—Izanami POV—
Saat aku melihat kamar Nii-Chan yang berantakan, dengan buku yang sudah tercecer kemana-mana dan...
"Nii-Chan"
Sontak aku langsung masuk ke kamar Nii-Chan tanpa meminta izin, karena melihatnya sudah tekapar dilantai yang dingin. Sudah beberapa kali aku berusaha membangunkannya, namun hasilnya nihil. Kurengkuh tubuh lemas itu kedalam pelukanku. Sedikit kusibak ramput pirang yang menutupi keningnya, dan menempelkan tangan kananku di dahinya.
"Demam," gumamku pelan.
Dengan sangat hati-hati, aku berusaha memindahkan tubuh Nii-Chan ke atas kasurnya. Di ambilnya termometer yang ada di dalam kotak P3K, untuk mengukur suhu tubuhnya.
"39°C"
Dengan cepat, aku mengambil air serta handuk kecil untuk mengompers Nii-Chan. Kuharap, ini berhasil menurunkan suhu tubuhnya.
Kutatap wajah pucat yang sedang terlelap dengan tenangnya. Rasa bersalah menghampiri hatiku.
"Andai saja, aku pulang lebih cepat. Mungkin Nii-Chan sudah dapatku tolong, hingga suhu tubuhnya tak setinggi ini," sesalku dalam hati. Apa lagi keadaan cuaca diluar yang sedikit mendung, membuat udara terasa dingin.
"Sebenarnya ada apa denganmu Nii-Chan? Kenapa kau sampai pingsaan hanya untuk belajar?"
—POV End—
Drrtt...
Ponsel Izanami berdering, hingga membuat sang empu terkejut.
"Siapa yang menelfonku?" Tanyanya dalam benak, saat melihat nomor telfon yang tak dia kenal. Ia memilih meningglkan kamar Takahara saat ingin mengangkat telfon itu, agar tak mengganggu waktu istirahat sang kakak dari sahabatnya itu.
30 Menit kemudian...
"Engh..."
Suara lenguhan, terdengar dari Takahara yang sudah sadar dari pingsannya.
"Dimana aku?" Tanyanya berusaha bangun, sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Namun badannya terlalu lemas untuk berdiri.
Krit...
Suara decitan pintu, membuat Takhara memalingkan pandangannya ke arah suara itu berasal.
"Wah, Nii-Chan sudah sadar. Yokata," Izanami tersenyum senang. Dia masuk sambil membawa nampan berisi bubur hangat dan air putih. Serta tak lupa, seragam sekolahnya yang belum di ganti semenjak pulang ke rumah.
Ia berjalan mendekati ranjang Takahara, dan menaruh nampan itu diatas nakas yang berada disamping kasur.
"Ada apa denganku? Kenapa kepalaku terasa pusing?" Tanya Takahara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nii-chan tadi pingsan saat aku baru pulang sekolah. Saat kuperiksa, ternyata kau demam. Dan suhu tubuhmu cukup tinggi," jawab Izanami sambil menarik kursi belajar Takahara dan mendekatkannya ke kasur.
"Makanlah dulu, agar kau bisa minum obat penurun panas," Izanami membujuk Takahar agar memakan bubur hangat yang sudah dia bawa. Sedangkan sang empu, hanya mengangguk patuh.
Izanami langsung membantu Takahara duduk dan bersandar di headboard. Dengan telaten, ia membantu menyuapi untuk Takahara.
Sedikit demi sedikit suapan bubur masuk kedalam mulut Takahara, hingga tak terasa bubur itu sudah habis. Izanami memberikan obat penurun demam ke Takahara dan langsung di minum, hingga air putih yang ada di dalam gelas ditegak habis olehnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Cinta Ku
JugendliteraturLucy Hiyugasha. Seorang anak perempuan yang terlahir dari keluarga petarung yang sangat terkenal di Jepang dengan kekuatan bertarung yang sangat luar biasa. Lucy mewarisi sifat seperti para leluhurnya yang sangat suka bertarung untuk kebenaran. Mun...