Pilihan yang membingungkan

12 3 0
                                    

*Flashback*

Ashura POV...

Apa kalian tahu. Disaat pintu gerbang menuju cita-cita sudah ada didepan mata, tapi kita tak mampu untuk melangkah maju.

Itulah yang kurasakan sekarang. Mau melangkah maju, tapi tak bisa. Mau menolak...tapi tak mungkin. Padahal kita sudah memperjuangkannya sebaik mungkin, tapi karena ada faktor lain yang membuat kita goyah...semua itu menjadi kacau balau.

Cita-cita? Benar juga. Bagiku...cita-cita adalah angan terbesar dalam hidup dan jika ingin mendapatkannya, kita harus memperjuangkan hal tersebut sebaik mungkin hingga bisa meraihnya.

Sebenarnya, tinggal sedikit lagi aku bisa meraih apa yang sudah di inginkan sejak lama. Seperti menangkap kunang-kunang yang terbang secara abstrak, dan mulai tak menentu arah. Namun saat sudah ada didepan mata...mereka malah kabur.

Aku bercita-cita ingin bisa masuk ke Universitas yang berada di Amerika dan mengambil jurusan Manajemen Bisnis, sama seperti ayahku dulu. Lulus dari Universitas itu, dengan nilai terbaik disepanjang angkatan.

Lalu setelah itu, aku ingin menjadi pengusaha muda yang mempunyai banyak perusahaan besar dan memiliki cabang di diseluruh dunia–mungkin.

Memang perusahan keluargaku ini sudah berada di urutan ke 2 yang sangat terkenal dalam bidang ekonomi. Dan yang nomer 1 ditempati oleh keluarga Hiyugasha.

Tapi aku ingin bisa menyaingi perusahan itu dalam beberapa hal. Namun setelah kufikir-fikir lagi...ah, rasanya itu tak mungkin. Karena perusahan itu sekarang sedang di jalankan oleh anak sulung yang sekaligus putra ataupun tuan muda dari keluarga Hiyugasha, yaitu Takahara Hiyugasha.

Walaupun dia baru lulus kuliah, dan meneruskan perusahaan keluarganya itu...tapi kinerja dalam memimpin perusahaannya itu sangatlah bagus. Semua masalah dari beberapa aspek sumbu permasalahan yang tak bisa di selesaikan oleh paman Hiashi, bisa diselesaikan olehnya dengan cepat. Aku jadi minder setelah melihat kinerjanya dalam memimpin sebuah perusahaan. Hasil dari pekerjaannya saja tidak bisa diragukan lagi. Sempurna. Itulah yang bisa ku ungkapkan untuk sosoknya yang sangat luar biasa.

Cita-citaku tinggi sekali yah. Bahkan aku sempat berfikir. Apakah mungkin cita-citaku ini terlalu tinggi, hingga disaat aku mulai goyah dan akan terjatuh...membuatku takut dengan ketinggian itu?

Hah...benar juga. Padahal aku sudah mengikuti tes untuk masuk ke Universitas itu. Tapi apa sekarang? Hasilnya sudah ada didepan mata, tapi seakan aku menyesal mengikuti tes itu.

Bukannya kenapa. Aku sangat memikirkan perasaan Cy-Chan sekarang. Kami baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah, tapi sekarang malah sudah mau berpisah lagi akibat cita-cita.

Memang, keterima di Universitas itu adalah suatu kebahagian tersendiri bagiku. Namun...bagaimana aku menyampaikan kabar bahagia ini pada Cy-Chan?

Aku tak kuat, jika harus mengatakan hal yang menyakitkan bagi hatinya itu. Bertemu saja~~ dia sudah menangis haru. Bagaimana jikalau kita berpisah lagi? Apakah dia masih mau menungguku yang pergi dari sisinya begitu lama?

Ck, sial. Kepalaku pusing saat memikirkan ini semua. Andai, andai saja dia berada disisiku dan menjawab semua kegelisahanku ini. Mungkin sekarang aku sudah tenang.

Kupegang kalung yang menggantung dileherku. Sebisa mungkin aku membayangkan dan merasakan kalau  Cy-Chan benar-benar berada disisiku saat ini, untuk menenangkan diriku  yang sedang kalut.

Rahasia Cinta KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang