ku terima tantanganmu

34 6 0
                                    

Normal Pov

Semua tercengang saat Lucy membalas tantangan dari Karin.

'Yang benar saja,' batin semua siswa yang ada di kantin kecuali Izanami yang notabennya sahabat Lucy. Ia hanya menyunggingkan senyum pasrah pada sang sahabat. Sedangkan sang empu, masih bermuaka datar karena kesal.

'Heh. Aku jadi target buly? Tak akan kubiarkan siapapun melakukannya,' batin Lucy meremehkan.

"Ayo Izanami, kita pergi. Aku udah gak Mood makan," ajak Lucy pada sahabatnya sambil melangakah pergi kearah yang berlawanan dengan Karin. Sedangkan Izanami langsung bangun dari bangkunya.

"Baikalah, baiklah. Padahal kau yang mengajarkanku, agar tidak macam-macam pada teman baru. Sekarang, malah kau yang bersenang-senang. Ya ampun," tanggap Izanami kesal yang masih setia mengekori sahabatnya.

"Tapi ingat Lucy. Jangan berlebihan melakukan suatu hal. Terakhir kali kau ribut dengan teman disekolah lama,  tulang tangannya jadi patah karenamu," lanjutnya hingga membuat semua murid di kantin jadi bergedik ngeri.

"Hey, sudahlah. Kau terlalu melebih-lebihkan. Lagi pula, anak itu sekarang sudah bisa menulis lagi bukan," ungakp Lucy mengikatkan.

"Ah, benar juga," ingat Izanami secara spontan.

Sekarang, sosok mereka benar-benar hilang dari kantin. Suasananya benar-benar hening. Mereka masih tidak percaya, kalau anak baru itu berani melawan Karin dan Okudera yang paling di takuti disekolah.

"Wah, kurang ngajar itu anak. Lihat saja kau bocah pirang," geram Karin yang mulai kesal, tapi di tahan oleh Okudera agar tidak ngamuk.

"Sudahlah Karin-Chan. Lebih baik kita menyusun rencana untuk membalas anak itu, yang sudah mempermalukanmu di depan semua orang," bisik Okudera dengan pelan agar tidak ada yang mendengarnya kecuali Karin.

"Baiklah. Ayo pergi, Okudera," sahut Karin yang melenggang pergi.


***

Ashura langsung duduk dibangku yang ditempati oleh Indra dan kekasihnya.

"Benar-benar itu, si cabai merah dan hijau. Mereka tidak ada kapok-kaponya," kesal Indra pada sikap Karin dan Okudera.

Yap, benar. Di sekolah ini, Karin dan Okudera bukan hanya disebut pribadona dan sahabatnya. Kadang, kalau para siswi perempuan sudah kesal dengan mereka. Julukannyapun juga ikut berubah, yaitu menjadi Duo Cabai Rawit.

Karin yang berambut merah membuatnya mendapatkan julukan rawit merah dan Okudera yang  bermbut hijau tua bak rawit hijau.

"Sudahlah Indra-Kun. Jangan seperti itu. Bagaimanapun juga, mereka adalah teman sekelasmu," nasihat Saki pada Indra.

"Astaga, kau ini benar-benar wanita berhati malaikat ya. Di saat Okudera mendekati Indra Senpai, kau hanya cuek," ucap Akina tanpa rasa bersalah.

"Aku bukannya cuek Akina. Tapi aku hanya memantau mereka saja. Kalu dia macam-macam pada Indra-Kun. Maka aku akan menghabisinya," terang Saki dengan aura hitam disekelilingnya sambil menunjukan pisau nan tajam, yang entah dia dapatkan dari mana pada Akina.

Saki. Sang gadis berparas cantik dan berhati malaikat. Namun terkenal sadis, saat ia tidak suka pada suatu hal yang mengganggunya.

"Hey, hey. Jangan seperti itu. Dan bisakah kau, turunkan pisaumu itu Saki," ujar Akina ketakutan karena sosok Saki yang sadis keluar lagi.

Rahasia Cinta KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang