Keputusan yang berat

8 3 0
                                    

Hari baru dengan sejuta beban pikiran itu, sangatlah menyebalkan. Aku hanya berharap bisa disambut oleh kicauan burung yang begitu merdu, namun malah bisikan kalbu penuh dengan kegusaran yang menguar di indra pendengaranku.

Sekejap, aku menatap sinar sang surya dari bilah-bilah jendela yang masih tertutup gorden berwarna hitam. Ku usap wajah yang begitu kucel ini dengan malas.

Terbangun dari tidur akibat mimpi buruk yang menerpa bunga tidur itu, sungguh tak bisa dijadikan pertanda kebaikan hari.

Langkah gontai membawaku pergi kearah kamar mandi yang sejak tadi terus memanggil-manggil untuk dimasuki. Sekedar membilas diri dengan air yang terus berjatuhan melalui shower, bukanlah hal yang buruk untuk dinikmati.

Bahkan pagi yang hangat ini, tak bisa membuat kulitku merasakan akan nikmatnya cucuran air yang cukup dingin. Mungkin air ini bisa menyegarkan pikiranku yang penuh akan kekalutan, namun nyatanya tidak.

"Kenapa kalian tidak hilang-hilang dari pikiranku? Bahkan kalian ikut masuk kedalam bunga tidurku, hingga menciptakan suatu mimpi buruk," gumamku ditengah-tengah aliran air yang terus turun bagaikan air terjun.

Tak mau berlama-lama...aku langsung mematikan shower, dan langsung memakai handuk.

Ayolah. Kenapa sehabis mandi, pikiranku tak bisa tenang? Memori akan perkataan Cy-Chan terus berputar bagaikan, deretan kejadian yang tak bisa dihentikan didalam kepalaku.

Pantulan diriku terlihat jelas didalam cermin. Masih menggunakan balutan handuk yang terikat dipinggang dan air yang terus menetes dari kepala, membuatku berfikir keras.

"Sekacau inikah diriku, akibat tak memberitahukan suatu keputusan besar pada orang yang kucintai?" Pikiran itulah yang terus berkeliaran dalam kepalaku.

Dengan cepat aku mengenakan seragam yang tergantung didalam lemari. Entahlah, aku memakainya dengan lambat seakan tak mau pergi kesekolah hari ini.

Kalung berbentuk kucing yang berpasangan seperti punya Cy-Chan pun, kini menggantung dileherku. Penuh akan harapan agar hari ini berjalan lancar, tanpa hambatan apapun yang melanda.

♧♧♧

Sambutan dari Kaa-Chan saat baru turun dari pijakan tangga yang terakhir, membuat hatiku hangat walaupun sesaat. Aku berjalan menuju meja panjang berisi tatanan makanan yang begitu rapih. Aroma masakannya, membuat perutku keroncongan.

"Ayo makan. Kau pasti sudah laparkan Shura," ajakan Kaa-Chan membuatku langsung menyambar piring yang sedang dipegang olehnya.

Ehmmm, rasanya benar-benar lezat. Masakan Kaa-Chan benar-benar yang terbaik. Mulutku tak henti-hentinya untuk mengunyah makanan.

"Sebegitu laparnyakah kau, sampai makanan yang ada di dalam piring itu langsung dihabiskan olehmu?" sindir Kaa-Chan padaku.

Tunggu, apa? Makanannya habis.

Kutengok pirinya. Ternyata benar-benar sudah bersih, dan tak tersisa satupun butir nasi dipiringku.

Mulutku sedikit tertawa renyah, saat perkataan Kaa-Chan benar-benar terjadi terhadapku.

"Itu sudah biasa terjadi, saat Aniki terlalu keras menggunakan otaknya. Apakah Kaa-Chan lupa hal itu?" Sahut Akimaru yang masih memakan sarapanya. Smirk terlihat jelas di bibir merahnya. Adikku ini benar-benar menyebalkan rupanya.

Rahasia Cinta KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang