya yang sangat suka bertarung untuk kebenaran. Mun...
