Sambutan dari sang kakak

41 6 0
                                    

Setelah kemarin melewati perdepatan yang cukup panjang bagi Lucy dengan keputusannya pindah. Akhirnya, dia setuju mengikuti orang tuanya pindah kembali ke Tokyo.

Pagi sekali, mereka berangkat ke Bandara Osaka. Menggunakan Jet pribadi keluarga Hiyugasha, untuk penerbangan antara Osaka dengan Tokyo.

Singkat? Itu pasti. Bagaimana tidak. Perusahaan Hiyugasha sangat terkenal dikalangan perekonomian di Jepang. Untuk hal mudah seperti itu, pasti bisa mereka lakukan.

[8.00 Am] Bandara Tokyo....

"Akhirnya mendarat juga. Aku kangen banget sama Tokyo," seru Lucy.

"Tunggu. Bukannya, kau kemarin menolak sekali untuk pindah ke Tokyo, ya. Lucy," goda Izanami.

"I-iya sih tapi..." ucap Lucy sedikit ragu.

"Sudah, sudah. Sekarang, kita harus cepat. Karena mungkin, Takahara sudah menunggu di depan," ucap Sahara sambil menarik ke dua tangan putrinya.

Ya, memang benar. Semenjak awal orang tua Izanami menitipkan anaknya pada keluarga Lucy, dia sudah dianggap anak sendiri oleh Sahara maupun Hisahi.

"Chotto. Jadi Aniki menjemput kita di bandara?" tanya Lucy.

"Hn. katanya sih, dia bakal menjemput kita di bandara," kini Hiashi lah yang bersura.

Dari kejauhan, terlihat laki-laki dengan surai pirang yang sama dengan Lucy, sedang melambaikan tangannya ke arah mereka.

"Yo...imotou. Sudah lama tidak bertemu," teriak Takahara langsung mengamburkan dirinya pada pelukan Izanami.

Tunggu. Kenapa Izanami? Kenapa bukan Lucy?

"Sudah kuduga."

" Ne...Aniki. Begitu lama kah aku pindah, sampai kau lupa dengan wajah adikmu sendiri?" tanya Lucy dengan malasnya.

"Eh...Lucy. Tunggu. Lalu ini siapa yang kupeluk?" tanya Takahara dengan raut wajah bingung.

"Huh, lihat saja sendiri," dengus Lucy kesal.

Takahara langsung melepaskan pelukannya. Terlihat, Izanami dengan rona merah di wajah ayunya. Takahara langsung kaget, karena melihat wajah Izanami yang tadi dia peluk bukannnya Lucy.

Malu? Itu pasti. Siapa sih yang gak malu waktu kita salah meluk orang. Dan itu yang sekarang, sedang Takahara rasakan.

"Huh..menyebalkan," kata Lucy yang rasa kesalnya sudah sampai puncak over.

"La-lagian kalian sama-sama pakai topi. Ya, bagaimana aku tidak salah orang," elak Takahara sambil menunjuk wajah Lucy.

"Ck, sudah. Sekarang Aniki minta maaf pada Izanami," suruh Lucy.

"I-izanami," gumam Takara pelan.

"Hn," Lucy hanya melihat Takahara dengan tatapan malas dan wajah datar.

Takahara kembali melihat Izanami yang menundukan kepalanya, karena malu.

"Gomanasi. Izanami," mohon Takahara.

"Hn, aku maafkan. Lagi pula, hal itu wajar saja kok. Kalu kita sudah lama tidak bertemu dengan orang yang kita cintai, pasti kita akan sedikit lupa dengan wajahnya. Benar begitu, Nii-Chan?" ujar Izanami sambil tersenyum manis.

'Blush' pipi Takahara langsung merona. Baru kali ini, dia menemukan seseorang yang mau memaafkan kesalahan seseorang tanpa perlu tarik urat. Apa lagi, yang memaafkannya adalah seorang gadis yang menurutnya cukup cantik. Terus dan terus dia menatap wajah cantik Izanami. Hingga...

"Sudah cukup pandang-pandangannya. Kalu tidak, kucolok matamu itu. Takahara," kata Hiashi dengan penuh intimidasi di dalamnya.

"Haik. Papa," guama Takara ketakutan.

"Lebih baik, sekarang kita pulang ke rumah. Karena aku sudah cukup lelah tadi selama penerbangan," ujar Sahara berlalu pergi sambil menggeret kopernya menuju mobil.

"Baiklah," kata Takahara, Lucy dan Hiashi bersamaan.

Sedangkan Izanami, hanya diam sambil mengekori ketiga orang itu dari belakang. Takahara yang melihat Izanami tertinggal jauh di belakang, langsung memelankan jalannya. Saat jalannya sudah sejajar dengan Izanami, Takahara memberanikan diri untuk bertannya.

"Kau ada hubungan apa dengan imotouku," tanya Takahara pelan.

"Hn...sahabat," jawab Izanami singkat.

"Kenapa kau ikut Lucy pindah ke Tokyo?" tanya Takahara lagi.

"Karena mereka yang memintaku untuk pindah. Lagi pula, orang tuaku sudah mengizinkannya," jawab Izanami dengan tatapan lurus.

"Lalu, kenapa kau memutuskan pindah? Padahal kaukan bisa menolak ajakan itu," tanya Takahara untuk kesekian kalinya.

"Karena...kalau aku di Osaka, aku akan sendirian. Tidak ada orang yang kusayangi disisiku. Sudah lama, orang tuaku menitipkan diriku pada keluarga kalian. Aku tentu saja bisa menolak ajakan itu. Tapi aku berfikir lagi. Jika aku menolaknya, maka aku akan benar-benar sendirian," jawab Izanami dengan tatapan sendu.

Takahara yang melihat tatapan Izanami menjadi sendu, langsung memelukannya.

"Aku yakin. Kau sudah memilih, pilihan yang benar. Setidaknya, masih ada yang benar-benar menyayangimu di sisni," ucap Takahara di selala-sela pelukannya.

"Maka dari itu. Selamat datang di keluarga Hiyugasha. Izanami," lanjutnya sambil melepaskan pelukannya dari Izanami.

"Arigatou...Nii-Chan," lirih Izanami.

"Jadi keluargamu menitipkanmu pada kami, karena apa?" tanya Takahara.

"Mereka bekerja di luar negri. Ya, biasalah. Kelurga Atsuki harus melakukan itu," ucap Izanami mengangkat kedua bahunya pelan.

"Eh...Atsuki. jadi kau..," Takara menganga saking kagetnya.

Izanami yang tahu Takahara tidak percaya, langsung menganggukan kepalanya pelan.

Mereka masih larut dalam diam, hingga suara terikan Lucy memecahakan ke heningan itu.

"ANIKI. AYO CEPAT!!" teriak Lucy yang cukup menggelegar.

"Haik," balas Takahara sambil jalan menuju mobil.

Izanami hanya menatap kebahagian keluarga Lucy.

"Jadi ini, ke hangatan keluarga yang aku lupakan."





Hai guys...Balik lagi sama aku sang author cerita Azayaka.

Gimana ceritanya? tambah absrudkah? 😕

Sudahlah, yang penting aku mau kasih tau. Antara 1 atau 2 chapter lagi, Lucy bakal ke temu sama Shura-kun lagi. Tapi kayanya, sifat Shura-kun bakal berubah deh...😀

Ya, udah. Dari pada penasaran, mending baca lanjutan ceritanya di chapter selanjutnya. Tapi tunggu beberapa hari lagi ya, guys 😁 Karena author harus menyelesaikan cerita yang author bikin di buku tulis.

Sekian dari author Azayaka 🌸🌸

Rahasia Cinta KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang