Serangan yang tak terduga

16 2 0
                                    

3 hari setelah kejadian yang romantis oleh Seiya dan Akina. Kini kegaduhan terjadi pada pagi hari di kediaman Hiyugasha.

Kicauan burung, sudah dari fajar saling bersahutan. Namun, anak sulung dari keluarga Hiyugasha ini masih saja belum bangun.

Lucy yang sejak tadi sudah menunggu sang kakak turun dari kamarnya, mulai kesal.

"Apa-apaan ini? Padahal kemarin dia sudah berjanji akan mengantar kami ke sekolah. Tapi lihat? Dia bahkan belum turun selangkahpun dari atas ranjangnya," geurtu Lucy sambil memandangi tangga yang kosong dan sunyi. Tak ada wujud manusia maupun derap langkah kaki seseorang.

"Ck, bikin kesal saja"

Sang ibu hanya bisa menggelngkan kepalanya saja. Perlahan dia mengelus surai pirang putrinya itu.

"Kalau kau kesal, segera bangunkan dia. Mama janji, tidak akan memarahimu kali ini. Cepatlah!! Bangunkan kakakmu yang kebo itu, dengan cara paling sadis," bisik Sahara pada telinga purinya, hingga menciptakan senyum devil di bibir ranum itu.

"Baiklah. Sesuai perintahmu mama"

Lucy langsung berjalan dan menaiki tangga yang menghubungkan ke lantai atas. Derap langkah penuh kemarahn itu, membuat sang sahabat merinding ketakuan.

"Ayo Izanami, bantu mama masak di dapur!!" Ajak Sahara pada putri keduanya itu.

"Ano...apa Nii-Chan akan baik-baik saja?" Tanya Izanami dengan penuh khawatir.

"Dia akan baik-baik saja, sungguh. Ayo!! Jika tidak cepat, kalian tidak akan sarapan nanti"

"Hm, baiklah"

Tangan Izanami mulai di tarik dengan pelan oleh Sahara. Semakin jauh dia melangkah, semakin ia takut melihat keadaan kakaknya yang akan di eksekusi oleh Lucy.

"Semoga kau baik-baik saja, Nii-Chan"

Sementara di kamar Takahara. Terdengar pintu kamar yang dibuka dengan kencang oleh gadis berambut pirang ini. Deru nafas menahan amarah sudah terlihat jelas.

Lucy kira, dia akan melihat keadaan sang kakak yang sudah siap dan rapih dengan pakaiannya. Namun apa ini? Takahara masih bergelung dengan nyaman di balik selimut tebalnya. Dengan dengkuran halus penuh ketenangan.

"Ya, ampun. Sejak kapan aku memiliki kakak yang pemalas seperti ini?" sesalnya dalam hati sambil menepuk dahinya dengan pelan.

Diliriknya nakas disamping ranjang sang kakak. Ada sebuah teko yang masih terisi penuh dengan air. Ide licik terlintas di pikirannya. Diambilnya teko itu, dan langsung disiramkan ke wajah sang kakak.

"Minunlah para bungaku. Cepatlah tumbuh, agar ibumu ini dapat melihat keindahan dan wangi semerbak dari kalian," ucapnya sembari menyiramkan seluruh air yang ada di teko itu ke wajah Takahara.

"Uhuk...uhuk...Lucy, apa yang kau lakukan?" Takahara terbangun dan tebatuk-batuk saat air itu masuk ke dalam lubang hidungnya.

"Menyiram bunga yang berada di alam mimpimu itu. Cepat bangun. Kemarin Aniki sudah janji pada kami, akan mengantar ke sekolah. Jika kau tidak mau, kami akan meminta supir mengantar ke sekolah"

Lucy menaruh kembali teko air yang sudah kosong itu ke atas nakas. Ia keluar dari kamar sang kakak seolah ia tak melakukan apa-apa.

"Huh, dasar"

○○○

Perjalanan menuju ke sekolah itu di isi dengan ke heningan. Izanami menatap wajah sang sahabat dengan penuh kebingungan.

Rahasia Cinta KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang